
"Hhhaaaahhh?!" Vanya langsung cengo mendengar perkataan tante Hastari. "Ma-maksud tante apa?" Tanya Vanya.
Mama Kenzo mengulas senyum sambil mengusap bahu Vanya dengan lembut. "Mama, sayang. Kamu harus membiasakan diri dengan panggilan itu ya," katanya dengan lembut. "Mama mau, kamu dan Kenzo segera menikah. Tidak usah pacaran terlalu lama. Mama khawatir jika kenzo tidak bisa mengendalikan diri dengan baik," jawab tante Hastari sambil mengamati tubuh Vanya dan tersenyum puas.
Sementara itu, Vanya masih bingung dengan maksud wanita di depannya ini. Apa maksudnya? Menikah? Dengan siapa? Pertanyaan itu terus berkelebat di dalam pikiran Vanya.
Ketika Vanya masih diam mematung, Vanya dikagetkan dengan tarikan pada lengannya.
"Ayo kak, kita keluar dari sini," kata gadis remaja yang sejak tadi mengapit lengannya, Kezia.
Karena masih bingung, Vanya hanya bisa mengikuti langkah kedua orang tersebut.
"Cepat mandi dan segera keluar Ken. Mama mau kamu segera mengumumkan pernikahanmu. Secepatnya!" Kata mama Kenzo sebelum beranjak meninggalkan kamar sang putra.
Kenzo yang mendengarnya hanya mendengus kesal sambil memandang kepergian tiga orang wanita tersebut dari kamarnya. Kenzo segera beranjak menuju kamar mandi untuk melanjutkan niatannya membersihkan diri.
Setelah beberapa saat kemudian, Kenzo sudah tampak rapi dengan tuxedo yang membalut tubuh tegapnya. Dia berdiri di depan cermin yang ada di dalam walk in closetnya untuk memastikan penampilannya. Ketika sedang merapikan dasi, tiba-tiba terdengar suara dering ponselnya. Kenzo mengambil ponsel yang ada di atas sofa dan segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut setelah sebelumnya mengetahui id pemanggil.
"Ada apa?" Tanya Kenzo ketika panggilan sudah terhubung.
"Maafkan saya tuan muda, wanita yang kemarin sudah saya janjikan untuk menjadi kekasih bayaran anda tidak bisa datang. Dia mengalami kecelakaan tadi pagi di daerah Bandung," kata si penelepon menjelaskan.
Kenzo mengerutkan keningnya. Kecelakaan? lalu, siapa gadis tadi yang di bawa mama untuk diperkenalkan kepada papa? Batin Kenzo bingung.
"Apa maksud kamu?" Tanya Kenzo memastikan.
"Maaf tuan, saya gagal membawa wanita untuk menjadi kekasih bayaran anda,"
"Jika wanita yang kamu cari tidak bisa datang, lalu siapa wanita yang ada di kamarku tadi?" Tanya Kenzo.
"A-apa?!" Jawab si penelepon. "Wa-wanita di dalam kamar anda?" Tanyanya si penelepon lagi.
Cciiihhh. Kenzo mendesah kesal. Dia harus segera memastikannya. Dia tidak mau mendapat masalah dari wanita yang tidak dikenalnya itu.
"Sudah, sekarang segera temui aku di taman belakang, Rey!" Perintah Kenzo.
"Baik, tuan" jawab Reyhan, asisten pribadi Kenzo.
Kenzo segera merapikan dasinya dan buru-buru berjalan keluar dari dalam kamarnya. Dia segera menuju taman untuk menemui Reyhan dan mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.
Sementara itu, Vanya dibawa oleh Kezia dan mamanya untuk diperkenalkan kepada papa Kenzo.
"Pa, lihat siapa yang mama bawa kemari," kata mama sambil menarik lengan Vanya agar mendekat ke arahnya.
Seorang laki-laki segera berbalik dan menggeser tubuhnya agar bisa menghadap Vanya. "Siapa ma?" Tanyannya kepada sang istri.
Sementara Vanya hanya diam sambil membulatkan mata dan mulutnya. Apa-apaan ini, calon istri siapa?, batinnya ketika mendengar jawaban dari wanita yang berdiri di sampingnya itu.
Laki-laki yang ada di depannya segera tersenyum sambil mengulas senyum.
"Kenalkan, saya Michael Abram. Kamu bisa memanggil Om, Mike," katanya sambil mengulurkan tangan.
Vanya yang tersadar segera menyambutnya dan mengecup tangan laki-laki yang ada di depannya tersebut.
"Kok Om sih Pa," protes Kezia yang sedari tadi berdiri di samping Vanya. "Panggil papa dong, sebentar lagi kak Vannya kan akan menikah dengan kak Ken, jadi dia juga akan jadi anak papa dan mama kan," lanjutnya.
Kedua orang tersebut segera menganggukkan kepalanya untuk membenarkan apa yang dikatakan oleh Kezia.
"Benar, panggil papa saja" koreksi laki-laki itu sambil mengulas senyumnya.
Vanya yang masih linglung hanya bisa mengangguk sambil memaksakan senyum. Dia benar-benar bingung dengan situasi yang tengah dihadapinya saat ini. Belum sempat Vanya menyahut, sebuah tangan besar tiba-tiba menarik lengannya hingga membuatnya sedikit terkejut. Vannya menoleh untuk melihat siapa pelaku tersebut. Kenzo.
"Ma, Pa, aku bawa dia sebentar," katanya sambil menarik lengan Vannya menjauh dari keluarga Kenzo.
Kenzo tidak mempedulikan panggilan sang mama untuk menghentikan langkahnya. Kenzo tetap membawa Vanya pergi dari sana dan berjalan menuju balkon lantai dua rumah tersebut.
"Kita harus menikah," kata Kenzo setelah sampai dan melepaskan tarikan tangannya.
"Menikah?!"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Adakah yang masih menunggu next partnya?
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, comment dan vote.
Biar aku berasa ada temannya… 🥺🥺