The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 72



"Membicarakanku bagaimana, Om?" tanya Kinan penasaran.


"Hhhhh. Aku tidak tahu siapa mereka. Tapi yang jelas aku dengar, mereka menyebut-nyebut nama Firdan dan namamu. Awalnya, aku tidak yakin jika Kinan yang mereka sebut adalah kamu. Tapi, setelah mendengar nama laki-laki yang dibicarakan, aku menjadi yakin jika mereka sedang membicarakan kamu."


"Ada tiga orang perempuan dan dua orang laki-laki. Dua wanita muda, mungkin seusia kamu, satu wanita yang mungkin berusia empat puluh lima tahunan, dan dua orang laki-laki seusiaku."


"Mereka bilang, akan ada kejutan yang akan diberikan untuk kamu siang ini di acara resepsi pernikahan teman kamu. Mereka berpikir jika kamu akan datang sendirian. Oleh karena itu, mereka membuat rencana untuk mempermalukan kamu disana."


"Mereka juga bilang jika saat ini rumah tangga teman kamu yang akan mengadakan resepsi pernikahan itu sedang bermasalah. Bahkan, yang aku dengar dari wanita yang paling tua, si Firdan ini sudah pernah melayangkan gugatan cerai terhadap sang istri."


Lagi-lagi Kinan terkejut saat mendengar penjelasan Adrian.


"Gu-gugatan? Serius, Om?"


"Hhhmmm."


"Kok bisa? Mereka kan baru menikah."


"Hal seperti itu bisa saja terjadi. Tapi, kota tidak bisa menghakimi orang lain tanpa tahu apa-apa."


Kinan mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Ya, dia memang tidak tahu apa-apa tentang rumah tangga Miss Adhia dan juga Firdan. Kinan juga tidak mau tahu apa-apa tentang hal itu.


"Lalu, apa ada lagi yang Om dengar?" tanya Kinan penasaran.


"Iya. Mereka juga membicarakan tingkah Firdan yang ternyata ketahuan oleh istrinya."


"Hhaah? Apa itu?"


"Apa kamu pernah menerima kiriman bunga sekitar dua atau tiga bulan yang lalu?" Bukannya menjawab pertanyaan Kinan, Adrian justru balik bertanya.


 Adrian tidak langsung menjawab pertanyaan Kinan. Dia menatap wajah Kinan lekat-lekat sebelum akhirnya bersuara.


"Itu dari Firdan. Ternyata, diam-diam dia masih mengawasi kamu. Istrinya memergoki Firdan saat mengirimkan sejumlah uang kepada salah satu toko bunga. Awalnya, istrinya berpikir itu untuknya. Tapi, setelah ditunggu-tunggu, ternyata dia tidak menerima bunga-bunga tersebut."


"Baru setelah diselidiki, istri Firdan tahu jika suaminya itu mengirimkan bunga untuk kamu."


Kinan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia benar-benar terkejut saat itu.


"Om serius?"


"Cckkk. Buat apa juga aku bohong. Semalam, aku bahkan harus berpura-pura memainkan ponselku yang sudah mati untuk menguping pembicaraan mereka."


"Mereka menceritakan semua itu, Om?"


"Iya. Rupanya, salah satu dari wanita dan laki-laki semalam belum mengetahui hal itu. Mereka tampak antusias bertanya-tanya."


Kinan langsung menggigiti bibirnya. Dia mengingat apa yang dilakukannya dengan bunga-bunga yang dikirim oleh orang tak dikenal tersebut. Kinan memindahkannya ke dalam sebuah vas bunga besar dan meletakkannya di front desk ruang dosen fakultasnya. Kinan juga tidak membawanya pulang.


Untuk yang langsung dikirim ke rumah, Kinan bahkan tidak tahu hal itu. Bunga tersebut tergeletak di meja yang ada di teras depan rumahnya. Kinan yang saat itu sedang pulang ke rumah orang tuanya dan menginap selama empat hari di sana, tidak menyangka akan mendapatkan kiriman bunga. Begitu Kinan pulang, bunga tersebut sudah layu, bahkan ada yang sudah kering.


"Ehm, lalu bagaimana, Om? Apa sebaiknya kita tidak usah datang?"


Jangan lupa klik like dan komen dulu sebelum


scroll ya. Kasih dukungan gratis buat othor biar tambah semangat up. Terima kasih.