
Tak berapa lama kemudian, Kinan terlihat sudah keluar dari kamar. Dengan bantuan sang bibi, Kinan berjalan mendekati tempat acara ijab kabul. Dia segera dituntun untuk duduk di samping Adrian.
Mama Adrian langsung terkesiap kaget saat melihat penampilan Kinan. Kinan memang terlihat sangat pangling. Mama Adrian bahkan sempat berbisik pada telinga Adrian.
"Calon istri kamu cantik sekali, Yan. Awas nanti jika masih menggerutu dan menyalahkan mama dan papa."
Adrian hanya bisa mendengus kesal. Dia tidak berani menoleh ke arah Kinan karena khawatir oleng dan pikirannya langsung ambyar.
Sebenarnya, Adrian sudah mengetahui jika Kinan akan sangat pangling jika dia mau make up. Meskipun tidak terlalu tebal, namun cukup membuat wajahnya berbeda.
Setelah Kinan duduk di samping Adrian, penghulu mulai mempertanyakan semua kesiapan Adrian dan Kinan. Keduanya menjawab dengan cukup yakin jika telah sama-sama siap.
Selanjutnya, acara pun dimulai. Paman Kinan yang bertindak sebagai wali Kinan pun menjabat tangan Adrian. Dengan suara lantang, Adrian menjawab lafadz ijab kabul tersebut dalam satu tarikan napas.
"Bagaimana para saksi? Apakah sah?" Pak penghulu bertanya kepada saksi yang sudah hadir.
Sah!
Sah!
Sah!
Alhamdulillah. Doa langsung dipanjatkan untuk kedua pasangan suami istri yang baru saja sah tersebut.
Adrian dan Kinan masih belum berani menoleh. Mereka benar-benar gugup dengan dada yang masih bergemuruh. Bahkan, saat memasangkan cincin pernikahan pun tangan Adrian dan Kinan masih terlibat bergetar.
Hingga mama Adrian berbisik kepada sang putra untuk memberikan sebuah kecupan pada kening Kinan. Entah mengapa Adrian mendadak blank seperti itu.
Mau tidak mau, Adrian menuruti ucapan sang mama karena merasa malu jika menolaknya.
Cup.
Sebuah kecupan pertama setelah sah menjadi pasangan suami istri pun berhasil dilakukan. Hingga kini, Kinan dan Adrian berani untuk saling mendongakkan kepala.
Begitu tatapan kedua pasang mata mereka bertemu, Adrian langsung membulatkan kedua bola matanya. Lidahnya terasa kelu saat melihat wajah Kinan yang benar-benar pangling.
"Cantiknya." Refleks bibir Adrian mengucapkan hal itu hingga membuat gelak tawa semua orang yang hadir saat itu.
Adrian dan Kinan langsung merasa malu saat gelak tawa terdengar di kedua telinga mereka. Mama Adrian langsung mendekat dan menepuk-nepuk bahu putranya tersebut.
"Sekarang, kamu sudah yakin tidak akan menyesal, kan? Masih mau menggerutu kesal kepada mama dan papa?"
Lagi-lagi gelak tawa langsung terdengar dari beberapa orang disana. Adrian dan Kinan menjadi semakin malu menjadi pusat perhatian para tamu undangan.
\=\=\=\=
Hhhmmm, kira-kira akan ada apa lagi ya setelah ini. Othor caveks, mau borem alias bobok merem dulu. Lanjut lagi jika sudah ramai ya.
Sambil nunggu up, othor promosi dulu untuk cerita baru othor 'Tetangga Kamar' cuss kepoin sebelum babnya semakin banyak. Biasanya othor suka malas baca jika sudah banyak 🤧
***
"Eh, eh. Ini mau kemana, Pak?" tanya Nayra bingung. Dia masih kesulitan mengikuti langkah kaki Rainer yang berjalan cukup cepat tersebut.
Nayra memberanikan diri bertanya kepada Rainer.
"Pak, i-ini kita ma…eemmphh hhmmmm."
Entah apa yang dipikirkan Rainer saat itu. Ketika mendengar pertanyaan Nayra, dia langsung menarik pinggang Nayra dan menempelkan tubuhnya pada dinding. Secepat kilat Rainer langsung membungkam bibir Nayra dengan bibirnya.
Kalau ditanya apa yang dia lakukan? Tentu saja Rainer akan menjawab tidak tahu. Dia sendiri merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi.
Nayra langsung terkejut saat Rainer tiba-tiba menciumnya. Apakah itu ciuman pertamanya selama dua puluh lima tahun? Dan, jawabannya adalah iya. Alih-alih mendapatkan ciuman pertama dari suaminya kelak, Nayra justru tidak menyangka jika dia akan melepas ciuman pertamanya dengan atasan di kantor yang sangat menyebalkan.
Pun demikian dengan Rainer. Selama tiga puluh tahun usianya, dia juga belum pernah merasakan bagaimana rasanya berciiuman. Selama ini, Rainer terlalu larut dengan bayang-bayang seseorang hingga melupakan kehidupan pribadinya.
Jantung Rainer dan Nayra langsung berdegup sangat cepat. Posisi tubuh mereka yang saling menempel erat, dapat membuat mereka bisa merasakan degup jantung cepat satu sama lain.
Saking terkejutnya, Nayra hanya bisa mencengkeram jas yang dipakai oleh Rainer dengan kedua tangannya. Sementara Rainer, dia merengkuh pinggang Nayra dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menopang kepala Nayra agar tidak terbentur dinding.
Tidak lama, adu mulut Rainer dan Nayra hanya berlangsung sekitar lima detik. Hingga Rainer menjauhkan wajahnya dari wajah Nayra. Tatapan mata keduanya bertemu.
Nayra yang masih terkejut, hanya bisa membulatkan kedua matanya menatap wajah Rainer yang sangat dekat tersebut.
"Pa-Pakk.. eemmpphhh."
Nayra hendak bersuara. Namun, lagi-lagi Rainer membungkam bibir Nayra dengan bibirnya. Kali ini, Rainer sedikit menggerakkan bibirnya. Entah dia belajar dari mana, mungkin dari kiriman video Felix yang selalu merekomendasikan film pendek yang berisi konten plus-plus. Saking banyak plusnya, layar ponsel Rainer langsung berubah jadi biru semua. 🙄
Lagi-lagi Rainer melepaskan bibirnya dan menjauhkan wajah. Napasnya dan Nayra cukup memburu meskipun tidak sedang lomba lari.
Nayra hendak protes, karena sudah dua kali Rainer mencuri ciiuman bibirnya. Jika sampai ada yang ketiga kali, Nayra tentu saja tidak akan tinggal diam. Lagi-lagi, Nayra hendak protes kepada Rainer. Dia sudah bersiap-siap membuka mulutnya melayangkan protes.
"Pa…, emmpphh hhhhmmmmpppphhh."
Tuh, kan. Lagi-lagi Rainer langsung menyerang. Tak lagi tinggal diam, tangan Nayra yang semula mencengkeram erat jas yang dipakai Rainer, kini berpindah posisi. Nayra melepaskan cengkraman tangannya. Kini, kedua tangan Nayra bergerak menyusuri bahu Rainer hingga keatas.
Nayra menyusupkan jari-jari kedua tangannya pada rambut bagian belakang kepala Rainer dan mencengkeramnya dengan lembut. Jangan kira Nayra akan diam saja saat bibir Rainer lagi-lagi bermain di bibirnya. Kali ini, Nayra ikut membalas permainan Rainer.
Hhmmmppphhhh. Eemmmppphhhhh.
Suara pertemuan benda kenyalntersebut semakin terdengar. Entah Nayra dan Rainer mendapat kursus kilat dari mana. Keduanya langsung secara otomatis saling membuka bibirnya. Tak ayal, pertukaran saliva pun semakin gencar dilakukan. Bahkan, kini tangan kiri Rainer pun sudah turun hingga menyentuh bagian book ong Nayra dan mereemasnya dengan gemas.
Tentu saja Nayra langsung bereaksi dengan tindakan yang dilakukan oleh Rainer tersebut.
"Euugghhmmpphhh."
Nayra langsung mendeesah dan semakin menempelkan tubuhnya pada tubuh Rainer. Sontak saja tindakannya tersebut membuat bagian depan tubuh Nayra menempel dengan erat pada tubuh Rainer. Tanpa disadari Nayra, ada yang sudah mulai baper di bagian bawah sana.
Ketika keduanya sedang larut dalam aktivitas adu mulut, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan.
"Ka-kalian?"