The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.46



Tak terasa hari ini sudah sampai pada hari terakhir puasa. Hari Raya Idul Fitri pun sudah di depan mata. Fara dan mommy Vanya pun sudah bersiap-siap untuk menyambut kedatangan hari kemenangan esok hari.


"Mas, tolong ambil pesanan kue." Kata mommy Vanya sambil menghampiri daddy Kenzo yang sedang mencuci mobil bersama dengan El. 


Ya, meskipun daddy Kenzo dan El bisa meminta bantuan supir untuk mencuci mobil, namun hal tersebut jarang mereka lakukan kecuali pada hari-hari kerja atau sibuk. Mereka lebih memilih untuk mengerjakannya sendiri. Selain untuk mengurangi kejenuhan, mereka lebih banyak berdiskusi dan ngobrol tentang banyak hal.


"Kenapa harus aku sih, Yang?" Gerutu daddy Kenzo.


"Semua sudah mudik lebaran, Mas. Nanti kamu ambil pesanan kue, sedangkan El ambil peralatan dapur untuk memasak di rumah Oma."


"Aku juga, Mom?"


"Iya, El. Masa iya kamu tega meminta istri kamu membawa peralatan masak segitu banyaknya. Sudah buruan, keburu dipakai." Kata mommy Vanya sambil beranjak kembali ke dalam rumah.


Daddy Kenzo dan El hanya bisa pasrah saat mendapati tugas dari mommy Vanya. Setelah selesai mencuci kendaraan, daddy Kenzo dan El segera melakukan apa yang diminta oleh mommy Vanya. Menjelang siang, mereka sudah menyelesaikan kegiatannya.


Hari itu, buka puasa terakhir bulan Ramadhan. Suara gema takbir sudah mulai menggema di seluruh penjuru masjid dan mushola yang terdapat di sekitar mereka. Suka cita menyambut datangnya hari kemenangan sudah mulai dirasakan.


Keesokan paginya, keluarga daddy Kenzo sudah bersiap untuk melaksanakan sholat Ied di masjid. Namun, hari itu Fara tidak bisa ikut serta bersama mereka. Sejak tiga hari yang lalu, dia sudah kedatangan tamu bulanannya.


Idul Fitri kali ini, merupakan idul fitri pertama bagi Fara dengan status baru. Dirinya sudah menjadi seorang istri dan juga menantu di keluarga Abram. Fara merasa sangat bersyukur mendapatkan keluarga baru yang sangat menyayanginya.


Hari itu, setelah acara maaf-maafan dengan para anggota keluarga, keluarga daddy Kenzo mengadakan open house seperti biasa. Banyak para tetangga yang juga saling berkunjung ke sana.


"Mas, oma Tari nggak jadi pulang lebaran kali ini?" Tanya Fara saat mengambilkan baju ganti untuk sang suami. Ya, setelah acara silaturahmi dengan tetangga seharian tadi, kini mereka sudah bersiap-siap untuk beristirahat.


"Tante Kezia masih membutuhkan support dari Oma. Di usia yang mendekati empat puluh tahun dan sedang hamil muda, akan sangat rentan sekali jika tante Kezia tidak ada yang mengawasi." Jawab El.


Fara mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. El segera berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak berapa lama kemudian, dia sudah selesai dan Fara segera bergantian untuk membersihkan diri juga.


Saat hendak merangkak ke atas tempat tidur, tiba-tiba ponsel El berbunyi. Segera diraihnya benda pipih tersebut dan melihat siapa penelepon malam itu. El segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menghubungkan panggilan.


"Hallo, Zee. Ada apa telepon gue lagi?" Tanya El. Pasalnya, mereka sudah saling bertelepon ria sejak pagi tadi untuk saling bermaaf-maafan.


"Gue baru tiba di Surabaya."Jawab Zee. Ya, saat ini Zee memang tengah berada di Surabaya bersama dengan kedua orang tuanya.


"Iya, nyokap gue nangis terus dari siang, katanya kangen ingin ke makam kakek dan nenek"


"Ya sebisa mungkin dituruti keinginan orang tua selagi kita bisa Zee." Kata El.


"Iya, gue juga berpikir seperti itu. Semua pasti akan gue lakukan selagi bisa. Oh iya, gue menelpon malam-malam begini untuk memberitahu sesuatu."


"Ada apa?"


"Tadi saat gue di bandara Surabaya, gue lihat Revina."


"Eh, Revina? Serius? Ngapain dia di Surabaya."


"Ya mana gue tahu. Sepertinya dia tidak melihatku tadi. Tapi, ada yang lebih mengejutkan, dia tidak sendirian tadi di sana."


"Memangnya dia sama siapa?"


"Revina bersama dengan Bian Atmaja, asisten pimpinan Als Corp, Kaero."


"Hhhaaa?"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Mohon maaf othor kemarin tidak bisa uo. Ada kerjaan yang benar-benar harus dikerjakan dengan segera.