The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 36



"Aku tahu jika kamu tidak punya pacar. Dan, aku akan memberikan sebuah penawaran untuk kamu. Bagaimana?"


Adrian mencondongkan tubuhnya pada Kinan. Dia masih menatap kedua bola mata Kinan lekat-lekat.


Kinan yang mendengar ucapan Adrian, langsung mengerutkan kening. Dia masih belum bisa mencerna maksud ucapan Adrian tersebut.


"Tawaran? Tawaran apa maksud, Om?" Kinan menatap tajam ke arah Adrian.


Seketika, pikiran kotor menghampiri Kinan. Otaknya langsung memikirkan tawaran yang berhubungan dengan aktivitas tempat tidur. Walau bagaimanapun juga, Adrian adalah seorang duda. Kemungkinan besar tawaran yang akan diberikan Adrian, tidak jauh-jauh dari hal itu, pikir Kinan.


"Apa tawaran Om berkaitan dengan aktivitas ranjang? Jangan macam-macam ya, Om. Aku bukan perempuan seperti itu yang bisa seenaknya Om jadikan wanita penghangat ranjang!" Kinan menatap Adrian dengan tatapan nyalang.


Kedua bola mata dan mulut Adrian langsung terbuka. Dia cukup terkejut saat mendengar ucapan Kinan. Adrian tidak habis pikir jika Kinan akan mempunyai pikiran seperti itu.


"Cckkkk. Apa sebenarnya yang ada di otak kamu? Jangan berpikir terlalu jauh. Aku sama sekali tidak tertarik denganmu." Adrian mendengus kesal sambil menatap Kinan dengan tatapan meremehkan.


Melihat ekspresi Adrian, tentu saja Kinan tidak terima. Dia merasa direndahkan dengan tatapan tersebut.


"Memangnya apa yang tidak menarik denganku? Aku kurang apa, hah? Bukannya Om tadi sudah 'mencicipi' bagian tubuhku yang bahenol, hah?!" ucap Kinan berapi-api.


Sontak saja ucapan Kinan tersebut membuat Adrian terkejut. Dia tidak menyangka jika Kinan akan berpikir sampai sejauh itu. Seketika otak Adrian mulai membayangkan peristiwa di dapur tadi. Entah mengapa tangan Adrian masih bisa merasakan benda kenyal yang sempat terpegang oleh tangannya tadi.


Kinan hanya bisa mendengus sambil menatap tajam ke arah Adrian. Dia benar-benar kesal dengan apa yang sedang terjadi saat itu.


Setelah cukup lama dian, Adrian tidak ingin pembahasan hal-hal yang semakin ngelantur, akhirnya kembali bersuara. Kali ini, Adrian ingin menyampaikan tawarannya kepada Kinan.


"Untuk tawaran yang aku sampaikan sebelum ini, akan aku jelaskan. Tapi, aku minta kamu jangan memotong penjelasanku dulu sebelum selesai. Bagaimana?"


Kinan masih mengamati wajah Adrian yang kini berubah menjadi lebih serius. Entah mengapa ekspresi seorang Adrian Hanggara mudah sekali berubah. Kinan yang melihat perubahan ekspresi tersebut, mulai berpikir jika saat itu Adrian memang benar-benar tengah serius. Oleh karena itu, Kinan langsung menganggukkan kepala. Dia menyetujui permintaan Adrian untuk mendengarkan penjelasannya.


"Baiklah. Jika kamu sudah setuju, aku akan mulai menjelaskan tawaranku. Dan, aku yakin tawaran ini tidak hanya menguntungkan ku saja, tapi juga menguntungkan kamu tentunya.


Kinan semakin penasaran. Dia mengerutkan kening sambil menatap dalam-dalam ke arah Adrian. Tampak wajah serius Adrian dengan tatapan tajam yang dilayangkan ke arahnya.


Scroll ya,


Bagi yang belum mampir di cerita Rainer dan Nayra, cuss kepoin cerita mereka. Masih disini kok, bisa cari di profil othor atau cari cerita baru dengan judul "Tetangga Kamar"


Jangan lupa juga tinggalkan jejak yang banyak biar semangat up. Kasih like, komen dan juga sisakan satu vote buat othor. Terima kasih.