The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 31



"Aku juga bisa membuatkan yang tak kalah gemoynya dengan Dryn. Aku jamin, goyanganku nanti bisa membuat yang lebih lucu dari putra kak Shanum."


"Eh?"


Dena langsung menoleh ke arah Rean. Wajahnya langsung merona saat mendengar Shanum terkekeh geli. "Apaan, sih. Jangan aneh-aneh." Dena masih merasa malu saat mendengar godaan Rean dan didengar oleh keluarganya.


"Hehehe, nggak apa-apa lagi, De. Nanti lama-lama juga akan terbiasa." Shanum masih terkekeh geli.


Setelah cukup lama ngobrol, malam itu acara diakhiri menjelang pukul sepuluh malam. Keluarga Rean segera berpamitan, dan diikuti oleh para tetangga dan Pak RT di rumah Dena.


Malam itu, Shanum dan Cello menginap di rumah di rumah Rean. Mereka mengurungkan niat untuk pulang, karena kasihan dengan kedua buah hatinya.


"Papa dan mama bangga sekali denganmu, Re. Papa dan mama sama sekali tidak menyangka jika kamu bisa mengatakan hal seperti tadi," ucap papa Bian sambil menepuk-nepuk punggung sang putra saat berjalan memasuki rumah mereka.


Hal berbeda justru dilakukan oleh mama Revina. Dia langsung memeluk Rean dan menangis tergugu. Mama Revina benar-benar terharu saat Rean terlihat sangat dewasa ketika menyampaikan sendiri niatnya untuk meminang Dena tadi.


"Eh, kenapa Mama malah menangis?"


"Hiks hiks hiks, Mama terharu dan bangga, Re. Mama benar-benar tidak menyangka bayi laki-laki Mama ternyata sudah besar dan bisa berpikiran seperti itu. Dulu, Mama sempat khawatir jika kamu akan telat dewasanya. Hiks hiks hiks." Mama Revina masih tergugu dalam pelukan Rean.


"Haiisshh, Mama ngomong apa, sih? Mana ada telat dewasa," Rean mengusap-usap punggung sang Mama.


Kali ini, Shanum yang menjawab perkataan sang adik. "Tentu saja Mama khawatir, Re. Coba ingat-ingat, dulu kamu berhenti nyen nyen usia berapa. Kamu nggak bakal bisa tidur jika nggak nguyel-nguyel pabrik nyen. Wajar jika Mama khawatir jika ingat kamu masih suka nyariin nyen nyen meskipun sudah masuk playgroup."


Rean menoleh ke arah sang kakak yang sedang berjalan sambil menggendong Drew dan diikuti oleh Cello yang juga sedang menggendong Dryn. Rean hanya bisa mendengus kesal jika sang kakak atau orang tuanya selalu menggodanya dengan mengingatkan masa lalunya.


Setelah membersihkan diri, Rean segera merebahkan tubuhnya di tempat ternyamannya, tempat tidur. Rean benar-benar ingin mengistirahatkan tubuhnya malam itu. Namun, niat itu diurungkan saat sesuatu terlintas di pikirannya.


"Kenapa aku tadi siang aku bisa lupa membahas hal ini, ya. Hhmm, apa aku bahas sekarang saja," gumam Rean.


Dia segera menyambar ponselnya. Terlihat saat itu sudah pukul sebelas malam lewat. Rean membuka aplikasi perpesanannya dan mencari ruang chatnya dengan Dena. Dia membukanya, dan mendapati Dena sedang online. Rean menimbang-nimbang sebentar sebelum mengetikkan sesuatu di sana.


Selamat malam, Miss. ~ tulis Rean pada pesannya.


Terlihat Dena sudah membaca pesan Rean, namun dia belum juga membalasnya.


Malam. Ada apa? ~ balas Dena.


Rean menyunggingkan senyumannya. Dia segera mengetikkan balasan pesan tersebut.


Maaf tadi siang lupa membahas hal ini. Ehm, ini untuk nama panggilan. Nanti, setelah kita menikah, bagaimana saya harus memanggil Anda, Miss? Apakah tetap akan memanggil Anda dengan miss Dena? Ataukah ada panggilan lain yang Anda inginkan? Kalau boleh, lebih baik pakai panggilan lain selain miss Dena. Karena akan tidak nyaman nanti jika saat kita bergoyang di atas kasur, saya akan berteriak Miisssss, aaahhh. ~ tulis Rean.


Dena yang membaca balasan Rean seketika…,


\=\=\=


Seketika apa ya kira-kira yang dilakukan Dena? 🤔