The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 38



Rean hanya bisa tersenyum kikuk setelah mendengar perkataan maminya Dena. Tentu saja dia hanya bisa mengangguk mengiyakan. Tidak mungkin juga kan Rean akan bilang jika mereka tidak akan melakukannya 'hal itu' setidaknya sampai Rean lulus kuliah.


Tak berapa lama kemudian, giliran Rean yang bersiap. Dena sudah hampir selesai mempersiapkan diri. Dia juga sudah menyiapkan pakaian yang akan dibawanya ke rumah Rean. Dia tidak ingin kelupaan seperti Rean.


Menjelang pukul delapan, semua keluarga Dena sudah bersiap. Mereka segera berangkat menuju rumah Rean. Tidak banyak orang yang ikut pada hari itu, karena memang orang tua Dena tidak mengadakan acara besar-besaran.


Sekitar satu setengah jam kemudian, rombongan Rean dan Dena sudah memasuki rumah keluarga Rean. Halaman rumah Rean juga sudah disulap sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah tempat pesta pernikahan dengan konsep garden party.


Bunga mawar putih yang mendominasi tempat tersebut benar-benar membuat Dena takjub. Dena benar-benar terharu dengan apa yang dilakukan oleh mama mertuanya tersebut. 


Jadi, ini alasan kenapa mama Revina menanyakan bunga apa yang paling aku sukai? Ternyata, mama Revina membuatkan kejutan yang luar biasa indah, batin Dena. 


Dena bahkan tidak sadar saat lengannya mencengkeram lengan Rean dengan cukup keras, hingga membuat si empunya meringis kesakitan.


"Sshhh, Miss. Ini kenapa kenceng sekali pegangannya. Tenang saja, aku nggak bakal lari kok," ucap Rean sambil menoleh ke arah Dena dan menyunggingkan senyuman khasnya.


Sontak saja Dena tersadar dan segera melepas pegangan tangannya. Wajahnya sudah terasa panas karena malu.


Beberapa saat kemudian, acara ngunduh mantu pun segera berlangsung. Sama seperti di rumah keluarga Dena, Rean dan keluarga juga tidak mengundang banyak orang. Hanya ada keluarga dekat dan beberapa kenalan yang hadir. Atasan Rean dan sang istri juga hadir hari itu.


"Mas, kenapa anak kita nggak mau dibuatkan acara pesta seperti ini, ya?" tanya Keyya, istri Kaero atasan papa Bian.


"Sean kan memang tipe-tipe orang nggak mau show up di depan banyak orang, Yang. Dia maunya di belakang layar."


"Nanti saja. Jika jika anak bungsu kita menikah, kamu bisa buatkan pesta pernikahan untuknya."


"Lei menikah? Huh, kapan anak itu mau menikah coba. Di dekati perempuan saja seperti anti begitu, Mas. Heran deh. Kenapa anak-anak kamu semuanya jadi seperti itu sih," Keyya masih menggerutu kesal.


"Nggak apa-apa, Yang. Dari pada di obral. Lebih baik seperti ini. Apa kamu mau jika putramu setiap kali jalan ada yang komentar 'eh, kamu mantannya ini ya? Kamu mantannya itu ya? Bagaimana kabar mantan kamu yang itu?' berasa seperti obralan, Yang."


Keyya hanya mencebikkan bibir. Belum sempat Keyya bersuara, seseorang mendekati mereka dan meminta Keyya dan Kaero untuk berfoto bersama. Hari itu, semua tampak ikut dalam euforia di pernikahan Rean dan juga Dena.


Rean dan Dena tidak hanya berdiam diri di atas pelaminan, namun mereka juga ikut berbaur dan menyapa para tamu undangan yang hadir. Rean yang sudah mengenal beberapa diantara mereka pun terlihat sangat akrab.


Dena, sesekali ikut menemani Rean berbaur dengan para tamu undangan. Namun, selebihnya dia lebih banyak bersama dengan Shanum yang saat itu sedang menemani twins. Dena juga beberapa kali ditarik oleh mama Revina untuk dikenalkan dengan beberapa orang teman dan keluarga besarnya.


"Waahh, jadi ini ya dosennya Rean yang sekarang sudah jadi istrinya? Hhmm boleh dong jadi dosen di kampus dan dosen di dalam kamar. Hehehe."


"Eh?"


\=\=\=\=


Siapa sih itu? 🤔