The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 57



Keesokan harinya, Shanum bangun lebih dulu dari Cello. Kali ini, dia benar-benar bisa merasakan apa yang sering diceritakan pada novel-novel online setelah mengalami malam pertama. Ya, Shanum merasakan bagian bawahnya benar-benar sakit. Meskipun begitu, dia tetap berusaha berjalan ke kamar mandi meskipun dengan pelan. 


Shanum segera berendam dengan air hangat. Hal itu benar-benar bisa membuat tubuhnya rileks. Cukup lama Shanum berendam di sana, hingga dia tidan menyadari keberadaan sang suami yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.


"Eh, sudah bangun, Mas?"


Cello hanya bisa mengerucutkan bibir sambil menatap wajah Shanum dengan wajah bantalnya.


"Kenapa nggak bangunin tadi?"


"Maaf, Mas. Tadi mas Cello tidurnya pules banget. Aku jadi nggak tega banguninnya."


Cello hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Setelahnya, dia segera melucuti kaos dan celana pendek yang dipakainya. Tanpa rasa malu, Cello langsung ikut bergabung dengan Shanum untuk berendam.


Melihat tingkah sang suami, wajah Shanum langsung memerah. Dia memalingkan wajahnya ke samping untuk menghindari tatapan mata Cello.


"Aiisshh, apaan sih, Mas. Ngapain ikut nyebur kesini. Sempit tau." Gerutu Shanum saat Cello sudah mulai merendam tubuhnya di dalam sana.


"Sebesar ini kamu bilang sempit? Yang benar saja." 


Kali ini, Shanum dan Cello duduk berhadapan. Mereka saling memainkan busa yang ada di permukaan air tersebut. Berendam air hangat memang benar-benar bisa membuat tubuh dan pikiran terasa rileks. Namun, hal itu tidak berlaku jika ada tangan-tangan jahil yang ikut berpartisipasi di dalamnya.


Shanum yang merasakan ada pergerakan tangan yang mulai menyusuri kakinya merasa semakin meremang. Belum lagi, saat tangan jahil itu mulai naik ke bagian kaki atasnya. Mendadak tubuhnya langsung menegang.


"Mas, apa sih yang kamu lakukan? Kamu mau apa?" Tanya Shanum sambil menangkap tangan Cello di bawah sana.


"Aku ingin memeriksa sesuatu, Yang. Aku ingin memastikan tidak ada yang lecet lagi di 'situ'," kata Cello sambil menunjukkan maksudnya dengan tatapan mata.


Seketika Shanum mempoutkan bibirnya setelah mendengar perkataan Cello.


"Mana ada periksa gituan sambil tangannya jelajah begini, Mas. Kamu ingin memeriksa apa sebenarnya?" Gerutu Shanum.


"Ya, semuanya sih. Siapa tahu di tempat lain ada yang lecet." Jawab Cello seolah tanpa dosa.


Alhasil, dengan posisi seperti itu, ada senggolan yang terjadi di dalam air tersebut. Selanjutnya, yang terjadi benar seperti yang reader pikirkan, kalau othor mah nggak ngerti.


Pagi itu, setelah sarapan yang sangat terlambat, Cello bersiap ke kampus. Dia ada kuliah pada jam ketiga. Sementara Shanum, dia ada kuliah jam keempat dan kelima, jadi dia akan berangkat agak siang.


"Yakin nggak mau di jemput nanti?" Tanya Cello setelah menyelesaikan sarapannya. Dia sudah bersiap dengan tas kuliahnya.


"Nggak usah, Mas. Aku masih bisa berangkat sendiri, kok."


"Yakin sudah nggak sakit?" Tanya Cello. Pasalnya, dia merasa sedikit kasihan dengan Shanum. Dilihat dari cara jalan Shanum saja, Cello bisa memastikan bagian bawah sang istri masih terasa sakit.


"Ya masih sakit, sih. Siapa juga yang minta nambah-nambah terus tadi pagi." Gerutu Shanum.


Cello yang mendengar gerutuan sang istri langsung merasa tidak enak. Dia hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tersenyum nyengir.


"Hehehe, maaf Yang. Habisnya, baru ngerasain nikmatnya buka puasa."


"Jika ada buka puasa, berarti ada sahur dong?"


"Pasti lah. Aku menunggu untuk sahurnya lagi." Jawab Cello sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Shanum.


"Lhah, tadi pagi kan sudah sahur. Berarti sudah nggak ada lagi, kan?"


"Lhah,"


•••


Jangan lupa kasih dukungan buat othor ya.


Berhubung sudah ada jatah vote, klik vote pada dagian paling kanan bawah. Terima kasih