
El buru-buru mengambil kaos dan boxer yang diberikan oleh Fara. Dia segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus berganti baju.
"Hhhh, dasar mommy seenaknya saja. Tidak tahu apa anaknya akan susah tidur nanti." Gerutu El di dalam kamar mandi.
Dia menunduk dan memandangi sesuatu yang sudah melambai-lambai di bawah sana. El menghembuskan napas beratnya sambil mengguyur tubuhnya di bawah shower.
Sementara itu, Fara segera merebahkan diri di atas tempat tidur. Tubuhnya yang sudah merasa lelah minta segera di istirahatkan. Tanpa menunggu El selesai, Fara segera memejamkan mata. Tak butuh waktu lama, dia sudah terlelap ke alam mimpi.
Setelah menyelesaikan aktivitasnya, El segera mengganti baju dan keluar dari kamar mandi. Dia melihat Fara yang sudah bergelung di dalam selimut. Rupanya sang istri sudah terlelap. Hingga guncangan tempat tidur yang terjadi karena El merangkak naik ke atasnya pun tidak membangunkan Fara. Tak butuh waktu lama bagi El untuk menyusul Fara ke alam mimpi.
Pukul 02.30, Fara terbangun karena alarm yang sudah di setelnya. Fara segera beranjak untuk menyiapkan makan sahur. Dia menoleh menatap sang suami yang masih terlelap tidur di sampingnya. Fara merapikan selimut El, setelahnya dia segera mengganti bajunya dan langsung beranjak menuju dapur.
"Maaf aku telat bangun, Mom." Kata Fara saat mendapati sang mommy dan asisten rumah tangga sudah mulai menyiapkan sahur.
"Nggak apa-apa, Sayang. Ini juga hanya buat perkedel dan sambal terasi. Kamu bantu bibi buat sambal goreng ati, ya. El sangat suka sambal goreng ati untuk sahur." Kata mommy Vanya.
Fara mengangguk mengiyakan. Dia juga sudah lumayan tahu makanan kesukaan sang suami. Tidak sampai satu jam kemudian, mereka sudah selesai menyiapkan sahur. Mommy Vanya dan Fara segera pergi ke kamar masing-masing untuk membangunkan para laki-laki.
"Mas, ayo bangun. Waktunya sahur ini, sudah hampir jam setengah empat." Kata Fara.
"Hhhmmm, sebentar lagi." Jawab El. Dia masih menutup mata sambil menarik kembali selimutnya.
"Keburu habis waktunya, Mas. Ayo bangun ih." Kata Fara sambil masih menggoyang-goyangkan lengan El.
"Sebentar." Gumam El.
Fara yang sudah merasa kehilangan akal untuk membangunkan sang suami pun berusaha memberanikan untuk melakukan sesuatu yang dirasa akan bisa membangunkan sang suami. Fara mendekatkan wajahnya pada wajah El. Bibir sang suami yang tengah tertutup tersebut menjadi tujuannya.
Fara mendekati bibir El dan menempelkan bibirnya di sana. Dia memang belum melakukannya lebih dulu. Fara mengingat-ingat apa yang dilakukan sang suami kemarin malam. Fara mulai menggerakkan bibirnya, dia mulai me*lu*mat, men*de*sak, dan me*nye*sap benda kenyal tersebut dengan lembut.
El yang awalnya tidur pun langsung tersadar dan membuka matanya. Dia merasakan perlakuan Fara pada bibirnya. Lama kelamaan, dia ikut terhanyut dengan apa yang dilakukan sang istri. El membalas apa yang dilakukan Fara. Kedua tangan Fara bahkan sudah nangkring di leher sang suami. Tangan kanan El menekan tengkuk Fara, sedangkan tangan kirinya sudah mulai mencari jelly alami Fara.
Cukup lama mereka berbagi saliva, hingga sebuah suara mengagetkan aktivitas mereka.
"Astaga! Masih belum cukup apa semalam hingga sekarang masih mau nambah?" Kata mommy Vanya yang tiba-tiba sudah berada di depan pintu kamar dengan daddy Kenzo yang berdiri di belakangnya.
Pintu kamar yang terbuka membuat aktivitas mereka menjadi tontonan gratis oleh kedua orang tua. Seketika El dan Fara melepaskan pagutan mereka. Keduanya langsung merasa kikuk sambil membenahi penampilan. Fara merasa sangat malu saat aktivitas mereka dipergoki oleh kedua mertuanya.
"Sudah, biarkan saja Yang. Seperti tidak pernah muda saja. Dulu kamu kan juga seperti itu, tidak pernah membiarkan aku diam." Kata daddy Kenzo.
"Oh, jadi kamu menyesal, Mas?!" Tanya mommy Vanya sambil menatap wajah daddy.
"Eh, eh tidak, Yang. Mana ada menyesal untuk hal seperti itu. Yang ada juga nagih i." Jawab daddy Kenzo sambil tersenyum nyengir.
Sementara di dalam kamar, Fara terlihat masih merasa malu kepada sang suami. El yang menyadari hal itu tersenyum.
"Sudah, nggak usah malu begitu. Aku suka gaya kamu membangunkanku tidur." Kata El sambil berdiri dan berbisik pada telinga Fara.
Sekujur tubuh Fara langsung meremang saat El melakukan hal tersebut. Dia buru-buru mendorong tubuh El san segera berlari keluar kamar dengan wajah yang masih merah karena malu. Setelahnya, mereka melakukan sahur pertama bersama-sama.
Siang itu, El sudah berjanji untuk menemui Zee di kantor daddynya. Pukul sepuluh pagi dia baru saja tiba di kantor tersebut. El langsung menuju lobby dan menanyakan keberadaan Zee. El diminta untuk langsung menuju lantai lima belas, tempat dimana ruangan daddynya Zee berada.
Sesampainya di lantai lima belas, El langsung berhadapan dengan seorang laki-laki yang berusia hampir seusia daddynya Zee.
"Selamat pagi, mas El. Mencari mas Zee?" Tanya pak Doni, sekretaris daddynya Zee.
"Iya, Pak. Zee nya ada?" Tanya El.
"Masih bertemu dengan klien dengan daddynya. Silahkan menunggu di dalam." Kata pak Doni.
"Ehm, saya menunggu di sana saja, Pak." Jawab El sambil menunjuk sebuah tempat terbuka dengan banyak dipenuhi rak buku.
"Oh, silahkan kalau begitu. Mau minum apa, Mas? Sekalian saya pesankan."
"Tidak usah repot-repot, Pak. Nanti saja."
Setelahnya, El berjalan menuju tempat yang dimaksud. Sekitar tiga puluh menit kemudian, terdengar suara Zee mengagetkan aktivitas membaca El.
"Lhah, kenapa lo sudah datang jam segini? Ngebet banget mau tahu resep rahasia huh hah huh hah."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mumpung sudah dapat jatah Vote, othor minta bantuan votenya ya. Terima kasih untuk yang sudah sabar menunggu.