
Kinan menoleh ke arah ponsel yang bergetar di sampingnya. Netranya sempat membaca pesan yang muncul pada layar tersebut.
Sayang, kangen nih.
Kening Kinan berkerut saat membaca secara singkat pesan yang muncul sekilas tersebut. Dia juga tidak sempat melihat pengirim pesan tersebut, karena pesan hanya muncul sekilas.
"Sayang? Siapa tadi yang memanggil Sayang kepada Dena? Ehm, mungkin orang tuanya," gumam Kinan. Dia kembali menekuri ponselnya tanpa memiliki pikiran yang tidak-tidak terhadap sahabat sekaligus rekan kerjanya tersebut.
Beberapa saat kemudian, Dena terlihat sudah keluar dari kamar mandi dengan memakai baju tidurnya. Dia berjalan ke samping Kinan. Namun, belum sempat dia mencapai tempat tidur, terdengar ketukan pintu.
Kinan dan Dena tampak saling pandang setelah mendengar ketukan pintu tersebut.
"Siapa yang kesini malam-malam begini?" tanya Kinan dengan ekspresi bingungnya.
Dena menggelengkan kepala. Dia sendiri juga tidak tahu. "Entahlah, aku juga tidak tahu. Biar aku buka dulu pintunya."
Dena berjalan menuju pintu dan segera membukanya. Ceklek. Dena cukup terkejut saat melihat Rama berdiri di depan pintu kamarnya.
"Pak Rama?"
Sebuah senyuman tersungging pada bibir Rama. "Iya. Maaf mengganggu istirahat malam kalian. Aku hanya membawakan martabak ini," ucap Rama sambil mengangkat tinggi box martabak yang dibawanya.
"Eh, tidak perlu repot-repot, Pak. Kami juga sudah makan malam." Dena terlihat enggan menerima pemberian tersebut. Biar bagaimanapun juga, ini sudah malam dan mereka juga sudah makan malam. Rasanya tidak akan muat lagi perut mereka.
"Tidak apa-apa. Tadi kebetulan di depan ada yang jual martabak ini, sekalian beli dua buat kalian." Rama memberikan box martabak tersebut kepada Dena.
Mau tidak mau, Dena menerima box tersebut. "Terima kasih, Pak," ucap Dena sambil mengulas senyumannya.
"Sama-sama. Istirahatlah. Mulai besok, agenda kita sangat padat."
"Iya. Sekali lagi terima kasih."
Rama menganggukkan kepala. "Kalau begitu, aku permisi dulu. Selamat malam."
Setelah itu, Rama berbalik untuk menuju kamarnya. Dena hanya bisa menghembuskan napas beratnya dan segera menutup pintu kamar tersebut. Dia berjalan menghampiri Kinan sambil menenteng box martabak dari Rama.
Kinan menatap bungkusan yang dibawa Dena dengan kening berkerut. "Tadi itu pak Rama?" tanya Kinan penasaran. Dia sempat mendengar suara laki-laki. Namun, dia enggan beranjak untuk memeriksanya. Kinan pikir, tamu tersebut pasti mencari Dena, karena Dena tidak memanggilnya.
"Iya. Dia membawakan martabak ini untuk kita." Dena meletakkan box martabak tersebut pada nakas yang memisahkan kedua tempat tidur mereka.
Kinan tampak mengangguk-anggukkan kepala. "Sepertinya, pak Rama menyukaimu, Den."
Dena mencebikkan bibirnya sambil beranjak menaiki tempat tidur. "Cckkk, mana ada yang seperti itu. Jangan suka asal deh kalau ngomong."
"Eh, aku nggak asal, ya. Lihat saja, dia sampai seperhatian ini kepada kamu dengan membawakan martabak."
"Tadi, katanya kebetulan ada penjual martabak di depan. Lagi pula, dia tidak hanya beli untuk kita, kok. Tadi dia juga beli untuk dirinya sendiri. Dia bawa dua box tadi."
Kinan mencebikkan bibirnya. "Iya, deh. Terserah kamu saja. Tapi, kamu harus hati-hati sama pak Rama."
Kening Dena berkerut. Dia tidak mengerti maksud perkataan Kinan. "Apa maksud kamu?'
Kinan menghembuskan napas beratnya sebelum menjawab pertanyaan Dena. "Aku tidak tahu yang benar itu yang mana. Tapi, aku pernah dengar dari Bu Tuti jika Pak Rama itu suka melakukan hal-hal tak terduga"
Dena cukup terkejut mendengar perkataan Kinan. "Nekad? Maksudnya apa?"
"Dulu, aku pernah dengar cerita dari Bu Tuti. Dia kan teman seangkatan pak Rama saat kuliah. Waktu itu, ada adik tingkat pak Rama yang disukainya. Entah apa perempuan tersebut memberi harapan atau tidak kepada pak Rama, akhirnya pak Rama nekad melamar perempuan tersebut ke rumahnya. Tentu saja perempuan tersebut menolaknya. Dan, sejak saat itu pak Rama menjadi pendiam."
"Eh, benarkah?" Dena baru mendengar berita tersebut.
"Iya. Dan seperti yang aku perhatikan selama ini, pak Rama itu menaruh hati kepadamu, Den?"
Dena menggelengkan kepalanya. "Itu tidak mungkin. Aku kan…,"