The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.68



Malam itu, El benar-benar tidak memberi kesempatan Fara untuk beristirahat. Entah mengapa El sudah merasa candu dengan tubuh sang istri. Fara masih menahan suaranya agar tidak keluar dengan menggigit bibir bawahnya, sementara sang suami terus bekerja keras di bawah sana.


"Maasshhhh, i-ini sam-sampai berapaahh ronde?" Tanya Fara dengan napas tersengal-sengal.


"Sabar, Yang. Baru juga sebentar." Kata El sambil masih terus bergerak-gerak di bawah sana.


Fara langsung membulatkan kedua bola matanya. Bagaimana bisa sang suami mengatakan mereka baru sebentar melakukan pertempuran. Mereka bahkan sudah mempraktekkan bermacam-macam gaya buka pabrik. Fara kembali melirik jam yang ada di dinding kamar tersebut. Lagi-lagi dia dibuat terkejut. Bagaimana tidak, saat ini sudah menjelang pukul tiga dini hari dan mereka juga masih kerja lembur. Entah mereka mendapat bayaran lembur berapa nanti 🤦


Beberapa saat kemudian, El sudah benar-benar menyelesaikan aktivitasnya. Dia langsung ambruk di samping Fara dengan napas ngos-ngosan. Fara, jangan ditanya lagi. Tubuhnya benar-benar sudah tidak bisa digerakkan lagi. 


El yang menyadari hal itu pun langsung memberikan ciuman bertubi-tubi pada wajah Fara. Dia merasa bersalah karena membuat sang istri kelelahan. Setelah beristirahat, El segera menggendong Fara ke kamar mandi. Fara benar-benar kesulitan bergerak. Dia hanya bisa berharap semoga keesokan harinya dia sudah bisa bergerak.


~


Keesokan harinya di Surabaya, Bian dan Revina sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Malang. Mereka berangkat sebelum matahari terbenam. Bian mengendarai mobilnya sendiri. Dia tidak ingin memakai jasa supir, karena Revina meminta mereka berhenti dulu di beberapa tempat.


Menjelang siang, Bian dan Revina sudah tiba di Malang. Mereka langsung menuju villa yang sudah disiapkan oleh Kaero. Bian sudah dua kali mengunjungi Villa yang berada di Batu tersebut. Tentunya, dia datang bersama dengan Kaero. Ada urusan pekerjaan yang mengharuskan mereka menginap di sana beberapa waktu yang lalu.


Bian tidak merasa kesulitan untuk mencari villa tersebut. Hujan gerimis mengiringi perjalanan mereka menuju villa keluarga Kaero. 


"Mas, di sini udaranya dingin, mana hujan lagi, kita ngapain nanti di sini?" Tanya Revina sambil mengedarkan pandangan pada jalanan yang sudah mulai basah di sekitarnya.


"Ngegame di villa." Jawab Bian dengan entengnya.


Seketika Revina menolehkan kepalanya ke arah sang suami yang tengah fokus menyetir tersebut. Bibirnya sedikit tertarik setelah mendengar hal tersebut.


"Live game?" Tanya Revina sambil sedikit menyunggingkan bibirnya.


Bian menoleh menatap Revina sekilas. Dia masih belum mengerti maksud perkataan Revina.


"Live game? Apa itu? Biasanya aku main game online." Jawab Bian.


Revina hanya bisa mendengus kesal mendengar perkataan Bian.


"Bukan game yang itu, tapi game yang kita mainkan sendiri." Jawab Revina.


Seketika Bian tersadar dengan apa yang dimaksud oleh Revina. Bian berusaha mengatur detak jantungnya yang sudah mulai berdenyut dengan cepat. 


"Jangan berpikiran terlalu jauh." Kata Bian.


Revina yang mendengar hal itu hanya bisa mencebikkan bibirnya. Setelahnya, mereka tidak bersuara lagi. Revina sudah mulai mengantuk dan menyandarkan kepalanya pada kaca mobil.


Revina segera beranjak masuk ke dalam villa untuk mengikuti wanita paruh baya tersebut. Wanita itu bernama bi Nur. Beliau akan menunjukkan bagian-bagian villa. Sementara Bian masih berada di teras depan sambil melihat hujan yang turun semakin deras. Dia bahkan tidak menyadari saat Kaero berjalan ke arahnya dan menepuk bahunya dengan pelan. Seketika Bian terkejut dan menoleh.


"Pak Kaero." Sapa Bian sambil menundukkan kepalanya.


"Capek?"


"Lumayan, pak. Apalagi Revina minta mampir ke beberapa tempat."


"Nggak apa-apa. Menyenangkan istri itu bisa mendatangkan kebahagiaan."


Mau tidak mau Bian hanya bisa mengangguk mengiyakan. Namun, fokus Bian sedikit teralihkan dengan pakaian yang saat ini dikenakan oleh Kaero. Ya, Kaero saat itu memang memakai jaket tebal dengan syal yang melilit di lehernya.


"Pak Kaero sakit?" Tanya Bian.


"Eh, sakit? Tidak." Jawab Kaero.


"Lalu, kenapa Anda memakai syal dan jaket tebal?" Tanya Bian.


Kaero menghembuskan napas beratnya sebelum menjawab pertanyaan Bian. Dia melonggarkan syal yang melingkar di lehernya dan segera membukanya. Kedua bola mata Bian langsung membulat dengan sempurna. Jangan lupakan mulutnya yang juga membulat seperti huruf O.


"I-itu, kenapa lehernya, Pak?"


"Ini hasil karya Keyya. Bahkan, di sekujur dada dan bahuku tak luput dari serangannya." Kata Kaero sambil membuka sedikit bagian atas tubuhnya.


"Astagaaaa, Bu Keyya seganas itu?"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Yang penasaran dengan keseruan Kaero dan Keyya beserta keganasannya, bisa mampir di sebelah ya. Terima ksih. 🤗