
Hari itu juga, Reyhan menjalani operasi. Fida masih setia menunggui sang suami ditemani oleh sang mama. Vanya dan El sudah pulang sejak sore dengan diantar oleh Kenzo. Kenzo meminta orang suruhannya untuk berjaga-jaga di rumah sakit dan membantu Fida jika dibutuhkan.
Malam itu, setelah melakukan operasi, Reyhan langsung dipindahkan ke ruang perawatan. Berkat Kenzo, Fida dan Reyhan berada di ruangan yang sama. Fida yang mendapat anjuran untuk bedrest, terpaksa mengikuti saran dari dokter tersebut.
Pukul sepuluh malam, dokter menjelaskan kepada Fida dan keluarganya jika operasinya berhasil. Namun, untuk pemulihan memerlukan waktu yang lumayan lama.
Hari berganti hari, Reyhan dan Fida sudah pulang dari rumah sakit. Beruntung Fida sudah tidak mengalami flek lagi. Namun, dia tetap tidak boleh banyak beraktivitas. Mama Fida masih menemani mereka. Beliau masih tinggal di rumah Reyhan dan Fida.
Hari itu, Reyhan baru saja melakukan pemeriksaan terhadap bekas operasi. Hampir tiga minggu sudah pasca kecelakaan yang menimpanya. Reyhan sudah mulai bisa beraktivitas sendiri di dalam rumah. Namun, dia masih sedikit kesulitan menggerakkan tangan kanannya.
"Mas, nanti mama mau menjenguk om Rusdi. Kemungkinan akan menginap di rumahnya dua atau tiga hari. Nggak apa-apa, kan?" Tanya Fida saat mendudukkan diri di samping sang suami.
"Iya, nggak apa-apa. Aku juga kasihan sama mama. Beliau pasti lelah membantu kita."
"Ah, nggak juga kok. Mama malah kelihatan senang sekali. Mama sudah nggak sabar ingin bertemu dengan cucunya."
"Hhhmmm."
"Maasss…"
"Apa?"
"Kok sudah lama kamu nggak menjenguk adek. Memang nggak kangen, ya?" Tanya Fida sambil memeluk tubuh sang suami dari samping. Tangan kirinya sudah membuat pola-pola melingkar pada dada Reyhan.
"Eh, menjenguk adek?" Reyhan sebenarnya sudah mengerti arah pembicaraan Fida. Namun, dirinya tidak mungkin menuruti keinginan sang istri saat kondisinya tidak memungkinkan seperti ini.
"Iisshhh, kok gitu sih tanyanya. Mas Reyhan nggak kangen ya." Jawab Fida sambil memanyunkan bibirnya.
"Bu-bukan begitu. Kamu kan tahu kondisinya. Nggak mungkin kan kita melakukannya saat kondisi tubuhku seperti ini." Jelas Reyhan.
Bukannya dia tidak menginginkannya, namun kondisi tubuhnya yang masih belum leluasa bergerak membuatnya mengubur jauh-jauh keinginannya itu. Fida hanya bisa mencebikkan bibirnya saat mendengar jawaban sang suami.
"Yakin alasannya hanya karena kondisi tubuh kamu, Mas?"
"Iya, tentu saja. Memang ada lagi?"
"Ya, siapa tahu kamu sudah tidak berminat kepadaku, Mas. Tubuhku sekarang kan jadi membengkak begini. Tidak seksi seperti dulu." Kata Fida sambil mengerucutkan bibirnya.
Reyhan yang sudah tahu dengan perubahan mood wanita hamil benar-benar harus ekstra sabar. Dulu, dirinya juga ikut terkena imbasnya saat Vanya mengandung. Dia ikut-ikutan terkena semprotan Kenzo. Namun, jika Vanya mengetahuinya, justru Kenzo yang akan dimarahinya habis-habisan.
"Aku kan meminta kamu yang makan udang, Mas. Kenapa Reyhan juga yang harus makan. Reyhan alergi udang. Jangan menyusahkan orang lain." Begitu kata Vanya saat dirinya ingin melihat sang suami makan udang. Padahal, Vanya juga tahu jika sang suami juga alergi udang. Setiap makan udang, bisa dipastikan bibir Kenzo akan jontor, sejontor-jontornya. Meski hanya begitu saja reaksinya yang dialami oleh Kenzo, dirinya lebih memilih untuk menghindari makan udang.
Reyhan masih diam mengingat masa-masa sulit Kenzo saat Vanya ngidam dulu. Ternyata, dirinya sekarang juga sering mengalami sendiri.
Fida yang masih tidak mendapat jawaban dari Reyhan pun mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah sang suami.
"Mas ih, kok nggak jawab." Gerutu Fida sambil memukul-mukul dada sang suami.
Reyhan gelagapan mendapat pukulan dari Fida pun mencoba menenangkannya.
Mata Fida berbinar bahagia setelah mendengar perkataan Reyhan.
"Benarkah, Mas? Kamu yakin masih tertarik denganku?"
"Tentu saja. Kamu ini ngomong apa sih."
"Baiklah, kalau begitu buktikan sekarang."
"Eh, eh. Maksudnya buktikan apa nih?" Tanya Reyhan bingung.
"Buktikan jika kamu masih tertarik denganku, Mas."
"Hhah? Bagaimana caranya?"
"Ya, gulat dong." Kata Fida sambil berdiri dan menarik lengan Rethan yang sehat.
"Eh, eh mana bisa begitu. Tanganku masih sakit, Yang."
"Tenang, nanti mas Reyhan diam saja. Biar aku yang bekerja."
"Mana bisa begitu."
"Bisa lah. Nanti tugas mas Reyhan hanya satu."
"Apa itu?"
"Merem melek."
Glek
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Opo neh iki, Fid? 🤦
Mumpung hari Senin, jangan lupa vote buat othor ya, biar semangat double atau triple up nya.
Thank you