The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Tingkah Kenzo



Sementara di sebuah tempat praktek dokter pribadi, terlihat Kenzo tengah memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Vanya yang mengetahui jika tujuannya sudah sampai pun langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut.


"Kita tidak ke rumah sakit, Mas?" Tanya Vanya.


"Hari ini weekend. Friska praktek di rumah. Ayo turun." Kata Kenzo sambil melepaskan seat beltnya dan segera membuka pintu.


Vanya pun segera mengikuti sang suami. Dia segera melepas seat belt dan turun dari mobil. Kenzo menggenggam tangan Vanya dan menariknya dengan lembut menuju pintu masuk tempat praktek tersebut.


Tempat praktek tersebut cukup lumayan besar untuk ukuran tempat praktek pribadi. Ada sebuah loket pendaftaran dan ruang tunggu di sana. Di bagian kanan ada sebuah apotek dan taman bermain untuk anak. Di samping taman tersebut terdapat sebuah kantin yang lumayan besar.


Kenzo segera membawa Vanya untuk menuju loket pendaftaran. Alih-alih mendaftar, Kenzo malah meminta petugas yang ada di sana untuk menelepon Friska. Dia berdalih jika sudah menelepon Friska sebelumnya.


Memang benar apa yang dikatakan Kenzo. Sejak subuh tadi, dia memang sudah menghubungi Friska jika dirinya dan Vanya akan memeriksakan kandungan sang istri. Awalnya Friska meminta mereka untuk datang langsung ke rumah sakit keesokan harinya, namun bukan Kenzo namanya jika tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Akhirnya, mau tidak mau Friska mengiyakan permintaan Kenzo.


Setelah berhasil menghubungi Friska, Kenzo langsung menarik lengan Vanya dan langsung membawanya menuju ruang praktek Friska. Vanya sempat menoleh menatap para ibu hamil dan suaminya yang tengah duduk menunggu giliran di ruang tunggu. Dia merasa tidak enak telah menyerobot nomor antrian.


"Mas, aku merasa tidak enak. Kenapa tidak antri saja sih?" Tanya Vanya.


"Aku sudah pesan Friska dari tadi pagi, Yang. Jadi tidak apa-apa jika kita langsung masuk." Kata Kenzo sambil terus melangkahkan kakinya menuju ruang praktek tersebut.


Vanya pun hanya bisa menuruti permintaan sang suami. Kenzo langsung membuka pintu ruang praktek tersebut dan menarik Vanya agar segera masuk. Dokter Friska dan seorang asisten hanya bisa menghembuskan napas beratnya saat melihat Kenzo datang bersama dengan Vanya.


"Ada apa lagi sih, Zo? Istri kamu ada keluhan? Dari subuh kamu sudah gangguin aku." Kata dokter Friska.


Kali ini Vanya yang merasa tidak enak dengan dokter Friska.


"Maafkan mas Kenzo, Dok. Saya sudah melarangnya melakukan hal ini dari tadi pagi, tapi dia tetap tidak mau dengar." Kata Vanya.


"Ya, kalau sudah ada maunya memang suami kamu nggak akan bisa dicegah, Van." Jawab dokter Friska.


Sementara Kenzo yang mendengar perkataan dua wanita di depannya hanya bisa mencebikkan bibirnya. Saat ini, Kenzo dan Vanya sudah duduk berhadap-hadapan dengan dokter Friska.


"Lalu, ada masalah apa sampai kamu mengajak istri kamu kemari, Zo?" Tanya dokter Friska. Dia menatap wajah Kenzo dan Vanya bergantian.


Vanya menggelengkan kepalanya sekilas, sebagai tanda tidak mengetahui maksud sang suami.


"Ehm, itu. Sebenarnya, aku ingin memastikan apakah benar-benar aman jika kami melakukan hubungan suami istri?" Tanya Kenzo secara langsung. Dia bahkan tanpa menggunakan basa basi lagi saat menjelaskan kedatangannya ke tempat praktek sahabatnya tersebut.


Seketika dokter Friska membulatkan mata dan mulutnya. Dia benar-benar geram setelah mendengar perkataan Kenzo. Hal yang sama pun juga dilakukan oleh Vanya. Dia cukup merasa malu saat baru mengetahui niatan sang suami mengunjungi tempat praktek sang sahabat tersebut.


"Kamu ini ada ada saja, Zo. Saat pemeriksaan terakhir dulu aku kan sudah menjelaskannya. Saat di telepon pun aku juga sudah menjelaskannya padamu. Apa lagi yang kamu khawatirkan?" Tanya dokter Friska. Dia benar-benar merasa geram dengan sang sahabat tersebut.


"Ehm, aku kan perlu memastikannya secara langsung, Fris." Jawab Kenzo tanpa dosa.


Dokter Friska hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun, dia tetap melakukan pemeriksaan kepada kandungan Vanya. Setelahnya, dia juga memberikan beberapa nasehat kepada Kenzo dan Vanya agar aktivitas yang akan mereka lakukan tidak membahayakan calon bayi mereka. Kenzo dan Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Setelahnya, mereka segera pamit undur diri.


"Aku kan hanya ingin memastikan, Yang. Setelah mengetahui jika semua baik-baik saja kan kita bisa langsung praktek." Kata Kenzo sambilĀ  tersenyum dan menoleh menatap wajah Vanya yang tengah cemberut.


"Praktek apaan sih, Mas. Orang sudah canggih begini." Kata Vanya sambil menunjuk ke arah perutnya.


"Ya, maksudku agar lebih mahir lagi, Yang. Kita kan baru pertama kali ini menghadapi kehamilan. Jadi aku harus memastikan kondisi kalian benar-benar baik-baik saja." Jawab Kenzo.


Vanya hanya bisa diam. Dia sedang tidak ingin berdebat dengan sang suami. Hingga netra matanya terfokus pada jalanan di depannya yang terlihat berbeda dengan jalan menuju rumah mereka.


"Kita mau kemana, Mas? Ini kan bukan jalan pulang?" Tanya Vanya.


"Siapa yang bilang kita akan pulang?" Jawab Ken Kenzo sambil tersenyum smirk ke arah Vanya.


"Lalu, kita mau kemana?"


Belum sempat Kenzo menjawab pertanyaan Vanya, mobil yang dikemudikannya sudah berbelok. Vanya membulatkan netra matanya saat mengetahui tujuan sang suami.


"Hotel?! Mau apa kita ke sini, Mas?" Tanya Vanya.


"Mau buat adonan agar itu cepat mengembang." Jawab Kenzo sambil menunjuk perut Vanya dengan kepalanya.


"Apaa?!"


*****


Sementara di sebuah mall, Reyhan dan Fida tampak berjalan menuju ke toilet. Mereka sudah membeli tiket bioskop yang akan segera dimulai sekitar dua puluh menit lagi. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat sepasang laki-laki dan perempuan yang tengah berdebat di dekat toilet tersebut.


"Eh, bukankah itu?"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=


Ada yang nungguin nggak nih?