The CEO'S Proposal

The CEO'S Proposal
S3 TCP Part 122



Malam itu, Cello mengajak Shanum berbicara setelah mereka berhasil menidurkan kedua buah hatinya. Cello mengajak Shanum untuk berbicara sambil berselonjor di atas tempat tidur.


"Sebenarnya ada apa, Mas? Kenapa beberapa hari ini sepertinya ada yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Shanum sambil mendongakkan wajahnya hingga menatap wajah Cello. Tangan kirinya masih bermain-main pada kancing kaos sang suami.


"Ehm, sebenarnya bukan aku berniat menyembunyikan sesuatu, Yang. Hanya saja, aku masih mencari waktu yang tepat untuk membicarakannya denganmu."


"Eh, membicarakan apa? Apa ada masalah, Mas?"


"Nggak ada kok, Yang. Ehm, sebenarnya begini, beberapa hari yang lalu daddy mengajakku berbicara. Daddy menginginkan aku untuk mengelola perusahaan cabang baru. Namun, sebelum aku masuk ke perusahaan, aku harus mengikuti pelatihan dulu di Kanada. Ehm, menurut kamu bagaimana, Yang?"


Seketika Shanum mengangkat tubuhnya hingga kini dia sudah berpindah posisi hingga terduduk. Kini, Shanum dan juga Cello duduk saling berhadapan dengan tatapan saling terkunci.


"Harus ikut pelatihan kesana, Mas?" tanya Shanum memastikan.


"Iya. Perusahaan kita sudah mulai merambah wilayah Asia, Yang. Kita harus bisa bersaing dengan perusahaan di luar sana. Kenapa harus ikut pelatihan? Karena kita perlu belajar bagaimana cara mengelola perusahaan seperti perusahaan internasional. Kita juga akan terjun langsung untuk bekerja di perusahaan internasional," jelas Cello.


Shanum mengerutkan keningnya. Dia masih bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, dia ingin sang suami bisa maju. Namun, disisi lain Shanum juga tidak ingin berpisah jarak dengan Cello. Mengetahui kemungkinan seperti itu, entah mengapa produksi air mata Shanum langsung deras. Kedua bola matanya langsung berkaca-kaca saat membayangkan dia akan berpisah sementara dengan sang suami.


Cello yang melihat hal itu langsung mendekap tubuh sang istri sambil mengusap-usap punggungnya. Dia sebenarnya juga tidak tega meninggalkan istri dan kedua putranya yang masih sangat kecil. Namun, dia juga bingung harus bagaimana.


Shanum berusaha memahami apa yang disampaikan oleh sang suami adalah untuk masa depan mereka bersama. Dia tidak boleh egois hanya memikirkan diri sendiri sementara sekarang mereka sudah memiliki dua orang putra.


Shanum melepaskan pelukannya kepada Cello dan menatapnya dengan wajah yang penuh dengan air mata. Cello buru-buru menghapus jejak air mata tersebut sambil memberikan beberapa kecupan pada bibir sang istri.


"Berapa lama, Mas?" tanya Shanum dengan suara seraknya menahan tangis.


"Enam bulan sampai satu tahun, Yang. Itupun jika cepat. Jika belum selesai, bisa sampai dua tahun," jawab Cello. Dia bisa melihat kesedihan pada wajah sang suami.


"Lalu, bagaimana dengan aku dan anak-anak kamu, Mas?" tanya Shanum masih dengan menatap lekat wajah sang suami.


"Kalian bisa menyusul ke sana jika usia twins sudah bisa diajak naik pesawat, Yang. Kita bisa tinggal di sana bersama-sama," jawab Cello sambil berusaha tersenyum untuk menenangkan sang istri.


Setelah mendengar perkataan Cello, Shanum merasa sedikit lebih lega. Wajahnya tidak semurung tadi.


"Benarkah? Kami bisa menyusul kesana, Mas?" tanya Shanum antusias.


Cello pun langsung mengangguk mengiyakan pertanyaan Shanum. Dia tidak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya saat melihat Shanum tersenyum.


"Tentu saja, Sayang. Kalian harus segera menyusul kesana jika usia twins sudah bisa diajak bepergian. Nanti aku akan meminta mommy untuk mencarikan baby sitter yang bisa kita ajak kesana sekalian."


Shanum langsung mengangguk mengiyakan. Dia merasa sedikit lebih lega saat mendengar jawaban sang suami.


"Lalu, kapan perkiraan berangkat, Mas?"


"Kalau menurut jadwal, gelombang pertama akan mulai berangkat akhir bulan depan. Akan ada tiga gelombang nanti. Aku hanya bisa berharap agar berangkat pada gelombang ketiga. Dengan begitu, kita bisa langsung berangkat bersama-sama tanpa harus menunggu twins lebih besar."


Shanum kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia sudah cukup tenang sekarang. Shanum juga memiliki harapan yang sama. Jika Cello harus benar-benar berangkat ke Kanada, setidaknya dia dan kedua putranya bisa ikut.


"Lalu, kuliah kita bagaimana, Mas?"


"Kita akan mengajukan cuti kuliah. Tapi, ada banyak pilihan untuk hal itu. Jangan terlalu dipikirkan."


Shanum mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia kembali merebahkan diri pada dekapan sang suami. Hal yang paling disukai oleh Cello adalah saat Shanum memeluknya dari depan dan mulai menggerak-gerakkan tubuhnya hingga membuat sensasi tersendiri baginya.


Namun, belum sempat mereka mau ngapa-ngapain, terdengar tangisan Drew dari box bayinya.


"Kenapa anak kamu selalu tahu jika orang tuanya mau ngapa-ngapain sih, Mas."