The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 10



Bisa di skip ya. Meskipun cerita ini hampir sama dengan part di bagian Cello dan Shanum, pasti akan nyempil bagian cerita Rean sendiri, soalnya ini memang menceritakan tentang Rean dan keluarganya (mama Reviva dan papa Bian)


***


Rean dan Shanum tidak menyadari jika ada yang memperhatikan mereka beberapa saat yang lalu. Hingga beberapa saat kemudian, Cello terlihat datang. Cello dan Rean, langsung membantu Shanum kembali ke ruang persalinan.


Mereka segera membantu Shanum untuk pindah ke atas brankar yang telah disiapkan. Namun, saat Shanum hendak berdiri, ternyata air ketubannya sudah pecah. Rean yang melihat hal itu menjadi semakin panik.


"Kak, a-apa itu. Kok ada cairan?" Tanyanya dengan sedikit berteriak. Dia benar-benar kalut dan panik.


"Ah, air ketubannya sudah pecah ternyata," kata dokter Risma yang sudah berada di sana.


"A-apa?!"


Entah mengapa yang ada di bayangan Rean saat itu adalah proses berdarah-darah seorang ibu yang hendak melahirkan. Dia membayangkan kakaknya akan berteriak-teriak dengan peluh di pelipisnya.


Bayangan kejadian masa lalu langsung berputar-putar di kepalanya. Ya, Rean mempunyai trauma dengan darah. Saat itu, Rean sudah duduk di kelas tiga sekolah dasar. Dia berjalan pulang dengan temannya yang memang rumah mereka berdekatan. Sekolah Rean, berada di belakang komplek perumahannya, hanya saja jalannya harus memutar.


Saat itu, Rean dan temannya mendengar suara bising kendaraan dari arah belakang. Suara motor dengan knalpot besar tersebut terlihat memekakkan telinga. Suara sirine mobil polisi juga terdengar bersahut-sahutan.


Rean dan temannya berhenti di tepi jalan dan menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya mereka saat ada sebuah motor dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba oleng dan menabrak pohon asem tepan di depan Rean dan temannya yang hanya berjarak sekitar dua meter. Naasnya, di samping pohon tersebut ada sebuah tugu perbatasan dengan hiasan bambu runcing.


Seketika kepala pengendara motor tersebut menabrak hiasan tersebut sementara motornya menabrak pohon. Darah si korban langsung muncrat hingga mengenai tubuh Rean dan temannya. Sejak saat itu, Rean sangat trauma dengan darah yang banyak.


Entah mengapa Rean mendadak merasakan kepalanya berkunang-kunang. Pandangan matanya juga mulai memudar. Tarikan napasnya juga mulai tersengal-sengal. Hingga tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Dan, bruukkk. Rean langsung ambruk di atas lantai. Dia pingsan.


Rean langsung dilarikan ke IGD. Selama beberapa saat kemudian, dia tidak sadarkan diri. Rean juga tidak tahu jika sang kakak sudah melahirkan.


Beberapa saat kemudian, Rean merasakan kesadarannya sudah mulai kembali. Namun, kepalanya masih terasa sedikit berkunang-kunang. Rean terlihat berat untuk membuka kedua bola matanya. Namun, saat mendengar sebuah suara, mau tidak mau Rean membuka kedia matanya.


"Masa lihat kakak kamu mau lahiran malah pingsan sih, Re?" Kata papa Bian begitu sudah berada di dekat sang putra.


Seketika Rean membuka kedua matanya dan mendongakkan kepalanya untuk melihat sang papa.


Papa Bian hanya bisa mencebikkan bibirnya. Setelah itu, Rean sudah diperbolehkan untuk keluar dari igd. Papa Bian membantu sang putra untuk berjalan keluar. Pada saat bersamaan, terlihat mama Revina sudah kembali dari ruang bayi dan melihat mereka berdua. Mama Revina cukup terkejut melihat Rean dibantu oleh sang papa ketika berjalan.


"Lho, kamu kenapa Re?" Tanya mama Revina sambil menatap ke arah Rean dan sang suami bergantian.


Rean hanya bisa menghembuskan napas berat saat menyadari sang mama berada di sana. Sudah pasti dia akan dibuli lagi oleh mamanya tersebut.


"Dia baru saja pingsan karena nggak kuat melihat kakaknya mau melahirkan," kali ini papa Bian yang menjawab pertanyaan mama Revina.


"Astaga! Masih saja belum sembuh juga itu trauma. Bagaimana nanti jika kamu buka segelan Re, bisa-bisa balik kanan jika kamu melihat istri kamu kesakitan," kata mama Revina.


Tuh kan, benar, batin Rean.


Rean hanya bisa mengerucutkan bibirnya setelah mendengar perkataan sang mama. Bisa-bisanya mamanya mengatakan hal itu disaat dirinya sedang merasa tak baik-baik saja seperti itu.


"Memangnya kesakitan kenapa? Katanya rasanya enak sampai nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata?" Tanya Rean sambil berjalan ke arah kursi tunggu yang ditempati Cello.


"Iya jika sudah berkali-kali. Tapi jika masih awal, rasanya ya pasti nggak nyaman, sakit."


"Kenapa?"


"Ya bayangkan saja sendiri, suntikan sebesar dan sepanjang itu membobol tempat sempit yang masih rapet, rasanya pasti sakit, Re!" Gerutu mama Revina.


"Suntikannya kan tumpul, Ma."


"Halah embuh, Re. Mas, segera nikahkan anak kamu ini. Lama-lama aku jadi pusing sendiri. Heran deh, kamu ini menuruni sifat siapa sih?!"


Lagi-lagi Rean hanya bisa menghembuskan napas kesal.


\=\=\=


Bisa di skip ya.