
"Kamu mau kemana, El?" Tanya daddy Kenzo saat melihat El tengah berjalan menuju lift.
El menoleh menatap wajah sang daddy dan om Reyhan yang berjalan ke arahnya.
"Pulang, Dad. Ini kan sudah jadwalnya pulang." Jawab El.
"Jangan pulang dulu. Ikut Daddy bertemu pak Ken. Nanti Zee juga akan ikut."
"Kenapa aku harus ikut?" Tanya El memprotes keinginan sang daddy. Pasalnya, dia sudah sangat ingin pulang. El benar-benar ingin segera bertemu dengan sang istri.
"Kita akan membahas proyek kerjasama dengan pak Ken. Selanjutnya, kamu yang harus menghandle proyek tersebut. Nanti om Reyhan yang akan membantumu."
"Aku kan masih perlu belajar, Dad. Masa iya langsung pegang proyek begitu." Gerutu El.
"Sudah Daddy bilang kan, nanti akan dibantu om Reyhan. Lagipula, nanti Zee juga akan ikut terjun langsung. Kalian bisa saling kerjasama nanti. Learning by doing itu bagus, El." Kata daddy Kenzo sambil masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.
El hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Meskipun begitu, dia hanya bisa mengikuti keinginan sang daddy. Mereka akan bertemu dengan Ken dan Zee di kantor GC.
Hujan masih turun saat El mengendarai mobilnya menuju GC. Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di kantor utama GC.
"Ini sudah hampir pukul empat, Dad. Kenapa tidak besok saja, sih." El masih memprotes sang daddy saat berjalan menuju ruangan meeting.
"Pak Ken besok harus ke luar negeri. Tidak akan lama, kok. Hanya ada sesuatu yang harus dibahas langsung." Jawab daddy Kenzo.
Saat mereka baru sampai di lantai enam belas, El bertemu dengan Zee yang kebetulan baru keluar dari sebuah ruangan.
"Lo, ikut juga El?" Tanya Zee.
"Daddy paksa gue ikut." Jawab El sambil mendengus kesal.
"Ya memang harus begitu. Lo itu memang tipe orang yang harus dipaksa untuk melakukan sesuatu. Jika tidak dipaksa, pasti lo akan diam anteng-anteng wae."
"Si*alan lo." Ketus El.
"Hahahaha." Zee langsung tertawa setelah melihat El yang tengah kesal tersebut. Masih dengan tawa yang tertahan, dia kembali menggoda El. "Bagaimana, sudah berani mendaki bukit dan menjelajah lembah? Pasti belum. Lo kan nggak punya inisiatif." Cibir Zee.
"Sembarangan. Gue sudah berhasil jebol benteng pertahanan, ya. Enak saja." Kata El sedikit lebih keras.
"Eheeemm." Suara daddy Kenzo menyadarkan mereka agar tidak berhenti bercanda dan saling menggoda.
Seketika Zee dan El langsung menghentikan ocehan absurd mereka sambil tersenyum nyengir.
Daddy Kenzo dan om Reyhan yang melihat perdebatan kedua orang sahabat tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tak berapa lama kemudian mereka sudah berada di ruang meeting. Selanjutnya, pertemuan tersebut segera dimulai.
***
Sementara di tempat lain, Revina tengah mengulurkan tangan kepada bu Halimah.
"Perkenalkan, saya Revina, Bu. Calon istri mas Bian."
Duaaaaarrrrr.
Bukan hanya Bian, bu Halimah dan Nova yang terkejut setelah mendengar perkataan Revina. Revina sendiri pun merasa sangat terkejut saat mulutnya mengucapkan hal itu.
"Apaa?!" Teriak Nova. Dia langsung menatap tajam ke arah Revina. Bian sempat menoleh menatap wajah Nova yang terlihat terkejut. "Kamu jangan sembarangan ngomong. Berani-beraninya mengatakan hal konyol seperti itu!" Lanjut Nova. Dia benar-benar kesal.
Revina hendak menjawab perkataan Nova, namun Bian sudah lebih dulu bersuara.
"Eheemm, benar. Ini adalah Revina, calon istri saya."
Kali ini Revina yang benar-benar terkejut mendengar perkataan Bian. Maksud Revina tadi mengatakan hal itu agar Bian tidak lagi diganggu oleh Nova. Namun, siapa sangka Bian malah mengiyakan perkataannya.
"Bian, kamu tidak serius kan?" Tanya Nova berusaha untuk meyakinkan Bian.
"Saya serius, Nov. Ini memang Revina, calon istri saya. Jika dia bukan calon istri saya, mana mungkin saya akan mengajaknya kemari."
"Nggak! Kamu pasti bohong. Ini pasti akal-akalan kamu kan? Kamu pasti melakukan ini agar aku menjauh darimu. Kamu salah. Aku tidak akan pernah berhenti untuk mendapatkanmu!" Teriak Nova sambil berjalan menghentak-hentakkan kaki menuju dalam rumah.
Bu Halimah yang melihat tingkah Nova menjadi semakin tidak enak kepada Bian. Sedangkan Juna, dia terlihat ketakutan saat melihat tantenya berteriak-teriak.
"Maafkan Nova, Nak Bian. Ibu akan terus berusaha membujuknya. Nak Revi, jangan diambil hati perkataan Nova, ya. Ibu akan terus berusaha untuk menjelaskan kepada Nova." Kata bu Halimah.
"Iya, Bu. Ibu tidak usah khawatir." Jawab Revina. Sedangkan Bian hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Juna, ini Om belikan kue kesukaan kamu. Nanti dimakan, ya." Kata Bian sambil memberikan box kue tersebut kepada Juna.
"Iya, Om. Terima kasih. Nanti akan Juna habisin." Kata anak laki-laki tersebut sambil mengacungkan jari jempolnya kepada Bian.
"Bagus. Anak pintar." Jawab Bian sambil mengusap-usap kepala Juna. "Bu, sudah sore, kami pamit pulang dulu." Lanjut Bian.
"Tidak jadi masuk dulu?"
"Lain kali saja, Bu."
"Baiklah. Sekali lagi ibu minta maaf dengan sikap Nova."
"Iya, Bu. Kami pamit dulu." Jawab Bian sambil mengulurkan tangan kepada bu Halimah. Revina pun melakukan hal yang sama. Setelahnya, mereka juga berpamitan kepada Juna.
"Kami permisi dulu Bu, wassalamualaikum." Pamit Bian.
"Waalaikumsalam. Hati-hati, Nak."
Setelahnya, Bian dan Revina saling berbagi payung dan kembali ke mobil. Hujan masih turun cukup deras sore itu. Bian langsung menyalakan mobilnya dan menjalankannya menuju rumah Revina.
Revina melirik Bian yang tengah fokus menyetir. Dia merasa tidak enak saat itu.
"Ehm, saya minta maaf atas kelancangan saya tadi, Pak. Saya tidak ada maksud apa-apa. Sa…." Belum sempat Revina menyelesaikan perkataannya, Bian sudah memotongnya.
"Kamu suka sama saya?"
"Iya, eh."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa kasih vote untuk Revi dan Bian. Biar othor semangat ngetik dan khilaf upnya. 🤭