The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 64



Setelah Cello menyetujui permintaannya, Shanum mulai menceritakan semua kejadian di kampus siang tadi. Dia juga menceritakan beberapa kejadian tidak mengenakkan yang dialaminya hanya karena tidak sengaja dia bertemu dengan Dio.


Shanum akhirnya menceritakan pertemuannya dengan Bella beberapa waktu yang lalu. Dia juga sering mendapat pesan-pesan yang mirip ancaman agar dia menjauhi Dio.


Selama Shanum bercerita, Cello benar-benar menahan diri untuk menyelanya. Dia hanya menampilkan ekspresi terkejut dan kening berkerut ketika Shanum tengah bercerita.


"Tapi semua teman sekelasmu sudah tahu jika kamu sudah menikah, kan?" Tanya Cello.


"Sudah, Mas. Aku memang sudah memberitahu mereka. Ya, meskipun aku tidak mengumumkannya secara langsung sih. Tapi, mereka sudah mengetahuinya sejak awal perkuliahan."


Cello hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Mereka tahu siapa suami kamu?"


"Ehm, sepertinya tidak semua sih, Mas. Hanya ada beberapa yang tahu. Lagi pula, aku merasa tidak perlu menjelaskan siapa suamiku sebenarnya." Kata Shanum.


Cello hanya bisa menghembuskan napas beratnya. Dia terlihat tidak setuju dengan jawaban Shanum.


"Mulai sekarang, jika ada yang tanya kamu sudah menikah atau belum, jawab jika kamu sudah menikah. Sekaligus, katakan siapa suami kamu."


Kening Shanum berkerut saat mendengar perkataan Cello. Dia masih belum memahami maksud perkataan tersebut. Shanum sebenarnya hanya tidak ingin mengumbar kehidupan rumah tangganya.


"Kenapa harus seperti itu, Mas?"


Cello menatap wajah Shanum lekat-lekat sebelum menjawab pertanyaan Shanum.


"Dengarkan aku, Yang. Kehidupan rumah tangga itu tidak selamanya berjalan mulus dan lancar. Ada kalanya juga harus melewati jalan berbatu, jalan berlumpur, bahkan jalan beranjau sekalipun. Tugas kita hanya saling percaya, saling menguatkan dan tetap berusaha sebaik mungkin untuk menghadapi semua cobaan tersebut."


"Mengapa aku minta kamu menjelaskan siapa suami kamu sebenarnya, agar mereka semua tidak salah paham. Anggap saja jika bukan hanya kamu yang mengalami hal tidak mengenakkan dengan hal seperti itu." Kata Cello.


"Apa maksudnya dengan tidak hanya aku yang mengalami hal itu, Mas? Apa kamu juga mengalami seperti yang aku alami?" Tanya Shanum. Dia sedikit menyipitkan kedua matanya dengan perasaan yang mendadak tidak nyaman.


Cello masih diam tak bergeming sambil menatap wajah Shanum. Namun, setelahnya dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan sebelum menjawab pertanyaan tersebut.


"Iya. Aku juga mengalaminya. Bahkan lebih tidak mengenakkan lagi."


Shanum cukup terkejut saat mendengar jawaban Cello. Dia benar-benar tidak menyangka jika hal yang dialaminya, juga dialami oleh sang suami.


"Siapa yang mengganggumu, Mas? Teman sekelasmu? Atau adik tingkatmu?"


Cello segera menggelengkan kepalanya. Dia masih menatap wajah Shanum sebelum menjawab pertanyaan sang istri.


"Bukan. Aku bisa saja mengabaikan hal itu jika semua tindakan absurd tersebut berasal dari teman sekelas, adik tingkat, atau bahkan kakak tingkat sekalipun. Kamu tahu sendiri jika aku tidak pernah menanggapi sikap aneh-aneh dari para perempuan, bahkan sejak masih di sekolah menengah, kan?"


Shanum kembali mengingat hal itu. Ya, dia memang mengetahui jika Cello benar-benar tak tersentuh wanita sejak masih sekolah. Bahkan, dia sendiri saja tidak pernah mendapat perhatian sejak masih sekolah. Shanum mengangguk-anggukkan kepalanya setelah itu.


"Iya. Aku tahu jika kamu memang tidak pernah menanggapi mereka. Lalu, jika bukan berasal dari mereka, kamu mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari siapa, Mas?"


Cello menatap wajah Shanum sebentar sebelum menjawab.


"Dari dosen."


"Apaa?!"


••


Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor ya. Terima kasih.