
Rean dan Dena yang mendengar suara gedoran pintu pun langsung terbangun. Mereka mendadak duduk dengan kepala saling menoleh. Setelahnya, mereka sama-sama memastikan baju yang mereka pakai tidak terlepas dari tempatnya. Hembusan napas lega mereka desahkan ke udara bersama-sama.
Rean, bukannya dia tidak suka jika terjadi apa-apa antara dirinya dan juga Dena. Namun, dia pasti akan menyesal jika tidak mengingat apapun semalam karena terlalu nyenyak tidur.
Dena buru-buru beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu. Dia segera membuka kunci dan membukanya. Ceklek. Dena mengayunkan pintu kamarnya hingga terbuka.
"Astaga, lama sekali sih, May. Kalian belum selesai celap celup apa?" Pertanyaan mami Dena benar-benar membuat putrinya gelagapan. Dia tidak ingin Rean mendengarnya.
"Apaan sih, Mi. Kami hanya tidur. Kami kecapekan karena acara seharian kemarin."
Mami mencebikkan bibir ke arah sang putri. "Ya sudah, ini sudah hampir jam lima. Kalian segera sholat subuh dan bersiap. Sebentar lagi, kamu juga harus dirias MUA, kan?"
"Iya, Mi."
Mami segera beranjak menyusul papi yang sudah lebih dulu meninggalkan kamar sang putri. Dena kembali menutup pintu dan berbalik. Namun, dia tidak melihat keberadaan Rean. Dena mendengar syara gemericik air dari dalam kamar mandi. Tak berapa lama kemudian, Rean terlihat keluar dengan wajah dan rambutnya yang sedikit basah. Mereka saling pandang sesaat sebelum beranjak.
"Mau barengan atau sendiri?" tanya Rean.
"Ehm, barengan boleh."
"Baiklah. Aku tunggu kalau begitu."
Dena segera mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Tak berapa lama kemudian, dia sudah terlihat keluar dari kamar mandi. Dena mengambilkan sajadah untuk Rean dan untuk dirinya sendiri. Saat itu, adalah pertama kalinya bagi Rean dan Dena sholat berjamaah sebagai sepasang suami istri.
Rean cukup fasih menjadi imam sholat. Dia juga cukup hafal dengan bacaan doa. Bacaannya juga bagus, tidak tergesa-gesa, juga tidak terlalu lambat. Dena benar-benar kaget dengan kemampuan sang suami tersebut.
"Ada apa?" tanya Dena.
"Salim, dong. Masa iya habis sholat langsung pergi gita aja." Rean masih tersenyum sambil menaik turunkan alisnya. Tangannya juga masih digerak-gerakkan di depan wajah Dena.
Melihat wajah tengil Rean, Dena hanya bisa mencebikkan bibir. Meskipun begitu, dia segera meraih tangan sang suami dan mengecupnya. Belum sempat Dena mengangkat kepalanya, Rean tiba-tiba langsung memegang sisi kiri kepala Dena. Dan, cup.
Dengan berani Rean mendaratkan sebuah kecupan pada pucuk kepala Dena. Sontak saja apa yang dilakukan oleh Rean tersebut membuat Dena terkejut. Tubuhnya mendadak kaku dan jantungnya berdegup cukup keras.
"A-apaan itu tadi?" Dena melepaskan tangannya dengan wajah yang terasa panas.
"Kecupan subuh, dong." Rean menjawab masih dengan ekspresi tengilnya. Jangan lupakan alisnya yang naik turun dengan senyuman yang juga menghiasi bibirnya.
Dena benar-benar kesal dengan tingkah Rean. Bisa-bisa, dia akan kebobolan sebelum Rean lulus kuliah nanti. Tanpa menjawab perkataan Rean, Dena langsung berdiri untuk membereskan perlengkapan sholatnya. Setelah itu, mereka segera bersiap-siap untuk acara ngunduh mantu di rumah Rean.
Menjelang pukul enam pagi, MUA yang akan merias Dena sudah datang. Dena sudah bersiap untuk di rias, sementara Rean masih membantu membereskan perlengkapan yang akan dibawa untuk acara ngunduh mantu.
Saat Rean sedang mengambil minum di dapur, mami terlihat berjalan ke arahnya. "Re, nanti jangan menunda untuk memiliki momongan ya. Kalau bisa punya anak yang banyak. Minta saja Dena hamil setiap tahun."
\=\=\=\=
Wuaahhh kira-kira, apa jawaban Rean ya?🤔