The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 30



"Hallo?"


"Hallo, Kin. Bisa minta tolong?" tanya sebuah suara di seberang sana.


"Ada apa, Den? Apa ada masalah dengan kandungan kamu?" 


Ya, yang sedang menelepon  Kinan saat itu adalah Dena, sang sahabat.


"Enggak, nggak ada apa-apa, kok. Aku hanya minta tolong kirim data mahasiswa di kelas A2."


"Eh, A2? Untuk apa? Memang kamu jadi ikut seminar?" tanya Kinan bingung.


"Nggak, lah. Mana mungkin aku ikut seminar. Rean pasti bakalan ngamuk nanti." Terdengar suara mendengus kesal dari seberang sana.


Kinan yang mendengar jawaban Dena pun langsung terkekeh. Dia bisa membayangkan seberapa marahnya suami brondong sahabatnya tersebut jika Dena sampai ikut seminar yang diadakan di Bandung selama tiga hari tersebut.


Bukan karena apa-apa, suami Dena tersebut pasti akan mengkhawatirkan kandungan sang istri yang baru memasuki bulan ketiga tersebut.


"Iya, aku tahu. Rean pasti akan sangat heboh nanti." Lagi-lagi Kinan hanya bisa terkekeh.


"Kamu benar." Helaan napas berat kembali didengar oleh Kinan. "Jadi, bisa minta tolong kirimkan data mahasiswa, kan?" tanya Dena kembali.


"Bisa. Setelah ini, aku akan langsung kirimkan data mahasiswa A2."


"Thanks, Kin."


"Sama-sama. Ingat, jangan terlalu banyak beraktivitas. Jaga kandungan dan pola makan. Jauhi makanan pedas."


"Iya, bawel. Jangan ikutan Rean, ih."


Kinan bisa membayangkan wajah Dena yang sedang kesal sambil mengerucutkan bibir di seberang sana. Kinan hanya bisa terkekeh mendengar suara kesal sang sahabat.


"Biarin. Itu kan semua demi bumil."


"Oke."


Setelah itu, panggilan telepon tersebut terputus. Tanpa mandi terlebih dahulu, Kinan segera membuka laptop dan mencari file yang berisi data mahasiswa yang diminta oleh Kinan. Begitu ketemu, Kinan segera mengirimkan data tersebut. Kinan tahu jika jadwal Dena hari ini jam kedua. Itulah mengapa dia merasa harus segera mengirimkan data tersebut.


Setelah selesai, Kinan bergegas untuk membersihkan diri. Pagi itu, Kinan berniat untuk merapikan rumah sedikit karena nanti siang dia sudah berjanji untuk makan siang dengan Adrian. 


Kemungkinan besar, siang itu Adrian akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dan, Kinan juga akan menyampaikan jika dia tidak mau terlibat dengan kehidupan laki-laki tersebut. Hhmm, memang bisa?


Setelah selesai mandi, Kinan berniat untuk membuat sarapan. Namun, suara penjual bubur ayam pagi itu sudah terdengar. Kinan memutuskan untuk sarapan bubur ayam dari pada harus memasak. 


Tak perlu waktu lama, Kinan sudah selesai sarapan. Dia segera merapikan ruang tamu, dan meja makan. Kinan menyapu, mengepel, dan membersihkan perabot yang tampak kotor. Dia tidak ingin memberikan kesan buruk untuk orang yang akan datang nanti. Ciiee, yang mau semuanya terlihat perfect, nih si Kinan.


Belum juga pukul 08.30, Kinan sudah selesai membersihkan ruang tamu dan ruang makan. Kini, giliran Kinan memasak makan siang. Dia berencana untuk membuat ayam rica-rica, udang goreng, bakwan jagung, oseng-oseng pepaya muda, sambal, dan sayur asem.


Beruntung Kinan sudah terbiasa memasak makanannya sendiri. Tinggal sendiri di Jakarta, membuat Kinan cukup mahir mengolah bahan makanan menjadi makanan layak konsumsi.


Setelah cukup lama berada di dapur, Kinan sudah menyelesaikan beberapa masakan. Kini, tinggal memasak ayam rica-rica dan menggoreng bakwan jagung. Kinan juga sudah menata makanan yang sudah siap di atas meja makan. Kinan melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 10.38. 


"Masih cukup waktu lah. Aku bisa menyelesaikan masakan ini, dan setelah itu mandi. Nggak nyaman jika badan lengket begini," ucap Kinan berbicara pada diri sendiri.


Belum sempat Kinan menyalakan kompor untuk menggoreng bakwan jagung, terdengar suara ketukan dari pintu depan. Kinan berpikir itu adalah tetangganya yang biasa memberikan sesuatu, seperti sayuran hasil kebun sendiri.


Kinan segera bergegas menuju pintu depan untuk membukakannya. Ceklek. Kedua bola mata Kinan langsung membulat saat melihat siapa tamu yang baru saja datang.


"Lho, Om?"


\=\=\=


Lhah, sudah datang saja ini si Om.