The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
Rean 59



Setelah melakukan panggilan telepon, Rean dan Dena langsung bersiap untuk beristirahat. Keduanya merasa sangat lelah dengan aktivitasnya seharian tadi.


Keesokan pagi, Rean langsung menghubungi sang istri. Dia tidak mau membuat Dena khawatir lagi seperti kemarin.


"Pai, Sayang. Sudah bangun?"


"Sudah. Ini bahkan sudah buat sarapan. Kamu sudah sarapan, Mas?" tanya Dena sambil mengangkat telurnya yang sudah matang.


"Belum. Nanti sarapan bareng Refan sebelum ke distro."


Dena tampak mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, mereka melanjutkan aktivitas hari itu. Dena harus ke kampus untuk mengambil surat tugas dan mempersiapkan keberangkatannya besok, sedangkan Rean harus kembali mengawasi pengerjaan renovasi distronya.


Hari keberangkatan Dena pun tiba. Dena dan tujuh belas dosen lainnya bergabung dengan para dosen dari kampus lainnya. Mereka bersama-sama akan mengikuti diklat yang diselenggarakan di Jogja tersebut selama lima hari.


Beruntung bagi Dena, Kinan sang sahabat juga ikut dalam diklat tersebut. Kinan adalah teman kuliah Dena. Mereka sama-sama mendaftar dosen di kampus yang sama, dan juga sama-sama diterima. Keduanya menjadi lebih akrab setelahnya.


"Aku kira akan sendirian, Kin," ucap Dena saat mereka sudah berada di dalam kendaraan menuju bandara.


"Aku juga nggak tahu jika namaku muncul, Den. Aku baru ngecheck saat melihat pesan di grup kemarin."


"Ck, dasar. Pasti hobi kamu ngedrakor nggak ada habis-habisnya." Dena mengerucutkan bibir saat menyadari hobi sang sahabat itu benar-benar sudah akut.


"Hehehe, mana bisa aku berhenti. Mereka terlalu menggoda untuk di skip." Kinan masih terkekeh sambil menutupi wajahnya.


Selanjutnya, obrolan mereka masih berlanjut hingga pesawat yang ditumpangi rombongan mereka mendarat dengan selamat di Bandara Adi Sucipto. Setelah itu, rombongan peserta diklat dijemput dengan menggunakan bus menuju tempat acara pelaksanaan diklat.


Dena yang sejak berangkat tidak melihat keberadaan Rama, dosen seniornya, dibuat terkejut saat mendapati keberadaannya di tempat acara diklat. Sebuah senyuman menyambut kedatangan rombongan Dena dan rekan sekampusnya.


"Eh, Pak Rama? Kok bisa ada disini?" Bukannya menjawab sapaan tersebut, Kinan justru balik bertanya. Sementara Dena masih sibuk menurunkan kopernya dan berdiri di samping Kinan.


"Ya ikut diklat juga, dong?" ucap Rama sambil masih mengulas senyumannya.


"Diklat? Kok tadi Bapak nggak ikut rombongan kita?"


Rama tampak mendesahkan napas ke udara sebelum menjawab pertanyaan Kinan. 


"Aku sengaja berangkat lebih dulu, karena harus mampir ke rumah. Sejak kemarin aku sudah berada dirumah orang tuaku," jelas Rama.


Kinan dan Dena sama-sama menganggukkan kepala. Mereka sudah tahu jika Rama memang berasal dari Jogja. Dan, orang tuanya pun juga tinggal di sana.


Setelah itu, Dena dan Kinan segera melakukan check in. Rama yang memang sudah check in sejak satu jam yang lalu, menawarkan bantuan untuk membawakan koper Dena. Namun, tawaran tersebut ditolak oleh Dena. Dia tidak mau terlalu berurusan dengan Rama.


Diklat yang diikuti oleh Dena dan yang lainnya, dijadwalkan akan dibuka pada pukul tujuh malam nanti. Kegiatan yang akan diselenggarakan selama lima hari tersebut, sudah memiliki jadwal sendiri-sendiri.


Acara kali ini, Dena dan Kinan menempati kamar yang sama. Saat itu, Kinan memang belum mengetahui perihal pernikahan Dena. Kinan juga tahu jika Dena selama ini tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun.


Hingga perhatian Kinan terusik saat sebuah pesan muncul pada layar ponsel Dena. Dena yang saat itu tengah berada di dalam kamar mandi, tidak mengetahui ada pesan yang masuk pada ponselnya.


Kinan menoleh ke arah ponsel yang bergetar di sampingnya. Netranya sempat membaca pesan yang muncul pada layar tersebut.


Sayang, kangen nih.