
Cello benar-benar terkejut setelah mendengar jawaban Shanum. Apa maksudnya dia yang mengambil foto tersebut? Apa dia sudah lama mengikutiku? Batin Cello.
"Kamu mengikutiku?" Tanya Cello. Dia masih menatap tajam ke arah Shanum.
"Ccckkk, mana ada yang seperti itu, Mas. Kamu beneran nggak ingat?"
Cello menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak ingat apapun.
"Aku benar-benar tidak mengingat apapun."
Shanum menghembuskan napas beratnya. Sepertinya, dia harus membantu sang suami untuk mengingatnya.
"Waktu itu, acara syukuran pembukaan restoran mommy Fara. Aku ikut datang dengan mama saat itu. Kebetulan, aku sedang ada di lantai dua, jadi bisa melihat mas Cello dan perempuan itu dengan jelas," kata Shanum.
Cello terlihat masih belum begitu percaya dengan penjelasan Shanum. Kedua matanya masih memicing sambil menatap tajam ke arah Shanum. Menyadari jika Cello masih menatapnya, Shanum hanya bisa membuang muka.
"A-ada apa?" Tanya Shanum gugup.
"Yakin hanya itu yang terjadi?"
"Iya. Memang apa lagi yang akan terjadi?" Kali ini Shanum berani membalas tatapan mata Cello.
"Ya, siapa tahu kamu punya motif lain dibalik itu." Goda Cello sambil sedikit mengulas senyumannya.
Shanum yang mendengar perkataan Cello pun langsung membulatkan kedua bola matanya. Dia masih belum mengerti maksud perkataan Cello.
"Apa maksudnya itu?"
"Bukannya kamu dan teman-teman kamu yang sering berteriak-teriak jika tim basketku bertanding? Kamu kan sering berteriak-teriak histeris jika kami sedang bermain basket di depan kelas saat jam istirahat."
Seketika Shanum langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia benar-benar tidak habis pikir jika Cello mengetahui tindakannya tersebut. Pasalnya, Cello benar-benar tidak pernah menoleh, ataupun melirik ke arah penonton saat tengah bermain basket. Jadi, Shanum berpikir jika Cello tidak akan pernah tahu dengan aksinya.
Namun, naas karena Cello sama sekali tidak bersiaga, hingga membuat tubuh keduanya terjengkang ke belakang. Shanum secara tidak sengaja menubruk tubuh Cello. Alih-alih berhasil menutup mulut Cello dengan tangan, tubuh Shanum malah tergelincir hingga bibir Cello membentur kening Shanum.
Seketika Shanum dan juga Cello terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Shanum masih terpaku di tempat yang sama hingga terdengar suara Cello.
"Aduh, gigiku berdarah."
Seketika Shanum langsung beranjak dari tubuh Cello. Dia benar-benar terkejut saat meliha gigi Cello berdarah karena benturan tadi.
"Astaga, Mas. I-itu berdarah. Aduuhh, bagaimana ini." Shanum terlihat sangat panik. Dia bingung harus melakukan apa.
"Sudah, tidak apa-apa. Aku berkumur dulu." Kata Cello sambil beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Shanum yang menyadari tingkah konyolnya hanya bisa merutuki dirinya sendiri. Tak berapa lama kemudian, Cello terlihat keluar dari kamar mandi. Shanum hanya bisa menatap Cello dengan tatapan meminta maaf.
"Maaf, Mas. Aku benar-benar tidak sengaja tadi." Kata Shanum.
"Tidak apa-apa. Seharusnya, tadi kamu bilang saja jika mau. Jangan asal tubruk begitu. Aku kan kaget dan juga belum bersiap-siap." Jawab Cello ambigu.
Seketika Shanum mendongakkan kepalanya. Dia masih belum mengerti maksud perkataan Cello.
"Maksudnya mau apa, Mas?" Tanya Shanum dengan polosnya.
"Mau cium, kan?"
"Si-siapa? Aku?!"
•••
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan klik like, komen dan juga vote. Mampir juga di igeh othor @keenandra_winda untuk informasi karya terbaru. Terima kasih.