
Rekan Kinan tersebut langsung gelagapan saat mendapat pertanyaan dari Adrian. Dia terlihat bingung dan salah tingkah saat beberapa orang yang ada di sana langsung memperhatikan.
"Eh, ti-tidak apa-apa. Saya bahagia jika Miss Kinan akan segera menikah," ucap dosen tersebut.
Adrian tampak tidak peduli dengan jawaban dosen itu. Dia kembali melanjutkan sarapan yang berhasil diambilnya dari Kinan. Setelah itu, tidak ada lagi obrolan yang terjadi. Beberapa orang bahkan terlihat berlalu dari tempat tersebut.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Adrian dan Kinan. Adrian mengantarkan Kinan menuju kamarnya untuk segera bersiap. Mereka harus segera check out dan menghadiri undangan.
Sepanjang perjalanan, tidak ada obrolan yang terjadi antara Kinan dan Adrian. Di kepala Kinan, banyak sekali pertanyaan yang ingin dikeluarkannya. Namun, sebisa mungkin Kinan menahan pertanyaan-pertanyaan itu untuk nanti jika waktunya sudah tepat.
Rupanya, Adrian bisa mengetahui jika Kinan ingin sekali mengajukan pertanyaan kepadanya.
"Aku tahu jika kamu ingin sekali bertanya. Tapi, sebisa mungkin tahan pertanyaan yang ada di kepalamu itu. Nanti, aku akan menjelaskan semuanya," ucap Adrian saat hampir sampai di deoan pintu kamar Kinan.
"Eh, memang ada apa?" Kinan menoleh ke arah Adrian yang kini ekspresinya sudah kembali ke setelan pabrik.
"Tidak sekarang. Aku akan menjelaskan nanti. Sekarang, bersiap-siaplah untuk check out. Aku tunggu di lobi," jawab Adrian sambil balas menatap Kinan. Setelahnya, dia memberikan sebuah pelukan singkat kepada Kinan sebelum pergi meninggalkan si pemilik jantung yang seperti mau melompat keluar.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Kinan segera bergegas untuk bersiap-siap. Beruntung dia sudah membereskan semua perlengkapannya sejak kemarin sore.
Kinan segera keluar dari kamar setelah sebelumnya memeriksa apakah ada barangnya yang tertinggal. Setelah memastikan semua sudah lengkap, Kinan langsung bergegas untuk melakukan check out.
Saat tengah berjalan menuju lobi, kebetulan Kinan bertemu dengan seorang dosen dari kampusnya, namun beda fakultas. Setelah saling sapa, akhirnya mereka berjalan beriringan.
"Ehm, maaf sebelumnya, Miss. Tadi saya tidak sengaja ada di tempat sarapan dan melihat jika Miss Kinan sedang sarapan dengan Pak Adrian. Ehm, apakah benar apa yang dikatakan Pak Adrian tadi jika kalian akan segera menikah?" tanya dosen tersebut.
Kinan menoleh ke arah dosen tersebut sambil berusaha mengulas senyum. Dia juga berusaha mengatur degup jantungnya yang mulai berdetak tak karuan.
"Kami hanya bisa merencanakan dan mengusahakan yang terbaik, Bu. Tapi untuk hasilnya nanti bagaimana, kami tetap pasrah kepada Yang Maha Kuasa."
"Saya akan mendoakan yang terbaik untuk Miss Kinan dan Pak Adrian. Asal Miss Kinan tahu, suami saya bekerja di salah satu perusahaan Pak Adrian yang berada di Semarang. Kemungkinan, dua bulan lagi baru akan ditarik kembali ke Jakarta."
Kinan langsung diam mematung. Entah mengapa kepalanya jadi terasa semakin berat.
"Astaga, kenapa bisa jadi serumit ini, sih?" Kinan hanya bisa meraup wajahnya dengan kasar. Dia benar-benar sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi.
Hehehe, masih segini saja sudah bingung, Kin. Belum lagi nanti jika, ah sudahlah.
Kinan segera melanjutkan langkah kakinya menuju lobi. Disana, dia bisa melihat Adrian sudah menunggunya.
Setelah check out, Adrian langsung mengajak Kinan ke suatu tempat. Sejak tadi Kinan tidak mendapatkan jawaban kemana Adrian akan membawanya.
Namun, setelah sekitar dua puluh menit perjalanan, mobil yang dikemudikan Adrian memasuki sebuah komplek perumahan modern. Saat Kinan tengah mengagumi rumah-rumah tersebut, tiba-tiba mobil Adrian berbelok di sebuah rumah. Kinan langsung menoleh ke arah Adrian.
"Eh, kenapa berhenti disini? Rumah siapa ini, Om?" tanya Kinan bingung.
"Rumahku.
"Eh, ru-rumah Om? Nga-ngapain Om membawaku kesini? Jangan bilang Om mau unboxing. Tidak boleh. Aku masih kedatangan tamu." Kinan refleks menyilangkan kedua tangannya ke depan dada.
Kening Adrian berkerut saat melihat tingkah Kinan.
"Jadi, jika tamunya sudah pergi boleh unboxing?" tanya Adrian sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Kinan. Kini, wajah Adrian terlihat semakin mendekat pada wajahnya.
Entah apa yang ada dipikiran Kinan saat itu hingga dia hanya menganggukkan kepala.
"Hm emm."
\=\=\=
Untuk yang penasaran dengan visual tokoh di cerita othor, silahkan mampir di igeh othor ya, @keenandra_winda.