The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 65



"Apaa?!"


Shanum langsung berteriak tertahan. Dia benar-benar tidak menyangka jika sang suami mengatakan hal tersebut.


"Maksudnya apa, Mas? Dosen siapa yang kamu maksud itu?" 


Shanum benar-benar tak habis pikir. Selama ini, dia memang sedikit mewaspadai para mahasiswa yang terlihat sering cari-cari perhatian kepada sang suami. Namun, dia tidak menyangka jika justru yang tidak masuk di daftar listnya adalah dosen Cello.


Cello menghembuskan napas beratnya sebelum menjawab pertanyaan Shanum. Dia sebenarnya tidak mau menceritakan hal itu karena hal itu hanya akan membuat Shanum merasa khawatir.


"Asisten dosen sebenarnya. Dia mahasiswa S2 tingkat akhir."


Kening Shanum kembali berkerut. Dia tentu saja semakin penasaran dan tidak ingin jika ada orang yang mengganggu sang suami.


"Siapa?"


"Danisha."


"Danisha Anjani?"


"Hhhmm. Kamu tahu dia, Yang?" Tanya Cello.


Shanum hanya menganggukkan kepalanya. Ya, Shanum memang mengetahui siapa itu Danisha Anjani. Mahasiswa S2 yang menjadi asisten dosen. Dia cukup terkenal di kalangan mahasiswa karena Danisha juga menjadi selebgram yang lumayan memiliki banyak pengikut. Dia juga sudah mendapatkan endorse beberapa produk kecantikan dan peralatan rumah tangga.


Shanum juga mengetahui jika Danisha ini memiliki wajah yang sangat cantik. Tubuhnya juga sangat bagus. Hampir semua yang melekat pada tubuhnya adalah barang-barang branded. Saat menyadari hal itu, Shanum merasa sangat insecure. Entah mengapa dia merasa benar-benar tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Danisha.


Cello yang menyadari perubahan ekspresi sang istri pun langsung menangkup kedua pipinya. Kedua pasang manik mereka saling mengunci.


"Hei, ada apa?" Tanya Cello.


Shanum hanya menggelengkan kepalanya sambil menyentuh tangan Cello yang berada di pipinya.


"Nggak ada apa-apa, Mas. Aku hanya merasa sedikit insecure." Jawab Shanum dengan wajah sendunya.


Cello langsung membawa Shanum ke dalam pelukannya. Dia mengusap-usap punggung Shanum sambil sesekali memberikan kecupan pada pucuk kepalanya.


"Kamu ngomong apa sih, Yang. Kenapa harus merasa insecure dengan Danisha? Kamu jauh lebih memiliki segala-galanya dari dia."


"Kamu tahu sendiri dia cantik, tubuhnya body goal banget. Lihat juga bagian-bagian tubuhnya yang menonjol banyak banget. Yakin kamu nggak suka?"


Cello menggelengkan kepalanya dengan cepat. Bibirnya juga sedikit mengulas senyuman saat menatap wajah sang istri yang berada tepat di depannya tersebut.


"Enggak. Sama sekali nggak tertarik." Jawab Cello dengan penuh keyakinan.


Lagi-lagi Shanum mencebikkan bibirnya. Tentu saja dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang suami. Laki-laki mana yang tidak tertarik dengan wanita seperti Danisha.


"Mana mungkin kamu nggak tertarik dengannya, Mas. Sudah pasti semua laki-laki akan tertarik dengan wanita seperti Danisha." Gerutu Shanum. 


"Nggak semua laki-laki, Yang. Aku salah satunya. Aku nggak tertarik dengannya. Aku bukan tipe laki-laki yang hanya memandang dari segi fisik saja. Buat apa juga aku mengagumi fisik wanita lain tapi nggak bisa diapa-apain. Mending yang di rumah. Sudah pasti bisa dan mau di apa-apain. Los dol, deh."


"Kamu ini, Mas. Aku lagi serius ih."


Cello terkekeh geli melihat tingkah sang istri.


"Dengar, Yang. Aku minta maaf tidak menceritakan hal ini sejak lama. Sebenarnya, sikap dia yang sudah mulai berbeda itu terjadi sejak semester lalu. Tapi, kamu harus percaya kepadaku jika aku sama sekali tidak menanggapi dan merespon apa yang dilakukannya. Jika kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan kepada Aldi. Dia tahu persis apa yang terjadi."


"Dan juga, kamu juga tahu kan aktivitasku sehari-hari. Mana sempat aku menanggapi tingkah absurd asdos itu. Mending pulang dan main masak-masakkan sama kamu. Hehehe," kata Cello.


"Ccckkk, kamu ini Mas. Buat apa masak-masakkan. Masak beneran jauh lebih berguna."


"Kalau begitu ayo masak sosis, dong. Yang spesial pakai dua telur. Mau ya, ya, ya." Kata Cello sambil menaik turunkan alisnya. Jangan lupakan cengiran yang langsung muncul di bibirnya.


"Enggak."


"Yah, kok gitu sih, Yang."


"Nggak nolak maksudnya. Hahaha."


••


Susulan part semalam ya.