
Kinan menoleh ke arah Adrian sambil bertanya.
"Om, kapan kita akan menikah?"
Adrian langsung menoleh sambil mengerutkan kening setelah mendengar ucapan Kinan.
"Menikah? Kamu mau kita menikah?" Adrian kembali fokus pada jalanan di depannya.
"Cckkk. Bukan begitu juga, Om. Ini nih, ada yang ramai di grup kampus. Rupanya, ada yang memfoto kita tadi pagi. Nih, lihat." Kinan menunjukkan foto yang diambilnya dari grup tersebut.
Kedua bola mata Adrian langsung membulat setelah melihat sekilas foto tersebut. Bagaimana tidak, foto yang diambil persis saat dia sedang mengecup sudut bibir Kinan. Tentu saja hal itu membuat dia sedikit merasa, ah sudahlah.
"Si-siapa yang mengirimkan foto itu?" tanya Adrian. Entah mengapa suaranya menjadi sedikit bergetar. Antara malu, gugup, dan salah tingkah.
"Bu Maryam. Tadi pagi sih, beliau juga ada di sana saat Om datang," jawab Kinan sambil kembali menatap foto tersebut. Entah mengapa Kinan suka menatap foto itu.
"Dia juga salah satu dosen di kampus kamu?" tanya Adrian sambil kembali melirik Kinan.
"Iya. Hanya saja, kami beda fakultas. Aki sudah mengenalnya dengan baik, kok."
Adrian hanya mengangguk-anggukkan kepala. "Bagus kalau begitu."
Kinan langsung menoleh. "Bagus? Bagus bagaimana maksudnya?"
"Ya, bagus karena dia bisa menyebarkan berita tadi pagi."
Kinan langsung mencebikkan bibir. Tampak sekali dia kesal dengan jawaban Adrian.
"Bagus sih, bagus, Om. Tapi aku juga harus jaga sikap, dong. Masa iya bertingkah seperti itu di depan umum."
"Kita kan nggak ngapa-ngapain. Lagian, tadi pagi juga nggak terlalu banyak orang, kan? Mereka juga pasti berpikir kita pacaran. Biarkan saja."
Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikemudikan Adrian sudah sampai di tempat diselenggarakannya resepsi pernikahan tersebut. Kinan cukup takjub dengan dekorasi mewah yang terlihat mulai dari pintu gerbang tempat acara.
Sebuah gedung pertemuan dihias sedemikian rupa dengan banyak dekorasi dari bunga-bunga menghiasi sepanjang jalan menuju gedung utama. Ucapan selamat dari beberapa instansi juga terlihat sudah berjejer rapi sejak dari gerbang utama hingga bagian depan gedung. Maklum, orang tua Miss Adhia termasuk orang yang bekerja di pemerintahan di Bandung.
Kinan tak henti-hentinya berdecak kagum dengan dekorasi pesta pernikahan tersebut. Baru dari luarnya saja sudah tampak mewah. Apalagi nanti di dalam, batin Kinan.
Adrian terus menjalankan mobilnya hingga berhenti di area parkir yang berada di sebelah barat gedung utama. Sudah banyak mobil yang terparkir di sekitar mereka saat itu.
Kinan menoleh ke arah Adrian sambil bertanya, "Masuk sekarang?"
Adrian mengedikkan bahu sambil melepas seat beltnya.
"Terserah kamu. Aku sih ngikut saja."
Kinan menganggukkan kepala. "Baiklah. Kalau begitu, tunggu sebentar. Aku mau merapikan penampilan," ucap Kinan sambil melepas seat belt.
Setelah itu, Kinan mulai mengambil perlengkapan make upnya dan mulai membenahi penampilannya yang masih berantakan. Tak lupa juga Kinan membenahi lipstiknya agar tidak terlihat pucat.
Kinan menatap penampilannya sebentar pada kaca kecil yang dibawanya. Setelah memastikan penampilannya siap, dia segera mengajak Adrian keluar. Namun, sebelum mereka benar-benar keluar, Kinan menoleh ke arah Adrian.
"Om, nggak ada niatan untuk bukain pintuku?"
"Hah?"
\=\=\=
Hhh, ini Kinan yang ngebet atau mungkin Adrian yang nggak peka, ya? 🤔
Mohon maaf upnya satu bab dulu ya, ini juga ngetiknya di perjalanan. Othor masih belum pulang ini. 🙏🙏