The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 45



"Kamu kira aku serendah itu, Re?!" Dena menatap nanar ke arah Rean. 


Melihat hal itu, Rean seketika membeku. Dia tidak menyangka jika perkataannya tersebut bisa menyinggung perasaan Dena.


"Ehm, ma-maksudku bukan begitu, Miss."


"Lalu apa? Kamu pikir jika aku dekat dengan laki-laki yang sudah beristri, aku akan dengan mudahnya menyerahkan tubuhku, Re?!"


Rean menggelengkan kepala. Tidak, bukan seperti itu maksudnya. Dia sama sekali tidak meragukan Dena. Hanya saja, dia sedikit tidak percaya dengan Reno. Laki-laki yang sudah beristri, tapi masih bisa mengungkapkan perasaannya kepada wanita lain.


"Bukan begitu, Miss." Rean menggelengkan kepala dengan cepat. Dia sama sekali tidak meragukan sang istri.


"Kamu sama saja dengan laki-laki di luar sana!" Dena langsung berbalik dan hendak menyalakan kompornya kembali untuk melanjutkan kegiatan memasaknya.


Melihat hal itu, Rean langsung berjalan mendekat. Secepat kilat dia memeluk Dena dari belakang.


Grep.


Dena cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Rean. Dia sama sekali tidak menyangka jika Rean berani melakukan hal itu.


"Apa-apaan ini, Re? Lepaskan!"


"Tidak. Aku tidak akan melepaskannya." Rean mendekap tubuh Dena semakin erat. Dia tidak akan melepaskan sebelum mendapatkan maaf dari Dena. "Maafkan aku, Miss. Aku sama sekali tidak meragukanmu. Maafkan aku. Aku hanya merasa cemburu saat mengetahui ada orang lain yang menyukaimu. Maafkan aku, Miss. Maafkan aku."


Dena masih diam tak bergerak. Dia bisa merasakan penyesalan Rean dalam suaranya. Mendadak perasaan kesal dan marah yang rasakan Dena langsung hilang. Dengan gerakan kepalanya, Dena mengangguk. "Iya. Aku memaafkanmu. Tapi ingat, jangan mengulanginya lagi."


Sebuah senyuman terbit dari bibir Rean. Dia semakin mengeratkan pelukannya. "Terima kasih, Miss. Terima kasih banyak. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji akan menanyakan terlebih dahulu sebelum membuat kesimpulan. Aku janji, Miss."


"Aku akan pegang janji kamu, Re."


Dena mengerutkan kening bingung. Dia tidak mengerti maksud perkataan Rean tersebut. Namun, setelah merasakan sesuatu, kedua bola mata Dena langsung membeliak dengan lebar. Dia merasakan sesuatu di balik tubuhnya. 


Rean dengan sengaja menggesekkan sesuatu yang sudah berkembang dan membesar di bagian bawahnya. Dena yang merasa khawatir pun langsung menyikut perut Rean. Seketika Rean melepaskan pelukannya sambil nyengir dan mengusap-usap perutnya.


"Apa-apaan sih kamu, Re? Berani-beraninya melakukan hal itu kepadaku?" Dena mendelik tajam ke arah Rean.


Bukannya takut, Rean malah semakin mendekat ke arah Dena dan memerangkap tubuhnya dengan kedua tangan. Wajah Rean benar-benar sangat dekat dengan wajah Dena.


"Mengapa aku harus nggak berani, Miss? Kita sudah menikah secara sah. Sudah sewajarnya kita melakukan hal ini, kan?" Rean masih menggoda Dena.


Dena bahkan bisa merasakan hembusan napas Rean menerpa wajahnya.


"Jangan mulai ngelunjak ya, Re. Ingat apa kesepakatan kita sebelum pernikahan ini." Dena masih menampilkan ekspresi garangnya.


"Tentu saja aku tidak akan melupakannya, Miss. Tapi, jangan lupakan juga status kita yang sudah menikah. Jika aku mau mencolek sedikit saja, tentu tidak masalah kan?" Rean tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.


"Kau?!" Dena masih mendelik menatap Rean dengan tajam.


Melihat hal itu, Rean tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung mendekatkan wajahnya dan membungkam bibir Dena dengan bibirnya.


Emmpphhhhh. 


\=\=\=


Nyari untung apa nyari buntung nih si Rean?