The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 87



Cello melangkahkan kakinya menuju kamar tidur. Dilihatnya wajah sang istri yang sudah terlelap. Cello berjalan pelan-pelan menuju kamar mandi untuk mencuci kaki dan juga wajahnya. Setelahnya, dia segera mengganti baju dan mengambil obat. Tubuhnya benar-benar merasa tidak nyaman sekali.


Cello langsung merebahkan diri setelah meminum obat. Dia berusaha membuat gerakan seminimal mungkin agar tidur sang istri tidak terusik. Beruntung bagi Cello, Shanun sama sekali tidak bergerak dalam tidurnya. Tak butuh waktu lama bagi Cello untuk bisa langsung terlelap.


Seperti biasa, Shanum bangun saat mendengar adzan Subuh. Dia menoleh dan mendapati sang suami berada di sampingnya. Shanum segera membangunkan Cello dari tidurnya.


Pagi itu, kondisi tubuh Cello sudah lebih baik. Dia merasakan tubuhnya sudah lebih ringan dari semalam. Namun, entah mengapa dia merasa mual-mual. Setelah melaksanakan ibadah Subuh hingga menjelang sarapan, Cello masih saja bolak-balik ke kamar mandi.


Shanum yang melihat hal itu hanya bisa membantu memijat tengkuk sang suami.


"Kamu kenapa sih, Mas? Salah makan apa kemarin?" Tanya Shanum sambil sesekali memijat tengkuk Cello.


"Nggak tahu, Yang. Perasaan aku juga nggak makan yang aneh-aneh.


"Makan mangga mudanya kebanyakan kemarin, Mas. Makanya jangan terlalu banyak, bisa mual-mual begini kan," kata Shanum sambil masih tak menghentikan aktivitas tangannya.


"Iya."


Beruntung bagi Cello, pagi itu dia bisa sarapan dengan lahapnya. Seolah dia melupakan rasa mual pada perutnya tadi.


Setelah sarapan, Cello dan juga daddy El langsung berangkat ke GC. Mereka sudah ada janji untuk menemui papanya Zee, om Vanno. Pagi itu, Cello dan daddy El menggunakan mobil sendiri-sendiri. Daddy El tidak mau jika dia harus ditinggal lagi oleh sang putra seperti kemarin.


Beberapa saat kemudian, Cello dan juga daddy El Sudah sampai di kantor GC. Mereka segera beranjak menuju kantor dimana Zee dan juga papanya sudah menunggu.


"Memangnya siapa lagi yang akan kita temui nanti, Dad?" Tanya Cello sambil berjalan mengiringi langkah kaki daddy el.


"Nanti kamu juga akan mengetahuinya sendiri."


Cello hanya menganggukkan kepalanya. Mereka melanjutkan langkah kakinya menuju ruangan Zee. Di depan ruangan tersebut, mereka disambut ramah oleh sekretaris Zee.


"Silahkan masuk, Pak El. Anda sudah ditunggu oleh pak Zee dan juga pak Vanno." Kata sekretaris tersebut sambil membukakan pintu ruang kerja Zee.


"Terima kasih," jawab daddy El sambil melangkahkan kaki memasuki ruangan kerja Zee.


Seketika kedatangannya disambut oleh dua orang yang tengah duduk berhadapan di ruangan tersebut. Mereka langsung menoleh bersamaan.


"Selamat pagi, Om. Apa kabar?" sapa daddy El sambil mengulurkan tangan ke arah papanya Zee, Vanno.


"Baik, El. Kamu apa kabar?"


"Semua keluarga sehat-sehat, kan? Lama nggak ketemu."


"Alhamdulillah semua baik, Om."


Vanno pun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Setelahnya, dia menolehkan kepalanya ke arah Cello.


"Ini putramu, El?"


"Ah, iya Om. Kenalkan ini Cello. Cell, ayo beri sapaan untuk om Vanno." Kata daddy El.


Seketika Cello langsung meraih tangan Vanno dan mengecupnya sambil memperkenalkan diri.


"Waahh, sepertinya Cello ini seusia You, Zee."


"Hampir, Pa. Selisih dua tahun mereka." Jawab Zee yang baru saja bersuara.


"Oh, begitu. Katanya sudah menikah, sudah pantas punya cucu kamu, El." Kata Vanno sambil tergelak.


"Doakan, Om. Istrinya sedang hamil muda sekarang."


"Alhamdulillah, selamat kalau begitu. Ya seharusnya memang seperti itu, El. Semakin cepat punya momongan semakin baik. Kalau perlu, kasih tip and trick agar bisa segera hamil. Nggak perlu menunda-nunda."


"Dulu, You juga begitu. Satu bulan setelah menikah, sudah langsung isi itu istrinya. Nggak salah memang daddy, papa dan papinya kasih tip and trick. Hahaha."


"Awalnya saja si Zee sempat cemberut tuh, katanya masih muda sudah punya cucu. Eh, sekarang malah merengek minta You memberikan cucu lagi," kata Vanno sambil kembali tergelak.


"Habisnya aku baru punya satu cucu sudah jadi rebutan saja itu anak."


"Salah sendiri punya anak juga cuma satu." Gerutu Vanno.


"Inginnya juga punya banyak anak, Pa. Buatnya saja setiap pagi, siang, sore, malam. Eh, malah nggak jadi-jadi sampai sekarang," dengus Zee.


"Kalau buatnya begitu ya kopyor, Zee. Encer, cuwer."


"Dikira mirip kelapa kali kopyor, Pa."


Wis emboh lah No, Vanno.