The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 105



Hari ini Shanum dan juga Cello sedang berada di rumah sakit. Mereka sedang mengantri untuk melakukan pemeriksaan  kedua calon buah hati mereka. Usia kandungan Shanum yang sudah mencapai tiga puluh dua minggu, membuatnya gampang merasa lelah. Sementara Cello sudah menjadi sosok calon ayah yang siaga.


"Mas, kita urutan berapa?" Tanya Shanum sambil memegangi pinggangnya.


"Setelah ini giliran kita kok, Yang. Sabar ya," ucap Cello sambil mengusap-usap punggung sang istri.


"Alhamdulillah jika setelah ini giliran kita. Punggungku sudah terasa pegal, Mas."


"Iya, maaf Yang. Tadi aku kira cepat jika pagi, ternyata lama juga."


"Iya. Nggak apa-apa, Mas."


Tak berapa lama kemudian, nama Shanum sudah dipanggil. Cello segera membantu sang istri dan berjalan memasuki ruangan periksa dokter Risma. Cello juga membantu Shanum duduk dengan nyaman di kursi yang berhadapan dengan dokter Risma.


"Selamat pagi, bagaimana kabarnya?" Tanya dokter Risma sambil membuka buku catatan kehamilan Shanum.


"Alhamdulillah baik, Dok. Tapi, saya merasa mudah lelah sekarang ini, dan kaki jadi semakin sering membengkak. Apa mungkin karena usia kandungan semakin besar ya, Dok?" Tanya Shanum.


Dokter Risma tersenyum saat mendengar pertanyaan Shanum.


"Memang benar, bu Shanum. Semakin besar usia kandungan, memang seperti itu. Yang paling penting, Anda harus tetap menjaga kondisi tubuh. Jangan terlalu capek dan banyak beraktivitas."


"Iya, Dok. Saya juga sudah jarang beraktivitas yang berat-berat."


Setelahnya, dokter Risma meminta Shanum untuk berbaring di atas brankar. Cello dengan sigap langsung membantu sang istri untuk berbaring. Seorang perawat langsung membantu mengoleskan gel di sekitar perut Shanum. Setelah itu, dokter Risma langsung mengarahkan sebuah alat di sekitar perut Shanum.


"Anda lihat, para calon jagoan Anda sudah sangat aktif pak Cello. Sepertinya, mereka sudah sangat tidak sabar untuk segera bertemu dengan mama dan papanya," ucap dokter Risma sambil tersenyum.


"Eh, benarkah, Dok? Tapi usia kandungannya kan masih sekitar tiga puluh dua minggu?" Tanya Cello sambil menoleh ke arah sang dokter.


"Iya, Pak. Kebanyakan untuk kelahiran bayi kembar memang lebih awal. Tapi, tidak semuanya seperti itu. Jadi, alangkah lebih baik jika semuanya dipersiapkan mulai sekarang. Jadi, nanti calon orang tua tidak terlalu khawatir."


Setelah cukup memeriksa perkembangan calon buah hati mereka, dokter Risma juga memberikan beberapa resep vitamin untuk Shanum. Dokter Risma juga memberikan beberapa nasehat apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh Shanum.


Hari itu, Shanum dan Cello langsung beranjak pulang begitu mereka sudah selesai mengambil resep vitaminnya. Shanum benar-benar sudah merasa tidak sanggup lagi. Entah mengapa hari ini dia merasa sangat lelah sekali.


"Mas, akhir minggu nanti belanja lagi buat perlengkapannya the boys, ya." Kata Shanum saat sudah berada di dalam kendaraan. Ya, mereka sedang berada di perjalanan menuju rumah.


"Kamu yakin? Nggak capek?"


"Aku nggak capek, Mas. Hari ini aku kan memang hanya sarapan sedikit, dan tadi juga lupa tidak bawa camilan. Jadi, rasanya lemas sekali."


"Iya, Mas."


••


Sementara di kampus Rean, ini sudah masuk hari keempat setelah aktivitas perkuliahan dimulai. Rean dan juga Dandi berada di jurusan yang sama. Jadi, mereka bisa saling berbagi tugas dan pekerjaan.


"Lo yakin mau ngekos?" Tanya Rean kepada Dandi sambil berjalan menuju ruang kelasnya. Ya, mereka ada satu lagi kelas siang itu.


"Belum yakin juga sih. Nyokap nggak ngebolehin."


"Terus, ngapain lo paksaan buat ngekos jika nyokap lo nggak ngasih izin?"


"Capek, Re. Memang sih nggak terlalu jauh rumah gue sama kampus. Tapi macetnya itu, lho."


"Makanya berangkatnya lebih pagi, dong. Baru juga empat hari masuk kuliah sudah bolos dua mata kuliah gara-gara terjebak macet," cibir Rean.


"Gue mana bisa bangun pagi. Paling mentok juga jam enam. Itu juga dibangunin nyokap."


"Terus kalau lo ngekos, emang nggak ada jaminan lo nggak bakal telat bangun dan telat ke kampus?"


"Hehehe, iya juga sih."


"Palingan nanti juga jika jadi ngekos, bangunnya malah lebih telat. Mikirnya, ah tidur sebentar lagi, kampusnya dekat ini,"


"Hehehe, kok lo ngomongnya suka bener sih, Re." Kata Dandi sambil menepuk-nepuk punggung Rean.


Rean hanya bisa mencebikkan bibirnya setelah mendengar perkataan Dandi. Setelahnya, mereka segera memasuki ruang kelas karena perkuliahan sudah akan dimulai.


Seperti biasa, Rean dan juga Dandi akan mengambil tempat duduk di deretan bagian kiri dekat dengan pintu masuk. Entah mengapa mereka suka menempati posisi itu. Kali ini mereka juga mengambil posisi di tempat yang sama. Bahkan, saat ini meja yang ada di depan Rean dan juga Dandi masih kosong.


Beberapa mahasiswa terlihat memasuki ruang kelas. Rean dan juga Dandi masih sibuk dengan ponselnya hingga tidak menyadari kehadiran dosen mereka saat itu. Hingga sebuah suara mengusik telinga mereka.


"Selamat siang, bisa kita mulai perkuliahan kita hari ini?"


Rean yang mendengar suara sang dosen langsung mendongakkan kepalanya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang ada di depannya tersebut.


"Astaga, IGD RS Permata?"