
"Cell, Shanum pingsan!"
"Apa?!"
Cello langsung berteriak histeris setelah mendengar perkataan mommy Fara. Dia mendadak panik dan berpikiran yang tidak-tidak.
"Dimana Shanum sekarang, Mom?" Desak Cello sambil berjalan terburu-buru menuju lift.
Cello bahkan melupakan rencana pertemuannya dengan Zee siang nanti. Yang ada dipikirannya sekarang adalah bagaimana keadaan Shanum.
"Di rumah. Kamu cepat pulang."
"Iya, Mom. Aku akan segera pulang."
Tut.
Cello segera mematikan sambungan teleponnya begitu pintu lift terbuka. Dia buru-buru masuk ke dalamnya. Cello terlihat sangat cemas. Dia bahkan lupa tidak berpamitan dengan sang daddy. Beberapa orang yang melihat kepergian Cello yang terburu-buru hanya bisa mengernyitkan kening.
Cello segera mengendarai mobilnya menuju rumah. Sepanjang perjalanan yang ada dipikirannya hanyalah keadaan sang istri. Tadi pagi, Shanum memang terlihat sedikit pucat. Dia juga tidak berselera sarapan. Bahkan, mommy Fara harus membujuk Shanum beberapa kali agar mau sarapan.
Tidak sampai satu jam kemudian, Cello sudah sampai di rumah. Dia memarkirkan mobilnya sembarangan dan bergegas masuk ke dalam rumah. Dia sedikit berlari untuk menuju kamarnya. Namun, langkahnya terhenti saat terdengar suara mommy Fara memanggil namanya.
"Ada apa, Mom? Bagaimana keadaan Shanum?" Tanya Cello panik.
"Shanum sudah siuman. Tadi dia hanya pingsan sebentar."
"Dimana dia sekarang, Mom? Kenapa bisa pingsan?"
"Shanum ada di dalam kamar. Istri kamu kelelahan karena sejak pagi membantu bi Yam di dapur."
"Kenapa tidak dilarang sih, Mom. Shanum kan sudah kelihatan pucat sejak pagi." Gerutu Cello sambil berjalan menuju kamar tidurnya.
"Mommy sudah melarangnya, tapi Shanum kekeh tidak mau istirahat."
Cello hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Dia sudah hafal dengan sifat keras kepala sang istri. Cello segera berjalan menuju kamar tidurnya untuk melihat kondisi sang istri.
Ceklek.
Cello melongokkan kepalanya ke dalam kamar. Dia bisa melihat sang istri tengah duduk bersandar di tempat tidur sambil menonton televisi.
Shanum menoleh ke arah pintu dan langsung tersenyum lebar saat melihat kedatangan Cello. Kedua tangannya bahkan langsung terulur ke arah sang suami.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Cello langsung memeluk tubuh sang istri dan mengusap-usap punggungnya dengan lembut.
"Aku sudah nggak apa-apa kok, Mas. Tadi hanya kecapekan."
"Kenapa bisa sampai kecapekan? Jangan terlalu capek, Yang. Ingat, makan juga jangan telat."
"Iya, iya. Tapi nanti temenin, ya." Kata Shanum sambil melepas pelukannya. Wajah berbinarnya bahkan tidak berkurang sedikit pun.
"Iya. Mau makan sekarang?" Tawar Cello sambil mengusap-usap pipi Shanum.
Shanum segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia menggigiti bibir bawahnya sambil menatap wajah Cello. Sementara Cello yang melihat tingkah sang istri menjadi semakin bingung.
"Ada apa, hhhmm? Kamu ingin apa?"
"Kalau aku ingin kamu, boleh Mas?"
"Eh, ba-bagai… emmpppphhh." Belum sempat Cello menyelesaikan perkataannya, Shanum sudah menarik tengkuknya dan membungkam bibir Cello dengan bibirnya.
Jangan tanyakan lagi aktivitas apa yang akan mereka lakukan. Sudah pasti aktivitas memeras keringat. Hingga menjelang makan siang, mereka baru turun dari kamarnya. Mommy Fara yang melihat hal itu merasa lega sekaligus geram. Lega saat melihat Shanum sudah kembali ceria seperti sedia kala, dan geram karena mommy yakin jika Cello baru saja mengerjai sang istri.
"Istri kamu masih belum fit, Cell. Jangan dipaksa untuk ngecharge dulu." Kata mommy Fara saat melihat putra dan menantunya berjalan mendekati ruang makan.
"Bukan aku yang memaksa, Mom. Tapi Shanum juga kok yang minta." Jawab Cello dengan entengnya.
Mommy Fara hanya mendengus kesal setelah mendengar perkataan sang putra. Sementara Shanum, dia hanya bisa menundukkan kepalanya karena malu.
"Alasan saja. Saking semangatnya kamu sampai melupakan daddy."
Seketika Cello langsung teringat sang daddy. Dia bahkan lupa untuk memberi kabar daddy nya tersebut.
"Aduh, aku lupa, Mom."
"Hhhh, dasar."
"Lalu, sekarang daddy dimana, Mom?" Tanya Cello sambil nyengir kuda.
"Daddy baru menemui om Zee. Dia sedang dalam perjalanan pulang untuk makan siang di rumah."
"Eh, jadi ketemuannya?"
"Jadilah. Mentang-mentang sudah kena lapis legit jadi lupa."
Cello hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.