The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Rean 29



"Baiklah. Aku Setuju." 


Adrian langsung menyetujui usul Kinan yang mengajaknya makan siang di rumahnya sambil membicarakan apa yang sedang mereka hadapi.


Setelah memastikan jawaban Adrian, Kinan segera bergegas untuk beranjak keluar dari mobil Adrian. Namun, saat tangan Kinan meraih handle pintu mobil dan hendak membukanya, Adrian mencegah Kinan.


Sontak saja hal itu membuat Kinan terkejut. Dia mengurungkan niatnya dan menoleh ke arah Adrian.


"Ada apa lagi?" tanya Kinan sedikit kesal.


Bukannya langsung menjawab, Adrian justru mengeluarkan ponselnya dan membuka bagian kamera ponsel tersebut.


"Foto dulu untuk dikirim kepada Mama," ucap Adrian sambil mengarahkan ponselnya untuk melakukan foto selfie dengan Kinan. Tak lupa juga, Adrian membuat rumah Kinan terlihat.


Klik.


Sebuah foto berhasil diperolehnya. Adrian merasa jika foto itu sudah cukup untuk dikirimkan kepada mamanya.


Kinan yang meskipun sudah tahu alasan Adrian melakukan hal itu, tetap saja merasa kesal. Tanpa berpamitan, Kinan langsung membuka pintu dan keluar dari mobil. Namun, sebelum menutup pintu mobil Adrian, Kinan sempat mengucapkan terima kasih.


Setelah itu, dia langsung berjalan memasuki halaman rumah dan menuju pintu utama rumah tersebut. Adrian masih menatap punggung Kinan hingga tubuhnya hilang dibalik pintu rumahnya.


Tak perlu waktu lama, Adrian langsung menyalakan mobil dan menjalankannya meninggalkan rumah Kinan.


Sementara di dalam rumah, Kinan masih berusaha mencerna apa yang baru saja dialaminya. Rasanya, Kinan benar-benar tidak menyangka jika baru saja dia bertemu dengan seorang Adrian Hanggara dan mamanya. Kinan juga tidak menyangka jika persoalan keluarga Adrian cukup rumit. Dan parahnya lagi, dia ikut terseret di dalamnya.


Setelah menenangkan diri, Kinan segera bergegas ke kamar untuk membersihkan diri. Kinan menatap pantulan tubuhnya di depan cermin yang berada di dalam kamar.


"Hhhmm, bajunya cukup pas di tubuhku. Apa si Om yakin memberikan baju ini untukku? Emang nggak sayang uangnya?" gumam Kinan sambil masih berputar-putar di depan cermin.


Hingga beberapa saat kemudian, Kinan sudah selesai dengan rutinitas malamnya. Dia segera beranjak menuju tempat tidur sambil membawa ponsel dan langsung menyalakannya. Kinan memeriksa beberapa pesan yang sempat masuk ke dalam ruang perpesanannya. 


Namun, netranya langsung tertuju pada sebuah nomor baru yang masuk pada panggilan tak terjawab. Kinan tahu nomor siapa itu. Dia langsung menyimpan nomor tersebut dan memberi nama "Si Om" pada nomor tersebut.


Setelahnya, Kinan segera menyimpan ponselnya di atas nakas. Dia merasa sangat lelah dan ingin segera beristirahat.


***


Keesokan hari, seperti biasa Kinan sudah bangun dan mulai beraktivitas. Pagi itu, entah mengapa dia bangun lebih pagi dari biasanya. 


Saat mendengar suara penjual sayur, Kinan langsung bergegas keluar rumah. Dia teringat dengan tawarannya untuk mengajak makan siang Adrian di rumahnya nanti siang. Meskipun sederhana, Kinan ingin memasak saja untuk nanti siang.


Pagi itu, Kinan membeli ayam, udang, jagung dan beberapa sayuran. Untuk bumbu dapur lainnya, Kinan masih mempunyai persediaan yang cukup di rumah.


Setelah selesai berbelanja, Kinan langsung membawa masuk barang belanjaannya tersebut. Dia meletakkan barang belanjaan tersebut di meja makan sebelum dan meninggalkannya ke kamar mandi. Ya, Kinan memutuskan untuk membersihkan diri dulu sebelum beraktivitas.


Beberapa saat kemudian, Kinan terlihat sudah selesai membersihkan diri. Dia hendak beranjak untuk membereskan belanjaan yang baru saja dibelinya. Namun, langkah kakinya terhenti saat suara ponselnya terdengar.


Kinan segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Hallo?"


\=\=\=


Hayo, siapa yang menelepon Kinan pagi-pagi sekali?


Sudah up ya, cuss tinggalkan like dan komen banyak-banyak biar othor nggak merasa sendirian.