
Sore itu, Rean dan Dena segera bersiap untuk berangkat menuju hotel. Rencananya, mereka akan menginap di hotel sampai hari minggu. Rean dan Dena berharap tidak ada akan ada hal penting yang mengharuskan mereka untuk pulang dengan cepat.
Dena yang sudah menyiapkan semua keperluan mereka ke dalam koper pun langsung beranjak menuju kamar untuk mengambil koper tersebut. Rean yang melihat hal itu, langsung buru-buru mengikutinya.
"Semua bajuku sudah di dalam koper ini, Yang?" tanya Rean sambil mengambil alih koper tersebut dari tangan Dena.
"Iya, Mas. Aku memasukkan semua bajuku dan baju kamu jadi satu di dalam koper. Tidak apa-apa, kan?" Dena tampak cemas jika Rean tidak suka bajunya di campur jadi satu.
"Tentu saja tidak apa-apa, Yang. Jangankan baju kita yang jadi satu, sebentar lagi tubuh kita juga akan menyatu. Hehehe," jawab Rean sambil tersenyum nyengir.
Dena mencebikkan bibir sambil mencubit pinggang Rean dengan gemas. Bisa-bisanya sang suami mengatakan hal itu sekarang. Rean sempat memprotes tindakan Dena sebelum akhirnya berjalan mengikuti sang istri keluar apartemen.
Mereka langsung bergegas untuk berangkat. Rean dan Dena sempat mampir di masjid untuk melaksanakan ibadah sholat maghrib. Setelah selesai, mereka langsung melanjutkan perjalanan. Perlu waktu sekitar satu jam untuk sampai di hotel yang dipesan oleh Rean. Hal itu karena mereka sempat terjebak macet.
Tak berapa lama kemudian, Rean dan Dena sudah sampai di hotel. Mereka segera menuju resepsionis untuk mengkonfirmasi pesanan kamar, hingga mendapatkan kunci kamar mereka. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rean dan Dena segera beranjak menuju kamar mereka.
Begitu memasuki kamar, Dena dibuat sangat terkejut dengan kamar tersebut. Benar-benar sesuai dengan apa yang dibayangkannya. Ada jendela yang sangat luas sehingga bisa melihat pemandangan kota malam itu.
Dena membuka tirai jendela tersebut. Ternyata, ada sebuah balkon di sana. Buru-buru Dena bergeser ke samping untuk membuka pintu yang menghubungkan kamar tersebut dengan balkon. Udara malam langsung berhembus dan menerpa kulitnya.
Rean mengikuti sang istri menuju balkon. Dilihatnya sang istri tengah berdiri sambil berpegangan pada pembatas balkon. Rean langsung menghampirinya dan memeluk tubuh Dena dari belakang. Dena bisa merasakan hembusan napas sang suami menerpa tengkuknya. Seketika, aliran darahnya berdesir dengan hebat.
"Kamu suka?" bisik Rean di dekat telinga Dena.
Dena mengangguk-anggukkan kepala. "Suka. Aku suka sekali, Mas. Terima kasih."
"Sama-sama. Tapi, ini semua tidak gratis," ucap Rean sambil menyunggingkan senyumannya.
Kening Dena langsung berkerut. "Maksudnya? Aku harus membayar kamar ini, Mas?" tanya Dena. Baginya, tidak masalah jika dia harus membayar kamar tersebut. Bahkan, meskipun mereka akan tinggal di hotel selama satu minggu penuh.
"Lalu, apa yang harus aku bayar?"
"Membayar untuk semuanya. Tapi, bukan dengan uang, melainkan dengan tubuh ini." Rean menurunkan tangannya hingga kini sudah berada di bagian bawah perut Dena.
Dena tersenyum setelah mendengar perkataan sang suami. Dia segera berbalik dan menatap wajah sang suami lekat-lekat. Wajah yang selama ini membuatnya tersenyum-senyum sendiri dan jantung berdetak tak karuan.
"Aku tidak hanya akan membayar dengan tubuh ini Mas. Tapi aku juga akan membayar dengan segenap hati dan waktuku seumur hidup. Maafkan semua sikapku sebelumnya, Mas. I love you," ucap Dena sambil menatap wajah Rean.
Rean membulatkan kedua bola mata dan mulutnya. Dia cukup terkejut saat mendengar ucapan sang istri. Pasalnya, saat itu adalah kali pertama Dena mengucapkannya.
Tanpa membuang-buang kesempatan, Rean segera menyambar bibir ranum sang istri. Bibir Rean mendesak, memagutt, dan memaksa bibir Dena untuk terbuka. Keduanya larut dalam kebahagiaan yang membuncah.
Setelah keduanya merasakan pasokan oksigen pada paru-paru habis, Rean dan Dena saling melepaskan aktivitas mereka. Napas mereka memburu. Keduanya berlomba-lomba untuk mengirup pasokan oksigen sebanyak-banyaknya.
Rean dan Dena saling menempelkan kening masing-masing. Deru napas mereka masih bisa di dengar.
"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu dengan segenap hati. Aku mencintaimu dengan segenap jiwa ini. Tetaplah di sampingku." Rean masih menatap manik sang istri lekat-lekat.
"Aku mencintaimu. Bahkan, aku akan menitipkan rasa cintaku ini pada setiap angin yang berhembus, agar seluruh dunia tahu jika kamu adalah milikku. Aku mencintaimu." Rean memberikan sebuah kecupan dalam pada kening sang istri sebelum membenamkan tubuh Dena dalam dekapannya.
\=\=\=
Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor.
Scroll ke bawah.