
"Assalamualaikum." Sapa Reyhan beberapa saat setelah bel berbunyi.
Ceklek
"Waalaikumsalam calon ayah." Jawab Fida sambil membuka pintu dengan lebar.
Seketika tubuh Reyhan langsung menegang. Calon ayah? Apa maksudnya itu? Batin Reyhan.
"Ca-calon ayah? Apa maksudnya itu? Kamu tidak merencanakan hal yang aneh-aneh lagi kan?" Tanya Reyhan dengan wajah khawatirnya.
Fida yang melihat kekhawatiran pada wajah Reyhan pun hanya bisa tersenyum. Dia menarik lengan Reyhan agar segera masuk ke dalam rumahnya.
"Nggak ada. Mana mungkin aku merencanakan hal yang aneh-aneh setelah ancaman kamu kemarin, Mas. Bisa-bisa kencan pertama kita akan langsung gagal." Bisik Fida sambil tersenyum. Dia masih mengapit lengan Reyhan dan membimbingnya masuk ke ruang tengah.
Fida masih terlihat memakai baju rumahan. Sepertinya, dia memang sengaja belum bersiap-siap. Reyhan memperhatikannya sekilas tadi saat sedang membukakan pintu untuknya. Dia tidak berani memperhatikan Fida lama-lama. Bisa-bisa akan langsung jatuh pamornya nanti.
Saat mereka tengah berbisik-bisik, tiba-tiba terdengar suara seseorang mengagetkan keduanya.
"Siapa ini, Fid?"
Sontak Fida dan Reyhan langsung menoleh ke arah sumber suara. Fida tersenyum sambil masih mengeratkan pegangannya pada lengan Reyhan.
"Kenalkan ini mas Reyhan, Pa." Kata Fida.
Seketika Reyhan merasakan mulas pada perutnya. Dia melihat wajah seorang laki-laki paruh baya di depannya tersebut tampak tidak bersahabat. Tatapannya seolah-olah hendak membakar tubuhnya hidup-hidup. Namun, Reyhan segera tersadar. Dia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan papanya Fida.
"Selamat pagi Om. Perkenalkan, nama saya Reyhan." Kata Reyhan sambil mengulurkan tangan.
Papa Fida masih terlihat sangat tidak bersahabat. Kedua alisnya masih terlihat terangkat dengan tatapan mata menelisik penampilan Reyhan. Meskipun begitu, papa Fida tetap menyambut uluran tangan Reyhan.
"Surya. Surya Bagaskara." Kata papa Fida sambil melepaskan tautan tangannya. "Kamu siapanya Fida?" Tanya pak Surya.
Reyhan kembali menegang. Fida yang mengetahuinya langsung berusaha menenangkannya dengan mengusap-usap lengan kanan Reyhan.
Pak Surya terlihat mengerutkan keningnya. Dia menatap sang putri dengan tatapan penuh selidik.
"Apa ini alasan kamu selalu menolak perjodohan itu?" Tanya pak Surya kepada Fida.
Fida pun mengangguk mengiyakan pertanyaan sang ayah. Dia harus berakting dengan baik jika ingin rencananya untuk membatalkan perjodohan itu berhasil.
"Benar, Pa. Aku memang tidak mengatakan sebelumnya, karena memang mas Reyhan belum bisa kemari. Aku yakin mama dan papa pasti tidak akan percaya kepadaku jika aku tidak benar-benar membawanya kemari." Jawab Fida dengan penuh keyakinan.
Pak Surya masih mengamati Fida dan Reyhan bergantian sebelum kemudian meminta Reyhan untuk duduk. Reyhan dan Fida pun menuruti permintaan pak Surya. Fida masih bergelayut pada lengan Reyhan. Dia seolah-olah tidak ingin membiarkan Reyhan lepas darinya walau hanya sedetik pun. Pak Surya yang melihat tingkah sang putri langsung menatapnya dengan tajam.
"Itu kenapa tangan masih menempel di lengan Reyhan? Kamu pikir apa yang akan papa lakukan kepada calon menantu papa?" Kata pak Surya sambil menatap wajah sang putri.
Duuaaarrrr
Bagai disambar petir di pagi hari yang cerah, Reyhan tersentak kaget. Tubuhnya langsung menegang saat mendengar perkataan pak Surya.
"Calon a-apa?!"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Pip pip pip calon mantu..