
Hari itu, El terpaksa mengajak Fara sekalian. Dia tidak bisa menolak permintaan sang mommy. Meski sebenarnya Fara juga sudah meyakinkan jika dia bisa berangkat belanja sendiri. Namun, mommy Vanya tetap kekeh minta El untuk mengantarnya.
"Nanti mampir ke rumah temanku dulu sebelum belanja." Kata El sesaat setelah mobil yang dikendarainya keluar dari halaman rumah.
"Iya, Kak. Ehm, apa sebaiknya nanti aku turun di halte depan saja Kak. Aku bisa kok pergi belanja sendiri." Kata Fara.
"Tidak usah. Aku tetap akan mengantarmu nanti."
"Apa tidak merepotkan?"
"Tidak apa-apa."
Fara mengangguk mengiyakan. Setelahnya, hanya ada obrolan kecil di antara mereka hingga sampai di depan rumah Zee. El langsung memarkirkan mobilnya di depan rumah yang sudah hampir dua tahun ini tidak dikunjunginya.
"Ayo turun." Kata El sambil melepaskan seatbeltnya.
"Ehm, aku ikut juga, Kak? Apa tidak apa-apa nanti?" Tanya Fara. Dia sedikit tidak enak jika harus ikut masuk ke dalam rumah.
"Apa maksudnya?" Tanya El sambil menatap ke arah Fara.
"Ehm, a-apa aku nanti tidak mengganggu acara kencan Kakak?" Tanya Fara ragu-ragu. Dia memang tidak mengetahui siapa yang akan dikunjungi El saat itu. Dia hanya mengira El akan mengunjungi teman perempuan atau teman dekatnya.
"Apa maksud kamu dengan kencan? Aku mengunjungi sahabat laki-lakiku. Kamu kira aku akan kencan dengan sesama jenis?!" Kata El sedikit ketus. Demi apa El menjadi sangat geram. Tidak mommy, tidak Fara, mereka mengira dia benar-benar memiliki kelainan orientasi s******.
Fara yang melihat wajah El terlihat kesal menjadi semakin tidak enak hati.
"Ma-maaf, Kak. Aku tidak tahu tadi." Jawab Fara sambil menundukkan kepalanya dan meremas kedua tangannya.
Belum sempat El menyahuti perkataan Fara, terdengar suara ketukan dari pintu mobil di sampingnya. Seketika El menoleh dan mendapati Zee sudah berdiri di samping pintu mobil sambil menggendong seorang anak laki-laki. El segera membuka pintu mobilnya, dan disusul oleh Fara.
"Kenapa tidak langsung masuk?" Tanya Zee sambil tersenyum lebar ke arah El.
"Ini juga baru mau masuk. Apa kabar?" Tanya El sambil berjabat tangan dan memberikan pelukan singkat pada tubuh Zee.
"Baik." Jawab Zee sambil melepaskan pelukannya.
"Eh, ini anak Lo? Waahh cakep bener." Kata El sambil menoel-noel pipi gembul bayi berusia sekitar sepuluh bulan yang tengah digendong Zee.
"Jelaslah cakep. Orang adonan dan cetakannya bibit unggul begini. Hasilnya pasti juga tokcer lah." Jawab Zee sambil tersenyum pongah.
"Dasar. Sifat pede lo benar-benar sudah akut dan mendarah daging. Nggak bakal bisa hilang." Dengus El.
El menoleh menatap arah tatapan Zee.
"Oh, kenalkan dia Fara. Fara, kenalkan dia Zee, sahabatku." Kata El.
Setelahnya, Zee dan Fara saling berjabat tangan sambil menyebutkan nama masih-masing. Fara yang melihat putra Zee langsung merasa jatuh hati.
"Ehm, boleh aku gendong, Kak? Namanya siapa?" Tanya Fara.
"Eh, boleh kok. Namanya Genandra, panggilannya Gen. Nggak merepotkan?" Tanya Zee.
"Nggak kok, Kak. Ayo, mau ikut Kakak?" Tanya Fara pada baby G.
Seketika baby G langsung mengulurkan kedua tangannya menyambut uluran tangan Fara. Tangan kirinya langsung memegang pipi Fara dan menepuk-nepuknya dengan lembut.
"Tik tik." Celoteh baby G.
"Eh, maksudnya apa?" Tanya Fara bingung.
"Oh, itu maksudnya kamu cantik." Jawab Zee.
"Siapa yang cantik, Mas?!"
Glek.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Haduh, siapa lagi itu? Jangan lupa tinggalkan jejak ya.
Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, bisa mampir di ig othor @keenandra_winda. Terima kasih.