
Hari berganti hari. Tak terasa hari persalinan Dena sudah semakin dekat. Rean dan Dena juga sudah melakukan persiapan untuk menyambut kelahiran ketiga calon buah hati mereka.
Pagi itu, Dena sudah merasakan kontraksi. Sebenarnya, sejak semalam dia sudah merasakannya. Namun, karena kontraksinya masih belum terlalu sering, dia menolak saat Rean mengajaknya ke rumah sakit.
Hingga menjelang pukul lima pagi, Dena sudah merasakan kontraksi yang lebih sering dibanding semalam. Melihat hal itu, Rean langsung membawa sang istri ke rumah sakit.
Selama menjalani proses kehamilan, Dena sudah mempersiapkan diri untuk proses kelahiran normal. Meskipun Rean sudah berusaha membujuk Dena agar mau melahirkan melalui operasi, namun Dena tetap kekeh untuk bisa melahirkan secara normal.
Meskipun Rean sangat khawatir dengan sang istri, namun dia tetap berusaha menemani proses persalinan tersebut. Beruntung proses pembukaan Dena berlangsung sangat cepat. Dengan berjuang sekuat tenaga, Dena berhasil melahirkan ketiga buah hatinya.
Rean langsung menangis tergugu sambil menciumi kening sang istri. Dia sudah seperti mau pingsan saat menemani perjuangan Dena melahirkan secara normal. Tidak hanya sekali, tapi Rean melihat ketiga buah hatinya lahir dengan selamat.
"Terima kasih, Yang. Terima kasih. Terima kasih sudah mau berjuang untuk anak-anak kita. Terima kasih. Hu hu hu." Rean masih menangis tergugu. Tubuhnya terasa sangat lemas. Bahkan, untuk berdiri pun Rean seakan tidak mampu. Namun, dia berusaha terlihat tegar. Dia harus membantu untuk menguatkan sang istri.
"Kamu ini ngomong apa sih, Mas. Mereka juga anak-anakku." Dena menatap wajah Rean dengan tatapan lelahnya. Napasnya masih tersengal-sengal.
Seorang perawat segera meminta Rean keluar dari ruang persalinan. Mereka hendak membersihkan tubuh Dena dari sisa-sisa proses melahirkan. Selain itu, Rean juga harus segera mengadzani ketiga buah hatinya.
Dengan langkah kaki yang masih sedikit terseok-seok, Rean berjalan menuju ruang sebelah tempat dirinya harus mengadzani ketiga buah hatinya. Begitu memasuki ruangan tersebut, tampak kesibukan dari beberapa perawat saat membersihkan bayi-bayinya.
Rean berjalan mendekat ke arah mereka. Melihat kedatangan Rean, salah seorang perawat memberikan bayi pertama Rean untuk di adzani.
Tangan Rean masih bergetar saat menerima bayi pertamanya tersebut. Dengan air mata yang mulai menganak sungai, Rean memulai untuk mengadzani satu per satu buah hatinya.
Menjelang siang, seluruh keluarga Rean dan Dena sudah berbondong-bondong datang ke rumah sakit. Tak terkecuali si kembar Drew dan Dryn. Mereka sangat antusias saat mendengar kabar jika aunty kesayangan mereka sudah melahirkan.
"Mana adiknya Drew, Uncle. Aku mau lihat," ucap anak laki-laki yang berusia empat tahun tersebut. Dia masih berdiri di samping box bayi yang cukup tinggi untuk dijangkaunya.
"Dryn juga mau lihat, Uncle." Kembaran laki-laki Drew tersebut tak kalah antusiasnya.
Rean yang sejak tadi berdiri di dekat box bayi, langsung tersenyum saat melihat tingkah menggemaskan kedua anak kembar tersebut.
"Sini, Uncle gendong semua biar bisa lihat adik-adik bayinya."
Hap. Dengan sekali gendong, Rean berhasil menggendong Drew dan Dryn di kedua tangannya. Drew dan Dryn tampak sangat antusias saat melihat tiga bayi kembar tengah terlelap di dalam box bayinya.
Rean tersenyum dan mengangguk. "Iya. Adik bayinya ada tiga. Dua laki-laki, dan satu perempuan."
"Waahhh, adik Dryn banyak ya, Uncle." Dryn tampak sangat antusias saat menatap wajah-wajah bayi mungil tersebut.
Setelah mendengar ucapan sang adik, Drew menoleh ke arah sang mommy dan daddy yang sedang duduk di sofa.
"Mom, Kakak juga mau punya adik banyak seperti Uncle Re. Segini ya, Mom," ucap Drew sambil menunjukkan lima jarinya ke arah sang mommy.
Sontak saja ucapan Drew tersebut mendapatkan pelototan tajam dari Shanum. Namun, hal berbeda justru diperlihatkan oleh Cello.
"Yang, si kakak sudah ngode, tuh. Nambah tiga lagi biar genap lima," Cello mengatakan sambil menaik turunkan alisnya.
Shanum langsung mencebikkan bibir. "Kalau begitu, gantian kamu yang hamil, Mas. Biar aku yang nyetak nanti."
Cello langsung mencebikkan bibir. Sementara Rean langsung tergelak saat mendengar percakapan kakak dan kakak iparnya tersebut.
Menjelang sore, keluarga Shanum sudah berpamitan. Kini, hanya tinggal Rean dan Dena yang menemani buah hati mereka. Kedua orang tua Rean dan Dena sudah bergantian pulang sebelum nanti malam kembali lagi.
Rean masih tampak menatap wajah-wajah ketiga putra putrinya saat Dena memanggilnya.
"Kamu belum kasih nama lengkap buat mereka, Mas?"
"Ehm, kamu maunya apa?" tanya Rean sambil menoleh ke arah Dena.
"Terserah kamu, Mas. Aku ikut kamu saja."
"Ehm, baiklah. Kalau begitu, aku akan kasih nama mereka…,"
\=\=\=
Setelah ini, cerita singkat tentang Kinan ya. Jika tidak berkenan baca, bisa langsung skip. Terima kasih. 🤗