
Hari-hari pun berlalu. Rean dan Dena juga sudah menyelesaikan semua persyaratan pernikahan mereka. Undangan untuk keluarga dan kolega dekat pun juga sudah terkirim. Dena dan Rean, juga memutuskan untuk tidak mengirimkan undangan untuk temannya. Mereka memutuskan akan mengundang mereka saat diadakannya resepsi pernikahan yang entah kapan akan terlaksana.
Acara kali ini, hanya akan digelar ijab kabul saja, mengingat keluarga Dena dari pihak ayah, sedang berduka. Sementara untuk keluarga Dena dari pihak ibu, tidak ada yang diberi tahu. Mereka punya alasan sendiri untuk tidak memberitahu keluarga besar mereka tersebut.
Empat hari menjelang akad, Rean dan Dena dijadwalkan untuk fitting terakhir baju akad nikahan mereka. Kali ini, tidak seperti pasangan calon pengantin lainnya, mereka tidak datang bersama-sama. Dena yang masih ada jadwal di kampus, sedangkan Rean ada janji untuk menemui seseorang di distronya. Akan ada tawaran kerjasama baru untuk distro Rean.
Mama Revina sudah uring-uringan sejak tadi karena Rean tidak bisa dihubungi. Kini, kekesalan mama Revina dilampiaskan kepada papa Bian. Mama Revina langsung menghubungi papa Bian saat ponsel putranya tidak bisa dihubungi
"Hallo?" sapa papa Bian di seberang sana.
"Kemana saja sih, Mas? Lama sekali angkat teleponnya. Kamu sama anak kamu sama saja. Sudah tahu mana ada acara penting masih saja sulit dihubungi," gerutu mama Revina.
Papa Bian pun yang tidak mengerti apa-apa langsung menjauhkan ponselnya. Dia menatap ke arah layar ponsel untuk memastikan dia tidak salah mengangkat panggilan.
"Ada apa Dek? Apa maksudnya ini?" Papa Bian masih bingung.
"Kamu sama Rean kemana saja? Susah sekali dihubungi."
"Eh, aku kan kerja, Sayang. Aku di kantor ini. Kalau Rean, aku nggak tau kemana dia. Bukannya hari ini dia fitting baju terakhir, ya?"
"Justru itu. Dia nggak bisa dihubungi, Mas." Mama Revina masih terdengar menggerutu dari seberang sana.
"Coba kamu hubungi Dandi. Siapa tau Rean bersama dengannya."
"Sudah, Mas. Kata Dandi, Rean tadi mau ke distro. Katanya ada janji temu dengan orang yang menawari kerja sama. Tapi, waktu aku telpon Adit, dia tidak ada di distro. Kamu cariin dia, Mas."
"Eh, mana bisa aku cariin Rean, Yang. Aku kan kerja."
"Jika kamu tidak segera cariin Rean dan membawa ke butik sekarang. Jangan harap aku mau kamu ajak makan es cream!"
"Aku berangkat sekarang, Yang. Kamu tunggu saja di rumah yang anteng. Aku pasti akan menemukan Rean dan membawanya ke butik sekarang."
Mama Revina masih mendengus kesal saat mematikan ponselnya. Sementara itu, papa Bian segera mencoba menghubungi Rean. Namun, ponselnya tidak aktif. Dia mendadak panik saat mendengar ancaman sang istri.
Dan, benar sekali. Hari itu memang Mayor C mengadakan pertemuan dengan Rean. Owner tersebut juga memberikan nomor ponsel orang yang bertugas untuk menemui Rean. Setelah mendapat informasi tersebut, papa Bian langsung menghubungi karyawan Mayor C. Dari sana diperoleh informasi jika Rean baru saja pergi dari restoran dan hendak pergi ke butik.
Papa Bian langsung menghubungi mama Revina dan memberikan informasi tersebut. Mama Revina merasa cukup lega setelahnya.
Tak terasa hari yang ditunggu-tunggu pun sudah semakin dekat. Shanum dan si kembar, sudah sejak dua hari yang lalu menginap di rumah mama Revina. Malam itu, Rean tamoak membantu sang kakak menemani Drew dan Dry.
"Kak, ini popok Drew sepertinya sudah penuh deh," kata Rean yang memang sejak tadi main dengan duo keponakannya tersebut.
Shanum yang saat itu tengah membantu sang mama langsung beranjak berdiri. Dia memeriksa popok Drew yang memang ternyata sudah penuh.
"Kamu benar, Re. Aku ganti dulu," kata Shanum sambil beranjak berdiri untuk mengganti popok Drew.
"Biar aku saja kak, hitung-hitung belajar, hehehe."
Shanum menghentikan langkah kakinya saat hendak menuju tempat popok kedua putranya berada. Dia menoleh menatap wajah sang adik yang terlihat sedang tersenyum nyengir.
"Maksud kamu belajar jadi orang tua?"
"Iya lah, Kak. Memangnya mau jadi apa jika dua orang sudah menikah, masa iya jadi ibu dan anak. Hahahaha," Rean langsung tergelak setelah menanggapi perkataan sang kakak.
Shanum hanya bisa mencebikkan bibirnya. Namun, dia tetap membiarkan sang adik untuk menggantikan popok Drew sambil masih mengawasinya.
"Ini benar begini kan, Kak?" tanya Rean sambil berusaha memasangkan popok Drew.
"Iya. Awas jangan kebalik, pancurannya kan di depan, jika kebalik merembes nanti."
"Cckkk masih kecil ini paling juga nggak seberapa. Beda jika sebesar belalai gajah. Hahahaha."
"Mana ada yang sebesar belalai gajah. Kalaupun ada, kandangnya selebar apa nanti?"