
Grep.
Gerakan refleks yang dilakukan oleh Adrian benar-benar membuat Kinan terkejut. Tubuh Kinan langsung bergeser dan menempel dengan sempurna pada tubuh Adrian. Bagaimana tidak, kali ini yang dilakukan Adrian bukan hanya rangkulan biasa yang membuat tubuh Kinan menempel di sampingnya. Namun, Adrian justru memutar tubuh Kinan hingga kini tubuh mereka benar-benar berhadapan dan Kinan berada di dalam pelukannya.
Tentu saja tindakan tiba-tiba Adrian tersebut membuat tubuh Kinan membeku. Dia cukup terkejut mendapati tindakan tiba-tiba Adrian.
Kinan yang berada di dalam pelukan Adrian, bisa dengan jelas mencium aroma tubuh laki-laki itu. Aroma maskulin yang benar-benar membuat Kinan panas dingin. Bahkan, saat itu jarak hidung Kinan hanya beberapa sentimeter dari leher Adrian.
Kinan bisa melihat dengan jelas jakun Adrian naik turun saat menelan salivanya. Saat itu, Kinan benar-benar tidak berani mendongakkan kepala untuk menatap wajah Adrian.
Selain itu, ada yang lebih dikhawatirkan oleh Kinan. Saat ini, dia lebih mengkhawatirkan keadaan jantungnya yang harus bekerja ekstra karena sedang berjumpalitan di dalam sana. Hal itu membuat Kinan was-was. Apalagi, saat ini tubuhnya benar-benar menempel dengan sempurna pada tubuh Adrian. Bisa dipastikan, Adrian ikut merasakan degup jantungnya yang memburu.
Adrian tidak melepaskan tubuh Kinan hingga para penumpang lift tersebut keluar di basement. Pelukannya baru terlepas saat pintu lift terbuka, dan para laki-laki tersebut keluar setelah melirik ke arah Kinan dan Adrian sekilas.
Adrian masih menatap para laki-laki tersebut dengan tatapan tidak bersahabat. Seseorang diantara mereka terlihat lebih tua. Mungkin, tak jauh berbeda dari usia Adrian.
Laki-laki yang paling tua menatap ke arah Adrian dengan ekspresi meremehkan. Namun, hal itu tentu saja tidak berpengaruh terhadap Adrian.
Setelah mereka keluar, Adrian melepaskan pelukannya dan langsung menarik Kinan keluar dari lift. Namun, saat baru beberapa langkah keluar dari lift, Kinan menghentikan langkah kakinya.
Adrian yang saat itu tengah menarik tangan Kinan, seketika ikut berhenti. Dia menoleh dan menatap Kinan yang masih diam tak bergerak. Keningnya berkerut.
"Ada apa?" tanya Adrian.
"Ehm, ka-kakiku lemas," jawab Kinan dengan sambil menunduk dan menggigiti bibir bawahnya. Rupanya, Kinan masih cukup terkejut dengan tindakan tiba-tiba Adrian di dalam lift tadi.
"Apa kamu sakit?" Adrian berbalik dan beringsut mendekat.
Kinan hanya menggelengkan kepala. Tidak mungkin kan dia mengatakan jika kakinya lemas hanya karena mendapat pelukan tiba-tiba dari Adrian? Itu hanya pelukan, bagaimana jika nanti tiba-tiba Asrian menciumnya, mungkin bisa pingsan, pikir Kinan.
Karena Kinan tidak juga bergerak, tiba-tiba Adrian langsung menunduk dan mengangkat tubuh Kinan ke dalan gendongannya. Adrian membopong Kinan dan langsung mendapat pekikan kaget dari Kinan.
"Aarrgggghhh. Apa yang kamu lakukan?" Karena terkejut, Kinan langsung melingkarkan kedua lengannya pada leher Adrian dan memeluknya dengan erat.
Eh, itu modus apa bagaimana ya? Othor kok bingung.
"Sudah diam. Aku harus segera mengantar kamu pulang," ucap Adrian sambil melangkahkan kaki menuju mobilnya.
Hingga beberapa langkah kemudian, Adrian sudah sampai di depan mobilnya. Dia segera membuka pintu mobil dan mendudukkan kinan di kursi penumpang. Setelah itu, Adrian juga membantu memasangkan seat belt Kinan.
Kinan hanya pasrah saat mendapati perlakuan Adrian. Mau membantu pun juga percuma. Kali ini, tidak hanya jantungnya yang tremor kencang, tapi tangannya juga ikut-ikutan.
Setelah selesai, Adrian segera menutup pintu dan berjalan memutar untuk menuju kemudi. Tak butuh waktu lama, Adrian segera menyalakan mobil dan langsung melajukannya menuju rumah Kinan.
Tidak ada kata yang terucap dari bibir keduanya. Hanya saja, Kinan masih sempat mencuri-curi pandang ke arah Adrian.
Bukannya tidak menyadari tingkah Kinan, namun Adrian hanya membiarkan apa yang dilakukan perempuan di sampingnya tersebut.
Namun, saat sudah berada di perempatan lampu merah, Adrian sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Kinan. Dia menoleh dan bertepatan dengan Kinan yang juga melirik ke arahnya.
"Kenapa? Kamu suka sama aku?"
"Hah, iya. Eh, a-anu…,"
\=\=\=
Anu apa hayo?