The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Extra Part M2.99



"Itu, lihat saja di belakang kamu, Mas." Kata Revina sambil menunjuk orang yang berdiri di belakang Bian.


Glek.


Bian langsung menelan salivanya dengan keras saat melihat dua orang yang tengah berdiri di depannya. Dia tidak menyangka jika mereka sedari tadi memperhatikan tindakan yang dilakukannya bersama dengan sang istri.


"Ka-kalian mengapa ada di sini?" Tanya Bian. 


Dia berusaha mengalihkan rasa malunya dengan mengubah ekspresi wajahnya hingga kini terlihat biasa saja. Namun, hal tersebut tidak bisa menyingkirkan rona merah yang sudah menjalar ke telinga Bian.


"Eh, maaf Pak. Kami memang sudah berada di sini sejak sekitar satu jam yang lalu. Ada yang harus kami bahas sebelum besok pagi-pagi sekali kami harus presentasi." Jawab Angga. 


Ya, Angga dan Erin memang sejak satu jam yang lalu sudah berada di rumah Revina. Mereka berada di teras samping dekat dengan ruang keluarga yang hanya dibatasi oleh kaca yang lebar. Teras yang langsung terhubung dengan taman tersebut sudah memiliki satu set sofa dan juga karpet dengan meja yang cukup lebar.


Revina, Angga dan juga Erin sejak tadi menyelesaikan pekerjaan mereka sambil makan rujak mangga yang dipetik dari pohon yang berada di taman. Revina meninggalkan mereka berdua sebentar untuk menjemur baju sebelum bertemu sang suami.


Namun setelah selesai menjemur baju, Revina malah dihentikan oleh Bian yang baru turun dari lantai atas. Bian yang baru mengetahui hal itu hanya bisa mengangguk mengiyakan. Setelahnya, dia melirik sang istri yang terlihat sedang menahan tawa.


"Baiklah, silahkan lanjutkan pekerjaan kalian." Kata Bian.


Baik Angga dan juga Erin langsung mengangguk. Mereka buru-buru beranjak kembali ke teras dan melupakan rencana untuk meminta air minum. Bian yang melihat hal itu hanya bisa menghembuskan napas beratnya sambil menatap tajam ke arah sang istri. Sementara Revina hanya bisa tersenyum nyengir.


"Maaf, Mas. Aku lupa tidak memberitahu jika ada Angga dan juga Erin di rumah. Aku pikir kamu masih tidur, maaf ya." Kata Revina sambil memeluk Bian dari depan. Posisi wajahnya kini sedang menengadah menatap wajah Bian, masih dengan tersenyum.


"Hhhhh. Seharusnya tadi kamu bilang jika ada teman kamu, Dek. Aku kan jadi malu saat mereka melihat kita seperti itu. Mereka akan berpikir seperti apa tentangku nanti." Kata Bian sambil mendesahkan napas beratnya.


"Nggak usah khawatir, mereka juga sudah tahu kok kalau kamu sudah bucin banget sama aku." Jawab Revina sambil mencubit pipi Bian sebelum beranjak meninggalkannya untuk berganti baju. Sementara Bian, hanya bisa melongo sambil memperhatikan kepergian sang istri. 


Malam hari hingga keesokan paginya, Bian kembali merasakan hal yang sama seperti kemarin. Tubuhnya benar-benar lemas tak bertenaga hingga merasakan mual pada perutnya. Revina sempat kebingungan bagaimana dia akan berangkat ke kantor, sementara Bian tidak ada yang menjaga di rumah. Beruntung sang mama pagi itu datang ke rumah Revina dan Bian berniat untuk membawakan masakan spesialnya.


"Sejak kapan seperti ini, Rev? Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?" Tanya mama Fida saat melihat sang menantu yang terlihat berantakan sehabis dari kamar mandi.


"Kok aneh begitu, coba di bawa ke rumah sakit saja." Kata mama Fida.


"Nggak usah, Ma." Kali ini Bian yang bersuara. "Nanti juga mendingan."


"Nggak usah bagaimana?! Ini sudah lemas seperti orang habis melahirkan saja." Kata mama Fida.


"Ccckkk. Mana ada laki-laki melahirkan, Ma. Memangnya mas Bian hamil." Kata Revina sambil mencebikkan bibirnya.


Mama Fida yang mendengar perkataan Revina langsung membulatkan kedua matanya. Dia baru menyadari sesuatu setelahnya.


"Tunggu! Kamu bilang Bian kemarin merasa seperti ini hanya pagi hari, kan? Siang hari dia sudah merasa normal kembali?" Tanya mama Fida penuh harap.


"Eh, iya. Memang begitu. Ada apa, Ma?" Tanya Revina sambil menoleh menatap wajah sang mama.


"Kamu hamil, Rev?"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Satu part lagi end ya.