
Revina mengekori Bian yang saat itu sudah berjalan menuju kamar tidur. Sementara Keyya dan Kaero juga sudah kembali ke villa mereka.
Ceklek.
Bian membuka pintu kamar. Revina mengikuti Bian masuk ke dalam kamar. Dia segera menutup dan mengunci pintu kamar tersebut. Revina yang sudah berada di depan Bian langsung membantu melepaskan kancing kemeja sang suami.
"Bagaimana pekerjaannya, Mas? Lancar?" Tanya Revina saat jari-jari tangannya sudah lincah membuka kaitan-kaitan kancing kemeja tersebut.
"Hhhmmm. Besok kita harus kembali ke Jakarta."
"Tidak masalah. Lalu, kita akan tinggal dimana, Mas?" Tanya Revina. Kini, dia sudah berhasil membuka seluruh kancing kemeja sang suami. Berhubung rapat dadakan tadi hanya melalui online, Bian hanya memakai kemeja berwarna hitam tanpa memakai kaos dalam. Dia juga hanya memakai celana jeans dan sandal jepit biasa.
Revina benar-benar langsung terpaku saat melihat dada bidang sang suami terpampang nyata di hadapannya. Kedua bola matanya pun tak berkedip saat ujung jari kanannya menelusuri dada bidang tersebut.
Bian yang sudah ikut terpancing hanya bisa menahan napasnya saat mendapati perlakuan sang istri.
"Ssshhh, a-apa yang kamu lakukan, Dek?" Tanya Bian lemah dengan mata terpejam.
Revina yang menyadari sikap pasrah sang suami pun langsung tersenyum smirk. Sebenarnya, Revina masih merasakan sakit di bawah sana. Namun, saat ini dia benar-benar ingin mencoba seperti apa yang dikatakan oleh istri atasannya tersebut.
"Kita kan hanya punya waktu sehari ini berada di villa ini, Mas. Itu pun juga sudah terpotong dengan pekerjaan dadakan kamu tadi. Jadi, bisakah kita juga lembur sekarang?" Kata Revina sambil kembali menggoda sang suami dengan membuat beberapa pola di dada bidangnya.
"Le-lembur apa?" Tanya Bian yang sudah mulai kehilangan fokus.
"Lembur perkenalan ini, dong. Kan belum lengkap tadi." Kata Revina sambil memindahkan tangannya di bagian bawah tubuh Bian.
"Ssshhhh, jangan main-main, Dek. Kamu harus tanggung jawab jika dia ingin bersin nanti." Kata Bian sambil mencegah tangan Revina untuk berbuat lebih.
Revina hanya tersenyum sambil mendekatkan bibirnya pada telinga sang suami.
"Memang itu yang aku inginkan. Aku ingin mencoba jadi joki, Mas. Dan kamu, harus siap jadi kudanya." Bisik Revina sambil meniup telinga Bian.
Seketika sengatan aliran listrik menjalar di sekujur tubuh Bian dengan tegangan yang sudah mulai tinggi di bagian bawah sana. Bian hendak menjawab, namun Revina sudah melucuti ikat pinggang celananya.
"Eh, memangnya ular mendesis." Kata Bian saat Revina sudah mulai melepas satu-satunya penutup tubuhnya.
"Iya. Ular yang bisa berubah ukuran." Jawab Revina dan langsung menyerang sang suami. Selanjutnya, bisa berhalu ria ya. 🤭
~
Dua hari sudah El bekerja di kantor sang daddy. Dia sudah mulai mengetahui tugas dan tanggung jawabnya. Fara, juga sudah mulai ikut mommy Vanya di restoran dan toko kuenya. Hari itu, Fara membantu mommy Vanya di etalase depan.
"Mbak Fara, nggak usah disini, nanti capek." Kata Ismi yang bertugas di sana.
"Nggak apa-apa, Is. Aku senang bisa membantu kok." Jawab Fara.
Karena tidak berhasil membujuk Fara, Ismi membiarkan menantu atasannya tersebut untuk membantu di sana.
Hari itu, adalah hari pertama toko kue mommy Vanya kembali buka setelah libur lebaran kemarin. Pengunjung pada hari itu cukup banyak. Para karyawan juga lumayan sibuk. Fara dengan senang hati juga membantu mereka melayani para pelanggan. Hingga sebuah suara mengagetkan Fara.
"Fara? Kamu bekerja disini?"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Siapa sih itu?