
Kinan yang sudah turun dari ojek, masih berdiri di depan rumah tetangganya yang berada tepat di sebelah rumah orang tuanya. Dia masih merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya itu.
"Apa-apaan ini? Siapa yang akan menikah? Apa Mama akan menikah lagi? Kenapa aku tidak diberitahu?" gumam Kinan sambil masih menatap beberapa orang yang tampak sibuk menata beberapa kursi.
Tidak mewah, dekorasi yang terpasang di depan rumah Kinan, tepatnya di halaman mini rumah orang tuanya, hanya dapat menampung kurang dari tiga puluh orang. Di bagian selatan halaman yang menghadap teras, ada sebuah backdrop dekorasi pengantin dengan sebuah tulisan yang berwarna emas.
Dari kejauhan, Kinan sudah bisa membaca dengan jelas tulisan yang terdapat pada backdrop tersebut. Kedua bola mata dan mulut Kinan langsung membulat. Dia bahkan sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak sampai berteriak.
Kinan dan Adrian.
Ya, itulah nama yang tertera pada backdrop tersebut.
"A-apa-apan ini? I-ini seriusan apa pura-pura?" Kepala Kinan mendadak terasa pening.
Belum juga rasa nyut-nyutan di kepalanya mereda, sebuah suara langsung mengagetkan Kinan.
"Ah, Sayang! Kamu sudah pulang? Mama dan mertua kamu sudah menunggu kedatangan kamu sejak tadi. Ayo masuk."
Kinan langsung bengong saat mamanya berjalan menghampirinya sambil masih berbicara. Mama Kinan juga langsung menarik lengan Kinan agar segera mengikutinya menuju rumah.
"Eh, tu-tunggu dulu, Ma. Apa maksud semua ini? Mertua siapa tadi yang Mama maksud?" Kinan mengekori langkah kaki mamanya sambil bertanya.
"Tentu saja calon mertua kamu. Mamanya Adrian. Kalian sudah saling mengenal, kan?" Mama Kinan menoleh ke arah Kinan sambil tersenyum bahagia.
"Mamanya Om Adrian mertuaku?" Gumam Kinan dan masih bisa didengar oleh sang mama.
"Kamu memanggil calon suami dengan panggilan 'Om'?" mama Kinan langsung berhenti melangkah dan menatap tajam ke arah putrinya tersebut. "Tidak sopan, Kin. Ganti panggilan yang lebih sopan."
"Ta-tante?" Kinan langsung menghentikan langkah kakinya dan menatap kebingungan ke arah mamanya Adrian.
"Ah, Sayang, kamu sudah datang." Mama Adrian langsung berdiri dan menghambur ke dalam pelukan Kinan.
"Ta-tante kok bisa ada di sini?" Kinan benar-benar bingung.
"Kok panggil Tante, sih? Mulai sekarang, biasakan memanggil Tante dengan panggilan Mama seperti Adrian. Sebentar lagi, kamu kan akan resmi jadi menantu Mama." Mama Adrian langsung heboh.
"Me-menantu? Ini sebenarnya ada apa? Aku benar-benar bingung." Kinan menoleh ke arah mamanya dan mama Adrian bergantian.
Mama Kinan mengusap lengan sang putri sebelum menarik tangannya dengan lembut. Setelah itu, mama Kinan meminta putrinya itu untuk duduk. Beliau ingin menjelaskan sesuatu kepada Kinan.
"Nak, Mama akan menjelaskan semuanya kepadamu. Tapi, sebelum itu, Mama ingin bertanya sesuatu." Mama Kinan menatap wajah putrinya lekat-lekat.
"Tanya? Tanya apa, Ma?" Kinan tak kalah penasaran.
"Apa kamu dan Nak Adrian benar berpacaran?" Wajah Mama Kinan tampak penasaran.
Kinan cukup terkejut mendengar pertanyaan sang mama. Dia menoleh ke arah mama Adrian yang kini juga tengah menatapnya sambil tersenyum hangat.
Astaga! Aku harus menjawab apa? Jika aku mengatakan tidak, sudah pasti apa yang kami lakukan selama ini sia-sia. Tapi, jika aku menjawab iya, bagaimana jika aku akan dikawinkan dengan Si Om Duper? batin Kinan.
Nikah, oey! Nikah Kin. 🤧