
Hai, apa kabar semua? Mohon maaf baru bisa up sekarang. 🤧
Jadwal kerjaan akhir tahun yang benar-benar menumpuk tidak memungkinkan othor untuk melanjutkan cerita. Sekali lagi, othor minta maaf 🙏
Ini cerita Kinan othor lanjutkan. Tidak akan ada banyak kok, sebentar lagi juga end. Hanya saja, bab-bab yang akan datang, mungkin bisa membuat gregetan 🤧
Sebelum membaca bab ini, ada baiknya jika dibaca ulang beberapa bab di atas agar tidak lupa jalannya cerita. Sekian dulu dari othor, sekali lagi mohon maaf karena sudah lama up.
Happy Reading 🤗
•••
Kinan masih mematut dirinya di depan cermin. Entah mengapa rasa gugup mulai menyerangnya. Padahal, dia sudah meyakinkan diri sejak siang hari untuk apa yang akan dilakukannya malam ini.
Kinan melirik sebuah kasur lantai yang sudah disiapkannya di dalam kamar. Ya, meskipun ukurannya tidak terlalu besar, namun Kiran cukup yakin kasur itu akan cukup untuk dijadikan tempat bergulatnya nanti, eh.
"Hhhfftt. Nggak apa-apa kasurnya sempit. Setidaknya, ranjangnya tidak akan berbunyi jika dilakukan di bawah, kan?" gumam Kinan sambil masih menatap kasur yang sudah digelar di atas lantai kamarnya yang tidak terlalu besar tersebut.
Setelah memastikan penampilannya rapi, Kinan memberanikan diri untuk keluar kamar. Dia bergegas untuk membawakan potongan buah melon untuk Adrian. Ya, setelah menikah, Kinan cukup tahu jika suaminya itu menyukai buah-buahan.
Kinan membawakan potongan buah melon yang sudah disiapkannya sejak tadi. Dengan jantung yang bergemuruh hebat, Kinan berjalan menuju ruang tengah tempat Adrian sedang menonton televisi.
Suara hujan yang masih terdengar nyaring mengenai atap rumah, menandakan derasnya hujan malam itu.
"Buahnya, Mas," ucap Kinan sambil meletakkan mangkuk berisi potongan buah melon tersebut.
"Terima kasih," ucap Adrian.
Kinan mencebikkan bibirnya saat tidak mendapati respon dari sang suami. Kini, dia harus mencari akal agar suaminya itu memperhatikan penampilannya.
Belum sempat Kinan beranjak dari tempatnya, tiba-tiba listrik mati. Sontak saja hal itu membuat Kinan sedikit terpekik kaget.
"Ah, Mas. Listrik mati, nih." Kinan langsung beringsut mendekat ke arah sofa yang ditempati oleh Adrian.
"Aku nyalakan senter hp dulu," ucap Adrian sambil meraba-raba sofa disampingnya. Dia meletakkan ponsel di samping kiri tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, nyala lampu senter dari hp Adrian pun langsung menyinari ruangan tersebut. Kinan dan Adrian bisa melihat satu sama lain dalam keremangan ruangan tersebut.
"Ada lilin?" tanya Adrian sedikit menoleh ke arah Kinan.
"Ah, ada. Itu, di laci dekat televisi, Mas. Arahkan cahaya ke sana biar aku ambilkan," ucap Kinan sambil menunjuk bagian bawah laci rak televisi tersebut.
Adrian hanya bisa menganggukkan kepala sambil mengarahkan cahaya lampu senter ke arah televisi. Awalnya, Adrian tidak terlalu memperhatikan apa yang dipakai oleh Kinan. Namun, saat tubuh Kinan melewati cahaya lampu senter, Adrian langsung membelalakkan kedua bola matanya. Bahkan, mendadak jantungnya berdegup dengan kencang.
Adrian bisa melihat siluet bagian dalam baju tidur yang dipakai oleh Kinan. Bahkan, bagian dalam itu terlihat dengan begitu jelas dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang tersebut.
Belum cukup sampai disitu, ternyata Kinan justru membuat jantung Adrian semakin kebat kebit. Dia membungkuk untuk meletakkan lilin yang sudah dinyalakan di atas meja yang berada di depan Adrian. Sontak saja Adrian langsung bisa melihat isi baju tidur Kinan.
"Pepaya kembar."