
Kinan hanya bisa mendengus kesal setelah mendengar pertanyaan Dena.
"Emang dukun apa pawang hujan segala?!"
Dena hanya terkekeh geli mendengar sahabatnya tersebut mengomel. Dena memutar tubuhnya hingga kini dia sudah bisa duduk nyaman menghadap ke arah Kinan.
"Sekarang, bisa kamu jelaskan apa maksudnya pawang itu? Dan, yakin kamu akan menghadiri acara resepsi itu?" Dena tampak penasaran dengan sang sahabat.
Kinan tidak langsung menjawab pertanyaan Dena. Dia bahkan masih melanjutkan aktivitasnya memakan potongan buah yang terlihat menggugah seleranya. Melihat hal itu, sontak saja membuat Dena kesal. Dia sudah tidak sabar mendengar cerita Kinan.
"Kin, buruan, ih. Nggak sabar nih nungguin cerita kamu!" Dena melempar bantal dengan motif gajah ke pangkuan Kinan.
"Sabar dulu, dong. Bumil harus banyak-banyakin sabar, biar nanti lahirannya mudah." Kinan masih menanggapi kekesalan Dena dengan santai.
"Cckkk. Mana ada hubungannya sabar sama lancar lahiran coba!" Dena mengerucutkan bibir kesal sambil mengambil potongan buah mangga.
Setelah menuntaskan makannya, kini Kinan sudah siap menceritakan apa yang dialaminya beberapa hari ini. Kinan melepaskan sepatu dan mengangkat kedua kakinya hingga naik ke atas sofa. Kini, Kinan sudah duduk bersila dan siap untuk bercerita.
"Sekarang, sudah siap mendengarkan ceritaku, kan?" tanya Kinan sambil menata bantal sofa sebagai sandaran.
"Dari tadi, Bu." Dena memasang wajah kesal sambil menatap ke arah Kinan.
Kinan sempat terkekeh geli melihat ekspresi Dena. Namun, setelahnya Kinan kembali mengatur ekspresi wajahnya sebelum mulai bercerita.
"Aku akan mulai menceritakan kejadian yang aku alami beberapa hari yang lalu. Tapi, aku minta kamu jangan menyela apapun ceritaku sebelum semua ceritaku selesai. Bagaimana? Kamu mau mendengarkan ceritaku?" tanya Kinan.
Jika kali ini Kinan berniat untuk menghadiri acara resepsi pernikahan Miss Adhia, Dena yakin pasti ada sesuatu yang besar yang membuat Kinan yakin untuk hadir.
Setelah memastikan jawaban Dena, Kinan mulai menceritakan kejadian kecelakaan yang menimpanya di depan minimarket. Tentu saja hal itu membuat Dena langsung terkejut. Dia bahkan melupakan janjinya untuk tidak menyela cerita Kinan.
"Kamu kecelakaan? Dimana? Kok bisa? Ada yang luka?" Dena mendadak panik sambil hendak berdiri.
Kinan buru-buru mencegah ibu hamil di depannya tersebut untuk beranjak.
"Tuh, kan. Apa ku bilang? Jangan menyela ceritaku sebelum selesai. Aku baik-baik saja, Den. Aku juga tidak terluka. Tidak ada lecet-lecet ataupun bekas benturan," ucap Kinan menjelaskan.
Bukannya tenang, Dena justru semakin. Kesal. "Kamu yang benar saja menceritakan kecelakaan yang kamu alami dan menyuruhku diam saja. Mana bisa, Kin?"
"Bisa, kok. Yang jelas, aku baik-baik saja. Sudah, ih. Ini ceritanya mau dilanjut apa tidak?"
Dena buru-buru menganggukkan kepala. Dia membuat gerakan seolah-olah mengunci bibirnya dan membuang kuncinya ke belakang tubuh. Kinan yang melihat tingkah Dena hanya bisa menahan senyumannya.
Setelah itu, cerita Kinan kembali dilanjutkan. Dia mulai menceritakan tentang Adrian yang membawa mobilnya ke bengkel dan mengajaknya ke apartemen. Hingga kedatangan orang tua Adrian malam itu ke apartemen Adrian pun tak luput dari cerita Kinan.
"Ka-kalian di grebek? Tapi pas nggak ngapa-ngapain kan?"
\=\=\=
"Ehm, maunya sih ngapa-ngapain," Kinan said.