The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 97



Setelah peristiwa Danisha beberapa waktu yang lalu, saat ini kasus Danisha telah ditangani oleh pihak kepolisian terkait penyebaran video yang membawa-bawa nama Cello. Danisha sendiri juga sudah dikeluarkan dari kampus, karena setelah ditelusuri, Danisha menjadi asisten dosen tersebut melalui jalur yang tidak biasa.


Beberapa bulan pun berlalu. Kini, usia kehamilan Shanum sudah memasuki bulan kelima. Dia masih mengikuti kegiatan perkuliahan selama satu semester ini. Rencananya, untuk semester depan dia akan mengajukan cuti. Sang suami dan juga mertuanya sudah ribut untuk memintanya mengajukan cuti. Mengingat saat ini kehamilannya sudah terlihat besar, maklum baby twins.


Selama beberapa bulan ini, Shanum tidak begitu mengalami masa-masa ngidam yang aneh-aneh. Justru Cello yang sering mengalami ngidam. Cello lebih sering ngidam memakan makanan dan minuman aneh-aneh. Dia sering minta dibuatkan makanan yang mendadak terlintas di kepalanya. Dan itu, harus mommy Fara yang membuatnya. Tak jarang Cello ikut menemani sang mommy membuatkan makanan permintaannya.


Sementara Shanum, dia lebih santai. Apapun makanan yang disajikan di meja makan, dia pasti akan langsung melahapnya. Dia cenderung tidak memilih-milih makanan. Namun, ada satu hal yang membuat Cello was-was. Keinginan Shanum untuk hokya-hokya sangatlah besar. Bahkan, bisa datang sewaktu-waktu.


Seperti apa yang terjadi hari ini. Saat ini, Cello dan Shanum tengah berada di kampus. Perkuliahan mereka sudah memasuki penghujung akhir semester. Minggu depan, mereka sudah mulai menjalani ujian akhir semester.


Cello yang sudah menyelesaikan perkuliahannya, sedang berada di kantin kampus bersama dengan Aldi. Mereka membahas perkembangan tempat futsal dan juga perkembangan cafenya.


"Jadi, lo yakin mau membuka cabang tempat futsal itu, Cell?" Tanya Aldi sambil menyendok gado-gadonya. Ya, mereka sekalian menyantap makan siang di kantin kampus.


"Iya. Daddy yang mengusulkan hal itu. Setelah dilihat-lihat memang menjanjikan. Lo tahu sendiri selama sekitar dua bulan ini pengunjung meningkat tajam. Ya, mungkin karena video yang viral itu jadi mereka banyak mengenal gue. Hehehe."


Aldi mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Betul juga, ya. Musibah membawa berkah itu mah namanya."


"Benar sekali."


Saat mereka tengah menikmati makan siangnya, tiba-tiba mereka terkejut dengan kedatangan Shanum. Dia langsung mengambil tempat duduk dan mendekatkan wajahnya di dekat Cello sambil membuka mulutnya.


Mengetahui keinginan sang istri, Cello segera menyuapkan satu sendok gado-gado ke dalam mulut sang istri. Wajah Shanum terlihat berbinar senang.


"Enak, Mas." Komentarnya sambil terus mengunyah gado-gado tersebut.


"Mau dipesankan sekalian?" Tawar Cello sambil kembali menyuapkan satu sendok gado-gado ke dalam mulut Shanum.


"Enggak mau," jawab Shanum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Katanya enak?"


"Iya. Tapi aku mau makan yang lainnya saja."


"Mau makan apa? Biar aku pesankan sekalian."


"Makan sosis, deh. Yang lama." Jawab Shanum sambil tersenyum.


Deg. Cello yang sudah mengetahui maksud perkataan sang istri mendadak keinginan untuk makannya hilang. Dia berusaha menelan salivanya dengan keras. 


"Eh, tadi pagi kan sudah," kata Cello. Sebenarnya, bukan dia tidak mau menuruti permintaan sang istri. Namun, istrinya itu selalu saja meminta hal aneh-aneh. Dan parahnya lagi, Shanum selalu tidak terima jika mereka hanya melakukannya sekali.


"Tadi kan hanya sekali, Mas. Calon anak kamu kan dua. Seharusnya, jika kamu nengokin dia harus adil dong. Masa iya yang satu di tengok, yang satu enggak. Awas nanti mereka akan cemburu lho," kata Shanum.


Seketika Aldi tersedak mendengar perkataan Shanum. Kedua bola matanya membesar dengan mulut terbuka lebar.


"Jadi, yang kalian bicarakan itu main billiard di atas ranjang?!"


"Iya. Memangnya kenapa?" Tanya Shanum dengan santainya.


Aldi hanya bisa mendengus kesal mendengar pertanyaan Shanum.


"Masih tanya memang kenapa, nggak lihat apa disini ada jobeha," jawab Aldi sambil menggerutu kesal.


"Eh, apa itu jobeha, seperti nama kacamata wanita?" Tanya Shanum.


"Jomblo belum bahagia."


Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor ya, biar semangat upnya. Terima kasih.