
"Waahh, pilihan yang bagus itu Fid. Honeymoon sekaligus liburan. Aku dulu sempat menyesal melakukan honeymoon langsung setelah acara resepsi pernikahan. Alhasil, aku nggak bisa jalan kemana-mana karena sakit-sakit ngilu habis itu. Hehehehe." Kata Mytha, sepupu Fida.
"Ja-jadi itu alasan kamu menunda honeymoon kita?" Tanya Reyhan sambil menoleh menatap wajah Fida.
Fida langsung menoleh menatap wajah Reyhan sambil tersenyum nyengir. Dia segera mengangguk mengiyakan. Setelah mengetahui jawaban Fida, Reyhan hanya bisa menghembuskan napas beratnya.
Selanjutnya, acara makan malam tersebut berlangsung dengan santai sambil diselingi godaan-godaan kepada pengantin baru. Reyhan dan Fida jangan ditanya lagi betapa malunya mereka mendapat godaan dari para keluarga.
Setelah acara makan malam selesai, semua anggota keluarga segera beranjak menuju kamar mereka masing-masing yang berada di hotel tersebut. Tak terkecuali Reyhan dan Fida. Mereka harus membereskan barang-barang mereka terlebih dahulu sebelum pergi meninggalkan hotel dan berangkat ke rumah Reyhan.
Sekitar setengah jam kemudian, Reyhan dan Fida sudah selesai membereskan barang-barang mereka. Keduanya langsung berpamitan kepada orang tua dan langsung berangkat menuju rumah Reyhan.
Reyhan menarik koper miliknya sekaligus koper milik Fida. Sementara sang istri tengah membawa beberapa paper bag yang entahlah apa isinya. Reyhan sendiri juga tidak tahu.
"Mas, nanti mampir dulu ke apotik sebentar ya. Cari yang buka dua puluh empat jam." Kata Fida begitu dia sudah masuk ke dalam mobil Reyhan.
Reyhan yang baru saja memasang seatbeltnya, langsung menoleh menatap wajah Fida. Keningnya berkerut saat mendengar Fida memintanya untuk berhenti di apotik.
"Mau membeli apa di apotik? Kamu sakit?" Tanya Reyhan.
"Iisshh, enggaklah, Mas. Belum juga diapa-apain masa iya sudah sakit." Kata Fida sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ya, saya kan tidak tahu." Jawab Reyhan sambil menyalakan mobilnya. "Mau beli apa di apotik? Siapa tahu di rumah saya punya sesuatu yang kamu perlukan." Lanjut Reyhan.
"Nggak mungkin punya lah, Mas. Aku mau membeli obat pelancar haid. Sepertinya, dua atau tiga hari lagi aku datang bulan deh Mas. Dan biasanya, itu sakit banget selama dua sampai tiga hari." Jawab Fida.
Reyhan pun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Fida yang melihat Reyhan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya menjadi gemas. Di cubitnya pipi Reyhan hingga si empunya meringis kesakitan.
"Auuwww, sakit Fid." Kata Reyhan sambil mengusap-usap pipi kirinya bekas cubitan Fida.
"Habisnya mas Reyhan diam gt ih." Kata Fida sambil mengerucutkan bibirnya.
Reyhan menoleh menatap wajah Fida kembali. Dia benar-benat merasa bingung. Reyhan masih kesulitan memahami maksud perempuan yang saat ini sudah menjadi istrinya tersebut.
"Ma-maaf. Saya kan tidak mengerti." Kata Reyhan.
Fida hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Benar-benar polos suamiku ini. Lihat saja Mas, setelah ini, aku pastikan kamu akan benar-benar polosan. Bukan hanya otak kamu, tapi juga tubuh kamu. Hohohoho. Batin Fida.
Diluar gerimis sudah mulai turun. Reyhan kembali menoleh menatap Fida yang tengah menunggu pesanannya. Sekitar lima menit kemudian, Fida sudah terlihat berlari-lari kecil sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangan untuk menutupi wajahnya dari tetesan air hujan. Fida langsung menyelinap masuk ke dalam mobil Reyhan.
"Kok sudah hujan saja sih, Mas." Kata Fida sambil membersihkan wajahnya yang basah dengan menggunakan tisu.
"Ya mau bagaimana lagi, memang sudah waktunya hujan ini." Jawab Reyhan
"Masa iya nanti saingan hujannya, Mas." Kata Fida.
"Maksudnya?" Reyhan menoleh menatap wajah Fida sekilas.
"Ya di luar hujan, nanti di dalam kamar kan juga hujan lokal Mas." Jawab Fida sambil mengeling nakal menatap Reyhan.
Glek glek glek
"Ja-jadi mau melakukannya malam ini?"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Menurut reader bagaimana?
Mohon dukungannya ya, klik like dan komen di setiap bab. Jangan lupa juga vote setiap hari Senin.
Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa mampir di ig othor @keenandra_winda
Thank you