The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 56



"Lalu, aku harus memanggil apa? Apa aku harus memanggil 'Sayang'?" 


Dena langsung terkejut saat mendengar pertanyaan Rean. Namun, wajahnya langsung merona begitu menyadari pertanyaan itu.


"Ehm, i-itu terserah kamu," lirih Dena. Wajahnya sudah benar-benar memerah. Dia bahkan tidak berani mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Rean.


Rean yang mendengar jawaban Dena pun langsung membulatkan kedua mata dan mulutnya. Dia tidak menyangka jika Dena menyetujui usulnya.


"Benarkah? Aku boleh memanggil 'Sayang'?" Rean tampak antusias.


Dena memberanikan diri mendongakkan kepala dan menatap wajah Rean. Dengan wajah malu-malu, Dena akhirnya menganggukkan kepala.


Melihat persetujuan Dena, Rean langsung melompat dan berteriak-teriak heboh.


"Yes! Yes!" 


Dena yang melihat hal itu menjadi semakin malu. Ternyata, sebahagia itu Rean dengan perubahan nama panggilan.


Menyadari tingkah konyolnya, Rean berhenti bertingkah. Dia kembali menatap wajah Dena.


"Yang?"


Dena cukup terkejut saat mendengar panggilan Rean. Dengan wajah malu-malu, dia mengangkat wajahnya untuk menatap layar ponselnya.


"I-iya."


Sebuah senyuman langsung terbit pada wajah Rean. Dia merasa sangat bahagia sekali. Rasanya, tak akan bosan-bosan dia mengucapkan panggilan tersebut.


"Yang?"


"Iya."


"Sayang?"


"Iya."


"Sayangku?"


Masih dengan wajah malu-malu, Dena menjawab panggilan sang suami. "Iya."


"Sayang?"


"Hhhmmm?"


"Sayang?"


"Iya." Kali ini, Dena sudah mulai kesal. 


"Yang?"


Bukannya menjawab panggilan Rean, Dena langsung mendelik tajam. "Sekali lagi kamu panggil-panggil nggak jelas begitu, aku pastikan akan menutup teleponnya." Dena menampilkan wajah kesalnya.


"Eh, jangan. Aku masih belum puas, Yang."


Dena masih mencebikkan bibirnya. Namun, mau tidak mau dia tetap melanjutkan panggilan tersebut.


"Kamu sudah makan malam?" Tanya Rean.


"Belum," jawab Dena sambil menggelengkan kepala.


"Kenapa?"


"Ehm, nggak naf*su makan."


"Eh, kalau ku cium, kira-kira naf*su nggak?" Rean masih sempat-sempatnya menggoda Dena sambil tersenyum. Jangan lupakan alisnya yang naik turun.


Sontak saja kedua bola mata Dena langsung mendelik tajam. Dia benar-benar kesal saat mengetahui sifat jahil sang suami sudah kembali.


"Jangan suka aneh, aneh." Bibir Dena masih mencebik karena kesal.


Melihat hal itu, Rean langsung tergelak. Dia menggeleng-gelengkan kepala.


"Baiklah, baiklah. Sekarang, makan dulu. Cuci muka dulu dan bersihkan wajahnya. Setelah itu, segera istirahat." Rean menatap Dena dengan tatapan lembutnya.


Mendapat perhatian dari sang suami, Dena merasa ada desiran hangat pada hatinya. Dia segera menganggukkan kepala dan tersenyum.


"Iya."


"Baiklah. Selamat malam, Sayang." Rean menatap lembut sang istri dengan senyuman khasnya. 


"Selamat malam, Mas."


Setelah itu, panggilan telepon terputus. Rean tak bisa menghilangkan senyumannya. Sepertinya, sepanjang malam dia akan tetap tersenyum.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Dena. Dia sama sekali tidak bisa menghentikan senyuman yang tersungging di bibirnya. 


"Aahh, kenapa aku jadi seperti ini," ucap Dena sambil menepuk-nepuk kedua pipinya. Dia benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda kali ini.


Setelah itu, Dena segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Dia juga segera menuju dapur untuk mengisi perutnya. Seharian tadi, Dena benar-benar tidak makan dengan benar.


Mulai malam itu, kehidupan Dena dan Rean sudah mulai berubah. Mereka sudah mulai bisa membuka diri untuk saling menerima kehadiran masing-masing.


Keesokan pagi, Rean sudah bangun. Dia segera membersihkan diri dan mulai untuk mempersiapkan perbaikan distronya. Rean berencana untuk segera menyelesaikan perbaikan distronya agar cepat selesai. Dia berharap perbaikan distronya akan selesai sebelum jadwal masuk perkuliahannya.


\=\=\=


Sambil nunggu up, bisa mampir di cerita baru othor 'Mendadak Istri 2'