The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Weekend Ini



Setelah selesai makan nasi goreng buatan Reyhan, mereka bertiga segera kembali ke rumah. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.16 dini hari. Vanya pun sudah tidur terlelap dalam dekapan Kenzo. 


Kenzo yang melihat Vanya tengah tertidur lelap dalam dekapannya pun merasa kasihan. Seharusnya, dia memang sedang beristirahat di atas tempat tidur. Namun karena menuruti keinginannya, Vanya harus ikut keluar dini hari begini. Kenzo memberikan beberapa kecupan pada pucuk kepala Vanya.


Kenzo mendongakkan kepalanya menatap punggung Reyhan yang tengah menyetir tersebut.


"Maaf aku merepotkanmu lagi, Rey." kata Kenzo.


Reyhan menatap Kenzo dari balik kaca mobil pun tersenyum.


"Tidak apa-apa, Tuan. Selama masih bisa, saya pasti akan membantu anda." Jawab Reyhan.


Sesampainya di rumah, Kenzo langsung menggendong Vanya menuju kamar tidurnya. Dia tidak ingin membangunkan Vanya yang sudah tidur lelap tersebut. Sementara Reyhan, juga langsung pergi ke kamar tidurnya. Masih ada sekitar dua jam lagi sebelum pagi menjelang. Dia harus mengistirahatkan tubuhnya agar besok tidak tumbang di acara kencan perdananya, eh. 🙄


*****


Keesokan paginya, Vanya sudah berada di dapur bersama bi Ani. Dia tengah membantu bi Ani membuat sarapan.


Reyhan yang sudah rapi langsung keluar dari kamar tidurnya. Dia terlihat berjalan menuju meja makan untuk menghampiri bi Ani yang tengah menata sarapan di atas meja makan.



"Selamat pagi, Bi." Sapa Reyhan.


"Eh, selamat pagi, Tuan Rey." Jawab bi Ani sambil menoleh menatap wajah Reyhan. Kening bi Ani sedikit berkerut karena memperhatikan penampilan Reyhan yang sudah rapi pagi itu. "Eh, anda sudah rapi sepagi ini. Anda akan pergi kemana, Tuan?" Tanya bi Ani.


"Dia akan pergi kencan, Bi." Bukan Reyhan yang menjawab pertanyaan bi Ani, melainkan Vanya yang baru saja keluar dari dapur sambil membawakan kopi untuk sang suami.


Reyhan yang mendengarnya pun menjadi salah tingkah. Berbeda dengan bi Ani yang terlihat bahagia. Wajahnya terlihat berbinar-binar bahagia setelah mendengar perkataan Vanya.


"Benarkah, Non? Alhamdulillah, akhirnya tuan Reyhan bisa segera merasakan surga dunia." Kata bi Ani penuh semangat.


"Surga dunia? Apa itu Bi?" Kali ini Vanya yang bertanya.


"Ya, itu Non, hokya hokya. Hehehe." Jawab bi Ani sambil tertawa.


Vanya yang mendengarnya langsung ikut tertawa. Sementara Reyhan hanya mencebikkan bibirnya karena sudah berhasil di goda oleh dua wanita beda usia yang berada di depannya tersebut.


"Awas jangan macam-macam dulu Rey. Jangan kasih dp. Halalin dulu baru langsung bayar tunai." Kata Kenzo yang tiba-tiba sudah berjalan ke arah meja makan.


Seketika semua yang ada di ruang makan tersebut menoleh. Vanya langsung tersenyum melihat sang suami yang sudah bersih dan wangi.



"Hhhmmm, sudah wangi nih. Jadi pengen peluk." Kata Vanya sambil mendekat ke arah Kenzo.


"Aku kan memang selalu wangi." Jawab Kenzo sambil memeluk tubuh Vanya.


Bi Ani dan Reyhan yang berada di sana pun langsung menghembuskan napas beratnya. Mereka sudah sangat hafal dengan tingkah dua orang yang masih saling menempel tersebut. Tak berapa lama kemudian, mereka sudah mulai menikmati sarapannya.


"Ingat Rey, jangan terlalu gugup. Santai saja. Anggap kamu sedang menghadapi klien." Kata Kenzo.


Reyhan hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Berhubung ini pengalaman pertama bagi Reyhan, dia menerima saja apapun saran yang diberikan oleh Kenzo dan Vanya. Padahal Reyhan tahu jika Kenzo dan Vanya sama-sama tidak mempunyai pengalaman dalam hal pacar memacari. Hadeeehhh, Reyhan kok jadi blank dadakan ya. Bagaimana jadinya nanti jika jalan bareng Fida, bisa-bisa langsung anjlok pasarannya.


"Hari ini, mau ada acara apa Mas? Atau, kita mau ikut kencan Fida dan Reyhan?" Tanya Vanya antusias.


"Nggak ada. Kamu mau jadi kompor di acara kencan mereka?" Tanya Kenzo sambil menatap wajah Vanya. Sedangkan Vanya hanya bisa mencebikkan bibirnya.


Reyhan yang mendengar jawaban Kenzo langsung merasa lega. Menghadapi satu orang seperti Fida saja sudah buat jantung naik turun seperti sedang naik roller coaster, apalagi jika ditambah dengan Vanya. Bisa-bisa mereka akan membuat dirinya langsung terkena serangan jantung karena tingkah ajaib mereka.


"Kita ke tempat Friska hari ini. Aku ingin konsultasi tentang kunjungan orang tua." Jawab Kenzo.


"Kunjungan orang tua? Siapa maksudnya, Mas?" Tanya Vanya penasaran.


"Ya akulah. Seminggu ini aku sebagai calon orang tua kan cuma ngintip sedikit, aku sudah nggak kuat jika hanya ngintipin calon anakku. Bisa bintitan nanti. Aku mau menengok secara langsung" Jawab Kenzo.


Vanya yang mendengarnya langsung membulatkan mata dan mulutnya. Dia benar-benar terkejut mendengar jawaban Kenzo. Bagaimana mungkin dia akan kembali ke tempat dokter Friska hari ini, sedangkan mereka baru sekitar satu minggu yang lalu dari sana. Bisa malu dirinya jika hal itu terjadi.


"Kenapa harus kesana lagi sih, Mas. Aku malu tau." Kata Vanya sambil mencebikkan bibirnya.


"Kenapa mesti malu. Kita kan hanya periksa saja." Jawab Kenzo dengan santainya.


"Periksa apanya. Pasti nanti di sana kamu akan menanyakan hal tentang hokya hokya, Mas. Aku malu tau."


"Nggak usah malu. Nanti diam saja, biar aku yang bicara dengan Friska."


"Iya lah kamu yang bicara, Mas. Orang yang butuh kamu." Gerutu Vanya.


Kenzo menghembuskan napas beratnya mendengar gerutuan Vanya. Sementara Reyhan yang melihat perdebatan sepasang suami istri di depannya tersebut hanya bisa menghembuskan napas beratnya.


Tak berapa lama kemudian, sarapan yang mereka lakukan sudah selesai. Reyhan segera pamit untuk berangkat. Kenzo dan Vanya memberikan semangat kepada Reyhan sambil memberikan beberapa saran. Reyhan hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya mengiyakan.


Reyhan segera mengendarai mobilnya menuju rumah Fida. Tangannya yang sedang mengemudi terasa berkeringat. Musik yang sengaja diputarnya tak cukup mampu untuk menenangkan hatinya. Jantungnya pun juga berdetak semakin cepat saat mobil yang dikemudikannya sudah mendekati rumah Fida.


"Tenang Rey, tenang. Anggap ini seperti sedang menghadapi pertemuan untuk memenangkan proyek baru." Kata Reyhan kepada dirinya sendiri.


Reyhan segera memarkirkan mobilnya di depan rumah Fida. Dia mengatur napas sebentar sebelum keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah tersebut. Reyhan juga sempat melirik penampilannya pada pantulan kaca mobilnya.


Reyhan segera turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama rumah tersebut. Dia mengatur napas sebentar sebelum memencet bel yang ada di sana.


"Assalamualaikum." Sapa Reyhan beberapa saat setelah bel berbunyi.


Ceklek


"Waalaikumsalam calon ayah."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Waahh siapakah itu?


Mohon bantuan like, komen dan vote ya. Biar othor e nggak merasa sendirian.


Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa follow ig othor @keenandra_winda


Thank you