
"Mas?"
Adrian dan Zarine langsung menoleh saat sebuah suara terdengar di telinga mereka. Saat itu, Adrian langsung membulatkan kedua bola matanya saat menyadari siapa yang telah memanggilnya tersebut. Ya, orang tersebut adalah Kinan.
Kinan yang sudah selesai memilih baju dan juga sudah mengganti bajunya, tampak berjalan menghampiri Adrian sambil menenteng sebuah paper bag yang berisi baju yang dipakainya tadi.
Baju yang dipilih Kinan, rupanya cukup membuat tubuhnya menjadi santapan empuk kedua mata Adrian. Pilihan Kinan yang jatuh pada A-line dress berwarna maroon dengan pajang sedikit dibawah lutut dan kerah V serta berlengan pendek tersebut, mampu membuat desiran halus pada darah Adrian.
Kinan yang saat itu sudah berada di dekat Adrian, langsung menyentuh bahu Adrian yang tadi hendak dipegang oleh Zarine.
"Aku sudah selesai. Mau berangkat sekarang?" tanya Kinan membuyarkan bayangan-bayangan yang mulai muncul pada benak Adrian.
Seketika Adrian menegakkan tubuhnya dan berdehem untuk menetralkan jantungnya yang sudah mulai terusik dengan kedatangan Kinan.
"Ayo," jawab Adrian. Setelahnya, Adrian menoleh ke arah Zarine yang tadi sempat mundur beberapa langkah karena kedatangan Kinan. "Thanks bajunya, Rin. Aku sudah transfer semua baju ini. Kami pamit pergi dulu," ucap Adrian sambil menarik tubuh Kinan agar mendekat menempel pada tubuhnya.
"Santai saja, Yan." Zarine terlihat memaksakan senyumannya saat Adrian dan Kinan hendak beranjak pergi.
Kinan juga sempat mengucapkan terima kasih kepada Zarine sebelum pergi. Setelahnya, Kinan dan Adrian langsung beranjak menuju mobil mereka.
Begitu sampai di dalam mobil, Adrian masih sempat mencuri-curi pandang ke arah Kinan yang sedang merapikan beberapa paper bag yang berisi baju miliknya dan milik Adrian.
"Om belum ganti baju tadi?" tanya Kinan saat mobil yang dikemudikan Adrian keluar dari area butik.
"Om?" Adrian mengerutkan kening bingung ke arah Kinan.
"Hah?" Kinan malah mendadak bengong dengan pertanyaan Adrian. "Maksudnya?"
"Kenapa tadi memanggil 'Mas' tapi sekarang memanggil, Om?"
Namun, saat ini Kinan cukup bingung saat Adrian bertanya tentang panggilan tersebut.
"Ehm, itu tadi hanya refleks saja, Om. Tidak lucu kan jika ada yang mendengar aku masih memanggil Om jika status kita sudah berpacaran?"
Adrian menoleh sekilas ke arah Kinan. "Lalu, jika kamu merasa seperti itu, kenapa sekarang justru memanggilku dengan sebutan Om lagi?"
Kening Kinan berkerut. "Jika bukan Om, memangnya aku harus memanggil apa? Apa Om mau dipanggil 'Mas'?"
"Mau!" Adrian langsung menjawab pertanyaan Kinan dengan cepat seolah tanpa berpikir.
Mendengar hal itu, Kinan hanya bisa melongo sambil menatap wajah Adrian. Tentu saja Adrian langsung merutuki mulutnya yang terkesan bersemangat jika Kinan memanggilnya dengan panggilan 'Mas' tersebut.
"Eh, maksudku, panggilan itu untuk meyakinkan status kita. Nanti, jika bertemu dengan orang tuaku, tidak mungkin juga kamu masih memanggilku dengan panggilan 'Om', kan?"
Kinan akhirnya mengerti dengan maksud Adrian. Dia mengangguk setuju dengan alasan yang diberikan Adrian tersebut.
"Baiklah, aku juga setuju dengan alasan Om. Tapi, aku juga mau panggilan Om ke aku juga ganti. Jangan hanya panggil nama saja. Kurang mesra."
Adrian menoleh sekilas ke arah Kinan.
"Lalu aku harus memanggilmu dengan panggilan apa?"
\=\=\=
Hayo, kasih saran dong? 🤭