The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 49



"Apa maksudnya itu? Uang pemberian apa?"


Rean masih menatap nanar ke arah sang istri. Dia masih tidak mengerti dengan maksud perkataan Dena tersebut. 


"Aku tahu jika orang tua kamu memberikan uang ini kepadamu agar kamu bisa memberikannya padaku sebagai nafkah. Maaf Re, aku tidak bisa menerimanya. Bukan maksud aku menolak pemberian orang tua kamu, tapi aku benar-benar tidak memikirkan hal itu. Aku masih sanggup menafkahi kehidupan kita kedepannya," kata Dena sambil meraih tangan Rean dan memberikan amplop tersebut.


Rean baru menyadari maksud perkataan Dena. Rupanya istrinya tersebut salah paham jika uang yang berada dalam amplop tersebut adalah pemberian dari orang tuanya.


"Aku sama sekali tidak menerima uang dari orang tuaku. Dan uang ini, bukan berasal dari mereka," kata Rean.


Lagi-lagi Dena tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Rean. Dia masih berpikir jika uang tersebut berasal dari orang tua Rean. Selain itu, Dena juga belum tahu jika Rean sudah memiliki usaha sendiri. Setahu Dena, Rean membantu papa Bian sebagai freelancer di kantornya karena dia masih kuliah.


"Sudahlah Re, tidak usah membahas hal itu. Aku mau jika kamu fokus saja pada kuliah kamu. Kamu masih kecil, jangan terlalu memikirkan tanggung jawab sebagai seorang suami," kata Dena.


Rean langsung membulatkan kedua bola matanya. Harga dirinya langsung tersentil saat mendengar perkataan sang istri. Seketika Rean berjalan mendekat ke arah Dena yang sedang berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Rean mendorong tubuh Dena hingga kini posisi mereka saling berhimpitan.


Suara benturan punggung dan daun pintu hingga membuatnya tertutup langsung mengisi pendengaran kedua orang tersebut. Sorot mata tajam yang saling mengunci tersebut benar-benar terasa membekukan satu sama lain.


"Ma-mau apa kamu, Re?!" manik Dena benar-benar membulat saat mendapati Rean menghimpitnya di balik pintu.


"Apa tadi kamu bilang? Aku masih kecil dan masih belum mampu menjalankan kewajiban sebagai seorang suami?" tanya Rean dengan alis terangkat.


"Bu-bukan begitu Re," jawab Dena sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Kamu mau bukti jika aku sanggup menjalankan kewajiban sebagai seorang suami?" tanya Rean masih tak berpindah tempat.


"Mungkin kamu masih menganggapku anak kecil. Tapi, disini aku adalah suamimu. Sudah menjadi kewajibanku untuk memberikan nafkah untukmu. Meskipun aku masih kuliah, aku sudah punya usaha sendiri. Jadi, kamu mau pilih terima uang pemberianku atau, terima benihku?" Tatapan mata tegas tampak pada manik mata Rean.


Glek.


Dena yang baru pertama kali melihat sisi lain dari Rean mendadak blank. Dia sama sekali tidak bisa berpikir dengan jernih. Apalagi, saat itu posisi tubuh mereka benar-benar berhimpitan. Pikiran Dena benar-benar merasa kosong.


Dena mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Hingga beberapa saat kemudian, dia tersadar dengan apa yang dikatakan oleh Rean.


"A-aku pilih uang darimu." Dena menjawab dengan gugup. Entah mengapa jantungnya berdebar tak karuan saat itu.


Rean yang mendengar jawaban Dena langsung menjauhkan tubuhnya. Namun, tatapan tajamnya masih menghujam dalam manik Dena.


"Meskipun usiaku masih jauh di bawahmu, tapi posisiku saat ini adalah suamimu. Sejak aku mengucapkan ijab kabul atas namamu, semua tanggung jawab atas dirimu, sudah jatuh kepundakku."


"Jangan melihat kedewasaan seseorang hanya dari usia. Meskipun aku masih muda, bukan berarti aku tidak mengetahui tanggung jawabku. Ingat itu baik-baik."


Rean langsung beranjak meninggalkan Dena dan masuk ke dalam kamarnya. Sementara Dena, dia masih berdiri mematung di depan pintu kamar sambil memegang amplop yang diberikan Rean dan meremasnya dengan kuat. Hatinya sudah kacau balau. Dia merasa tidak enak hati.


"Sepertinya, aku sudah menyinggung perasaannya."


\=\=\=


Hhmmm, kira-kira diapain si Dena ini nih?