
Dan benar saja, selama dua hari ini Kenzo memberikan banyak sekali pekerjaan untuk Reyhan. Kenzo meminta Reyhan untuk memeriksa lokasi pembangunan proyek baru mereka meskipun baru seminggu yang lalu dilakukannya. Kenzo juga meminta Reyhan untuk menghadiri beberapa undangan yang biasanya juga dihadiri oleh beberapa staff mereka.
Yang terakhir, Kenzo meminta Reyhan untuk menemaninya pergi untuk melihat lokasi yang akan dibangun rumah nantinya. Kenzo ingin memiliki rumah yang agak luas dengan halaman sedikit lebih luas. Dia berpikir jika nanti sudah memiliki anak, anak-anaknya dapat bermain di halaman tersebut.
Selama dua hari tersebut, Kenzo benar-benar membuat Reyhan sibuk. Dia pura-pura tidak mengetahui rencana Vanya. Sementara Vanya, dia selalu meneror Reyhan saat malam hari.
Seperti malam itu, Vanya menelepon Reyhan berkali-kali untuk menanyakan sudah sejauh mana usaha Reyhan mencari calon pacar bagi Fida.
"Bagaimana sih, Rey. Kenapa belum dapat?" Tanya Vanya sok dramatis. Padahal aslinya dia hanya senyum-senyum sendiri.
Reyhan bingung sampai menggaruk-garuk kepalanya.
"Ehm, maafkan saya Nona. Dua hari ini pekerjaan saya banyak sekali. Saya belum bisa mulai bekerja." Jawab Reyhan.
"Lalu bagaimana? Waktunya tinggal sehari besok. Aku tidak mau tahu, pokoknya besok kamu harus mendapatkan laki-laki itu saat makan siang." Kata Vanya sambil menahan tawa. Hohoho, aku merasa jahat sekali jadi orang, batin Vanya.
"Baiklah, saya usahakan. Besok weekend, saya akan berusaha mencarikan laki-laki itu." Jawab Reyhan.
"Baguslah, aku tunggu kabar selanjutnya." Ucap Vanya. Setelahnya, tanpa menunggu jawaban dari Reyhan, Vanya menutup panggilan teleponnya.
Setelah benar-benar terputus, Vanya langsung tertawa terpingkal-pingkal membayangkan wajah frustasi Reyhan. Kenzo yang melihat tingkah sang istri pun mengerutkan keningnya.
"Ada apa, sih? Kenapa sampai begitu tertawanya?" Tanya Kenzo.
"Hehehe, selangkah lagi rencanaku menjodohkan Reyhan dan Fida akan berhasil, Mas." Jawab Vanya sambil berusaha untuk duduk. Ya, mereka saat ini tengah berada di atas tempat tidur.
"Apa kamu yakin akan berhasil?" Tanya Kenzo. Dia masih belum yakin dengan perasaan kedua orang tersebut.
"Sangat yakin, Mas. Aku sangat mengenal Fida. Dia pandai sekali menyembunyikan perasaan dan masalah yang dihadapinya." Jawab Vanya sambil menggeser posisi duduknya hingga kini berada di pangkuan sang suami. Vanya dan Kenzo saat ini tengah berhadap-hadapan. "Dengar ya Mas, seharusnya kamu membantu Fida. Berkat Fida, aku bisa mengetahui cara menyenangkan suami. Contohnya, melakukan ini." Lanjut Vanya sambil mulai bergerak maju mundur di atas pangkuan Kenzo yang tengah berselonjor.
Sshhhhhh ssshhhh.
Kenzo hanya bisa mendesis mendapati perlakuan sang istri. Dirinya benar-benar frustasi jika Vanya sudah mulai beraksi seperti itu. Bisa dipastikan, tower alaminya akan langsung tegang maksimal.
Kenzo segera menahan tengkuk Vanya. Segera di dekatkannya wajah itu dan dilu*matnya bibir ranum sang istri hingga Vanya benar-benar merasa kesulitan untuk bernapas.
"Eemppphhh eeuughhhh mmmmhhhhppp sssmmpppphhh, Maassshhh." Racau Vanya sambil memukul-mukul dada sang suami.
Kenzo pun melepaskan pagutan bibirnya pada bibir Vanya.
Huh huh huh hah hah hah
Napas mereka saling bersahut-sahutan seolah berebut untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Aku sudah nggak tahan, Yank. Rasakan ini, rasanya sudah kembang kempis untuk segera dikeluarkan." Kata Kenzo memelas sambil membawa tangan Vanya untuk menyentuh tower alami yang sudah siap tempur. "Ayo, Yank. Atas atau bawah aku mau." Desak Kenzo.
"Kamu itu gampang sekali kesetrum sih, Mas." Kata Vanya sambil berusaha melepaskan tangannya.
"Bagaimana nggak gampang kesetrum, colokannya saja model begini." Jawab Kenzo sambil mulai meraba-raba bagian sensitif Vanya.
"Aauuuhhhh aaargghhhh, nakal kamu Massshhh." Racau Vanya saat mendapat serangan dari Kenzo.
"Eemmmpphhh, mau duduk apa tiduran nih?" Tanya Kenzo dengan tatapan sayunya.
"Eemmppphhh, eeuughhhhh, tiduran ah. Biar nggak capek." Jawab Vanya sambil melepaskan tangan Kenzo.
Namun, saat dia hendak berdiri, dia menghentikan niatnya. Kenzo mengernyitkan keningnya tidak suka.
"Kenapa lagi, mau ganti gaya?" Tanya Kenzo yang sudah tidak sabaran.
"Dasar tidak sabaran." Gerutu Vanya. "Tunggu dulu, besok pagi ajak Reyhan kemana saja asal jangan biarkan dia mendapatkan laki-laki untuk menjadi pacar bayaran Fida. Aku hanya memberikan waktu untuknya sampai jam makan siang." Lanjut Vanya.
"Hhhaaahh, main golf? Mas Kenzo mau main golf dan ditemani para caddy yang cantik-cantik itu? Tidak boleh!" Kata Vanya gusar. Dia sudah membayangkan yang tidak-tidak.
"Aduuhhh, kok jadi bahas itu, sih. Tenang saja, besok aku akan minta caddy nya yang sudah kakek-kakek." Jawab Kenzo asal.
"Mana ada caddy kakek-kakek, yang ada mereka akan terkena encok jika sering membungkuk mengambil bola golf." Gerutu Vanya.
Kenzo yang sudah kesal pun langsung menggeram.
"Sayang, jika kamu terus berbicara, aku benar-benar akan mencari caddy yang cantik-cantik besok." Ancam Kenzo.
Dan benar saja, ancaman Kenzo berhasil. Vanya langsung menarik tubuh Kenzo dan mulai melepas seluruh penutup tubuh sang suami. Kenzo pun tak tinggal diam. Dia juga melakukan hal yang sama kepada Vanya.
Malam itu, terjadi beberapa ronde pertarungan antara Vanya dan Kenzo. Setelah beberapa kali mereka sama-sama kalah, keduanya langsung ambruk karena kelelahan. Menjelang pukul satu dini hari, mereka baru bisa tertidur dengan lelap.
Keesokan harinya, Kenzo benar-benar mengajak Reyhan untuk pergi bermain golf. Beruntung beberapa hari yang lalu Kenzo mendapatkan undangan untuk bermain golf dari beberapa rekan bisnisnya.
Dan, disinilah mereka sekarang. Kenzo dan Reyhan berada di lapangan golf bersama beberapa rekan bisnis mereka. Reyhan terlihat gelisah. Tangan dan matanya tidak pernah lepas dari ponselnya.
Reyhan mencoba untuk menghubungi beberapa kenalannya untuk menanyakan apakah punya kenalan yang sekiranya bisa dijadikan sebagai pacar bayaran. Namun, dari beberapa orang yang dihubunginya, tidak ada yang punya kenalan. Reyhan terlihat semakin frustasi.
Sementara di rumah Vanya, dia sudah menghubungi Fida. Vanya mengajak Fida untuk makan siang di luar hari itu. Fida sama sekali tidak mengetahui rencana Vanya.
Saat ini, Fida tengah menunggu Vanya untuk bersiap-siap. Dia menunggu Vanya di dapur sambil mencari cemilan yang bisa dimakannya. Tak berapa lama kemudian, Vanya terlihat turun dari kamar tidurnya. Dia mengenakan dress sederhana berwarna putih yang memiliki lengan pendek dengan sepatu kets warna senada. Rambutnya dibiarkan terurai dengan di jepit bagian poninya.
Fida memperhatikan wajah Vanya saat sang sahabat berjalan mendekat ke arahnya. Keningnya berkerut saat memperhatikan Vanya.
"Ada apa sih, Fid?" Tanya Vanya setelah sampai di dekat sang sahabat.
"Kamu yakin mau jalan seperti ini?" Tanya Fida.
"Iya, memangnya kenapa? Biasanya juga begini kan?" Tanya Vanya bingung.
"Iya, iya aku tahu. Tapi, lihat wajah kamu. Yakin kamu pergi polosan seperti ini? Tanpa bedak, tanpa make up, tanpa lipstik?" Tanya Fida.
Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Aku merasa mual dengan semua make up itu Fid. Entah mengapa aku tidak suka memakainya akhir-akhir ini." Jawab Vanya.
"Hhhaaah?!"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon dukungannya ya, klik, like, komen dan Vote.
Untuk mengetahui kapan up dan informasi karya terbaru, silahkan follow ig othor @keenandra_winda
Thank you