
"Baiklah, baiklah. Tapi aku ingin melakukan sesuatu dulu." Kata Fida.
"Apmmmppphhhhhh…"
Reyhan benar-benar terkejut dengan serangan Fida. Dia diam mematung saat Fida mulai meng***m bibirnya. Reyhan masih bingung bagaimana cara membalas perlakuan Fida. Beberapa saat kemudian, Fida melepaskan pa*tannya. Dia menjauhkan wajahnya dari wajah Reyhan.
"Mas, jangan diam kaku begitu dong. Ini kan first kiss kita, masa iya lempeng begini." Kata Fida sambil mengusap pipi Reyhan.
Seketika darah Reyhan berdesir hebat saat tangan Fida mengusap pipinya. Jantungnya berdegup semakin kencang saat matanya menangkap sesuatu yang menyembul di balik baju dinas malam sang istri. Fida yang menyadari tingkah Reyhan justru malah semakin mendekatinya.
"Aku tidak akan membuat kamu kesulitan, Mas. Tapi, aku benar-benar ingin melakukan ini denganmu." Kata Fida sambil kembali menempelkan bibirnya pada bibir sang suami.
Kali ini, Reyhan sudah tidak seterkejut tadi. Dia membiarkan sang istri melakukan apa yang diinginkannya. Reyhan belum membalas apa yang dilakukan sang istri. Namun, saat kedua tangan Fida terulur pada lehernya, Reyhan mulai membalas apa yang dilakukan oleh sang istri.
Reyhan mulai mengikuti alur yang diciptakan oleh sang istri. Dia sudah terlihat menikmati aktivitas yang baru pertama kali dilakukannya.
Hhhmmpphhhhh eemmmmpphhhh emmmpphhh.
Suara peraduan dua benda kenyal tersebut menggema di seantero kamar. Kedua tangan Fida sudah menyusup pada rambut Reyhan dan mencengkeramnya dengan keras. Aktivitas serupa juga refleks Reyhan lakukan. Tanpa dikomando, kedua tangan Reyhan langsung nangkring pada pinggang Fida dan tengkuknya.
Entah keberanian darimana, Reyhan menarik tubuh Fida mendekati tubuhnya. Kini, tubuh mereka sudah saling menempel satu sama lain.
Eeuughhhh maasshhhh eeemmppphhhh.
Racau Fida saat tangan Reyhan menyusuri lengan polosnya dan berakhir pada tengkuknya. Ditekannya tengkuk Fida untuk memperdalam aktivitas yang mereka lakukan.
Sementara tangan kiri Fida segera turun dan menarik tangan Reyhan yang kini sudah berada di pinggangnya. Dibawanya tangan tersebut dan diletakkan pada dadanya dan di tekannya. Seketika Reyhan terlonjak kaget. Peraduan bibir keduanya langsung terlepas seketika. Fida cukup terkejut saat Reyhan tiba-tiba menghentikan aktivitasnya.
"Ada apa, Mas? Kenapa wajah kamu pucat?" Tanya Fida.
Mata Reyhan bahkan tak mengalihkan pandangannya pada benda kenyal yang tadi sempat di pegangnya.
"Ehm, i-itu anu…." Reyhan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia sedikit bergeser karena mendapati si menara pisa gadungan sudah mulai memberontak. Reyhan segera beranjak dari tempat tidurnya.
"Segeralah beristirahat. Ini sudah lewat pukul satu dini hari. Aku ke kamar mandi dulu." Kata Reyhan sambil beranjak berjalan menuji kamar mandi.
Fida yang melihat kepergian Reyhan hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Sepertinya dia harus berusaha lebih keras lagi agar sikap canggung Reyhan berkurang. Setelahnya, Fida segera merebahkan diri di atas tempat tidur. Tubuhnya sudah benar-benar lelah. Tak berapa lama kemudian, Fida sudah terlelap ke alam mimpi.
Beberapa saat kemudian, Reyhan sudah selesai dengan aktivitasnya di kamar mandi. Dia keluar dari kamar mandi dan melihat sang istri sudah terlelap. Reyhan berjalan pelan-pelan menuju tempat tidur. Dia segera merangkak ke atas tempat tidur dan segera ikut bergabung dengan sang istri. Rasa lelah tubuhnya sudah meminta untuk di istirahatkan.
Keesokan harinya, Fida dan Reyhan berniat untuk pergi ke rumah Vanya. Karena hari itu masih weekend dan Reyhan pun juga masih cuti, Fida berniat mengajak suaminya untuk berbelanja.
"Sudah siap?" Tanya Reyhan saat menghampiri sang istri yang tengah berada di depan mini bar dapur minimalis rumahnya. Fida menoleh untuk menatap sang suami yang juga sudah siap.
"Iya, sudah. Ayo segera berangkat. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan baby El." Kata Fida.
Reyhan segera mengangguk dan mengajak Fida berangkat. Karena mereka tinggal di komplek perumahan yang sama dan hanya berbeda blok, Reyhan memutuskan untuk mengendarai sepeda motor. Fida segera naik di atas jok belakang saat Reyhan sudah siap.
Dari kejauhan, Fida dan Reyhan melihat baby El tengah berjemur di dekat garasi rumahnya bersama sang daddy. Kenzo dengan telaten menemani sang putra untuk berjemur.
"Holaaaa, kesayangan aunty. Hey boy, kamu di jemur daddy kamu ya. Bilang sama daddy kamu jangan lama-lama, nanti bisa menguap cakepnya." Kata Fida sambil menoel-noel pipi baby El.
Kenzo yang mendengar perkataan Fida langsung mendengus kesal.
"Enak saja cakepnya menguap. Cakepnya sudah permanen itu. Bibit unggul gini kok di lawan." Kata Kenzo sarkatis.
Fida menoleh menatap wajah Kenzo sambil mencebikkan bibirnya.
"Mana cakep permanennya, cakepan juga suamiku." Sahut Fida.
Belum sempat Kenzo menjawab, sudah terdengar teriakan Vanya dari dalam rumah. Vanya tidak mengetahui jika pengantin baru mengunjunginya.
"Maasss, bawa El masuk sekarang. Sudah cukup berjemurnya." Teriak Vanya.
Fida langsung berdiri dari jongkoknya dan menoleh menatap wajah Kenzo.
"Biar aku yang membawanya masuk." Kata Fida sambil mengambil baby El dari strollernya dan menggendongnya menuju dalam rumah.
Kenzo hanya bisa pasrah melihat sahabat sang istri membawa putranya masuk ke dalam rumah. Dia menoleh menatap wajah Reyhan yang masih berdiri di dekat sepeda motornya.
"Kenapa wajah kamu kusut seperti itu? Belum berhasil buka gerbang semalam?" Tanya Kenzo sambil mengajak Reyhan berjalan mengikuti Fida masuk ke dalam rumah.
Reyhan menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan napas beratnya. Kenzo mengerti jika Reyhan memang masih awam berdekatan dengan perempuan. Dia berhenti di teras rumahnya dan menoleh menatap wajah Reyhan.
"Kamu harus banyak-banyak menonton video pemersatu bangsa. Nanti aku kirimkan link nya."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Nah kan, Reyhan ketemu Kenzo bakal diajari yang iya-iya nih.
Mohon dukungannya dengan klik dan komen di setiap bab. Jangan lupa vote dan kasih hadiah buat othor juga alhamdulillah 🤗
Untuk mengetahui kapan up dan karya terbaru, bisa mampir di ig othor @keenandra_winda
Thank you