
Kinan masih menatap ponsel yang kini di genggamnya. Setelah memutuskan panggilan telepon dari sang sahabat, Kinan langsung melanjutkan memasaknya. Baru setelah masakannya selesai, dia berniat menghubungi Adrian.
Namun, niatnya tersebut lagi-lagi di urungkan karena Kinan belum menemukan alasan yang cocok untuk melakukan panggilan video kepada Adrian. Entah mengapa Kinan masih merasa sungkan melakukan hal itu.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Kinan menemukan sebuah ide untuk melakukan panggilan video tersebut. Ya, dia akan beralasan untuk menanyakan pakaian yang akan dipakainya saat menghadiri acara resepsi pernikahan rekan dosennya.
Setidaknya, meskipun hubungan mereka hanya abal-abal, namun Kinan ingin penampilan mereka tidak abal-abal.
Kinan mengetikkan sebuah pesan singkat kepada Adrian sebelum melakukan panggilan video. Dia bertanya akan menggunakan pakaian warna apa untuk acara pesta nanti. Namun, setelah beberapa pesan dikirim, Kinan belum mendapatkan balasan dari Adrian.
Akhirnya, Kinan mencoba menghubungi Adrian beberapa kali. Lagi-lagi tidak ada balasan dari Adrian. Kinan mendadak khawatir. Setelah lebih dari empat kali mencoba menghubungi Adrian dengan panggilan suara, kini Kinan memberanikan diri menghubungi Adrian dengan panggilan video.
Baru pada dering pertama, panggilan video dari Kinan langsung diangkat oleh Adrian. Tentu saja hal itu membuat Kinan panik bukan main. Apalagi, saat ini Kinan bisa melihat dengan jelas tubuh polos Adrian yang masih sedikit basah. Sebuah handuk kecil juga tersampir pada leher Adrian.
Rupanya, Adrian tidak membalas pesan dan mengangkat panggilan Kinan karena dia sedang mandi. Dan, tentu saja pemandangan tubuh Adrian bagian atas yang sedang polos tersebut, membuat air liur Kinan terasa menetes. Dia bahkan langsung melongo tanpa berkedip melihat penampakan tubuh yang liat dan eergghhhh.
Adrian langsung mengerutkan kening saat melihat Kinan yang terdiam terpaku di layar ponselnya. Dia tidak menyadari efek penampilannya akan mencemari mata gadis perawan di seberang sana.
"Ada apa?" tanya Adrian sambil masih menggosok-gosok handuk pada rambutnya untuk mengeringkannya.
Kinan yang masih belum tersadar pun, masih diam membeku sambil menatap perut Adrian yang tampak seksoy tersebut. Dalam hati, Kinan bahkan sempat menghitung ada berapa banyak roti bantal yang di jejer di perut Adrian tersebut. Satu, dua, tiga, ada enam, batin Kinan.
Menyadari jika Kinan masih belum menjawab pertanyaannya, Adrian kembali bersuara. Namun, kali ini dia akan sedikit menggoda Kinan.
"Ada apa menghubungi ku? Jangan bilang jika kamu kangen ingin melihat wajahku, kan?" tanya Adrian sambil sedikit menyunggingkan senyumnya.
"Cckkk. Mana ada yang seperti itu. Nggak ada, ya. Aku nggak kangen. Om kali yang kangen sama aku," ucap Kinan sambil masih sesekali melirik penampilan Adrian.
Adrian bukan tidak menyadari tindakan Kinan. Hanya saja, dia masih belum bisa berganti baju karena rambutnya masih basah.
"Yakin nggak kangen? Usap dulu gih air liurnya yang menetes itu." Adrian sengaja menggoda Kinan.
Mendengar hal itu, Kinan buru-buru mengusap bibirnya. Dan ternyata, dia tidak merasakan apa-apa. Kinan langsung memelototkan kedua bola matanya ke arah Adrian.
"Kamu mengerjaiku, Om?!"
Tawa Adrian langsung menggelegar saat melihat reaksi Kinan. Entah mengapa dia suka sekali melihat ekspresi kesal dari wajah Kinan tersebut.
Setelah berhasil meredakan tawanya, kini Adrian mulai bertanya dengan serius.
"Ada apa menghubungiku?"
Kinan tampak berpikir untuk mengatakan sesuatu. Namun, ketika dia mengingat permintaan Dena, Kinan buru-buru menscreenshot layar ponsel tersebut. Adrian yang melihat tingkah Kinan, hanya bisa mengerutkan kening bingung.
"Kenapa diam? Jadi benar kamu menghubungiku karena kangen?"
\=\=\=
Jangan lupa sisakan satu vote buat kinan dan Adrian ya, biar tambah semangat munculnya. 🤗