
"Hhaah? Maksudnya?" Bian mengernyitkan keningnya setelah mendengar perkataan kakek.
"Revina. Segera nikahi dia."
"Aseekkk," Kata Revina refleks. Namun, seketika dia langsung menutup mulutnya saat tersadar jika mulutnya telah keceplosan.
Bian dan kakek langsung menoleh untuk menatap Revina. Mendapat tatapan dari Bian dan kakek, Revina langsung beringsut mundur sambil menundukkan kepalanya. Dia benar-benar merasa malu dengan kelemesan mulutnya.
"Apa maksudnya, Kek? Kenapa aku harus menikahi Revina secepat itu?" Protes Bian. Dia merasa ini terlalu berlebihan. Apalagi, dia hanya berpura-pura tengah berpacaran dengan Revina.
"Jika kamu tidak segera menikah dengan Revina, perempuan itu pasti akan berulah lagi." Kata kakek.
Bian yang belum mengetahui ada masalah apa sebenarnya sehingga membuat kakeknya masuk ke rumah sakit, hanya bisa mengerutkan keningnya.
"Maksudnya apa, Kek? Perempuan itu siapa?" Tanya Bian.
"Nova, memangnya siapa lagi perempuan yang berani berbuat nekat untuk hal-hal yang tidak masuk akal."
"Nova? Memangnya apa lagi yang dilakukannya, Kek?" Tany Bian penasaran.
Akhirnya, kakek dan nenek Bian menceritakan apa yang terjadi. Mereka menceritakan jika kakek Bian mendapatkan pesan dari nomor yang tidak dikenal. Namun, mereka yakin jika nomor baru tersebut adalah nomor milik Nova. Bukan hanya sekali ini saja dia melakukan hal seperti itu. Kakek juga menunjukkan gambar yang dikirim kepada Bian.
Bian merasa sangat geram dengan tingkah Nova. Namun, dia bersyukur jika sang kakek tidak mempercayai jika itu adalah dirinya. Kakek hanya terkejut saat melihat hal foto tersebut hingga tidak sadarkan diri.
"Kenapa dia masih saja berbuat seperti ini." Geram Bian.
"Kakek juga tidak tahu. Itulah mengapa Kakek minta kamu segera menikahi Revina. Kakek yakin, jika kamu sudah menikah, perempuan itu pasti tidak akan mengganggumu lagi."
Bian menoleh menatap Revina yang tengah berbinar bahagia. Bohong jika Revina tidak bahagia mendengarnya. Baper nggak? Ya pasti lah. Dia benar-benar sangat bahagia. Walaupun dia diminta untuk menikah saat itu juga, Revina pasti akan menjawab iya, saya bersedia.
"Hhhhh, pernikahan itu tidak main-main, Kek. Mana mungkin aku akan menikah secepat itu. Lagi pula, Revina ini anak tunggal. Mana mau dia menikah buru-buru tanpa persiapan yang matang." Kilah Bian.
"Aku mau kok, Mas." Kata Revina.
Seketika Bian merutuki mulut Revina yang asal ngomong. Bian mengatakan hal itu agar kakeknya menunda keinginannya dan tidak memaksanya untuk segera menikahi Revina. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kakeknya tambah bersemangat meminta Bian untuk segera menikahi Revina.
"Kamu dengar sendiri, kan. Revina mau menikah denganmu. Tidak usah ada pesta dulu. Cukup sah saja. Pak Supri kan penghulu, dia bisa mengurus surat-suratnya nanti. Sekarang, tigas kamu adalah meminta Revina kepada orang tuanya." Kata kakek.
"Ma-maksudnya melamar?!"
"Iya, memangnya apa lagi. Apa kamu mau menikahi anak gadis orang tanpa meminta baik-baik kepada orang tuanya?!" Kata kakek Bian dengan tatapan tajamnya.
Seketika Bian hanya bisa menggelengkan kepala sambil menunduk. Dia benar-benar tidak bisa membantah perkataan kakeknya.
"Baiklah, Kek. Aku akan membicarakan hal ini dengan Revina dulu." Kata Bian mencoba untuk mengulur-ulur waktu.
Bian kembali menghembuskan napas beratnya. Lagi-lagi rencananya dapat ditebak oleh sang kakek. Jelaslah, kakek kan temannya othor, tadi sudah dibisikin sama othor ðŸ¤
"Tidak, Kek." Jawab Bian.
"Kalau begitu, beri kakek nomor telepon orang tua Revina. Biar kakek yang bicara." Pinta kakek.
Bian menoleh sekilas kepada Revina. Revina hanya bisa mengangguk mengiyakan. Setelahnya, Bian mengotak atik ponselnya untuk mencari nomor ponsel papa Reyhan.
Setelah menemukan nomor ponsel papa Reyhan, Bian segera memencet nomor tersebut. Cukup lama panggilan Bian bisa tersambung dengan papa Reyhan.Â
"Hallo."
"Hallo, Pa. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Sudah sampai?"
"Ah iya, Pa. Ini baru sampai. Ehm Pa, ini kakek mau ngomong."
"Oh iya. Berikan ponselnya kepada kakek kamu."
Seketika Bian memberikan ponselnya kepada kakek. Kakek langsung menerimanya dan menempelkan ponsel Bian pada telinganya.
"Hallo, assalamualaikum besan."
"Waalaikumsalam,"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Ada yang sefrekuensi dengan kakek Bian nggak nih?" ðŸ¤
Jangan lupa dukungan untuk othor ya, klik vote, like dan komen. Terima kasih.